Dalail Khairat: Warisan Untuk Generasi Terbaik

Dalail[l1]  Khairat: Warisan Untuk Generasi Terbaik

“Boten usah mamang, Dalail Khairat ingkang langkung manjur, sing dipasani ngantos pirang-pirang tahun. Enome riyalat, tuwane nemu derajat”. 

Demikian petikan tausyiyah KH Ahmad Basyir dalam mauidhoh yang beliau sampaikan dalam acara Maulid Nabi Muhammad dan Haul Dalail Khairat tahun ini di Ponpes Darul Falah Jekulo.

Dalam kesempatan itu KH. Ahmad Basyir menyebutkan sebuah keterangan dalam kitab Sulam Munawwaroq: “Qad ajma’a. anna as shalawat maqubualtan qhat’an. (Telah disepakati oleh para ulama’ bahwa shalawat pasti diterima oleh Allah). “Mulane ojo podo mamang, mesti ketompo,” tegas beliau.

Dari Pahala, Jalbu Al Rizqi Hingga Tameng “Anti Neraka”

KH. Ahmad Basyir, selaku mujiz Dalail Khairat, dalam kesempatan akbar itu memberikan keterangan bahwa puasa Dalail Khairat termasuk fadhailul a’mal yang menjanjikan pahala berlipat.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa Dalail Khairat merupakan wasilah yang “manjur” untuk ikhtiyar kelancaran rizqi. Beliau mendedahkan kandungan sebuah hadits . (barang siapa yang mengalami kesulitan, maka bacalah shalawat kepadaku (Rasulullah), sesungguhnya shalawat itu meneguhkan motivasi, sedangkan motivasi melimpahkan rizqi)”.

Dalam keterangan hadits lain dijelaskan, (tidak ada satupun doa yang dipanjatkan kecuali di antara Allah dan doa itu terdapat hijab/penghalang).  Kunci untuk membuka penghalang itu adalah shalawat. “Angger diwacakno shalawat, betol kabeh, (Jika dibacakan shalawat, semua hijab itu akan runtuh)” tegas beliau.

Sebuah riwayat hadits juga beliau sampaikan dalam momen ini, bahwa Rasulullah pernah didatangi empat malaikat, yakni Jibril, Mikail, Israfil, Izrail. Dalam pertemuan itu, Jibril berkata: barang siapa yang membaca shalawat sebanyak sepuluh kali, maka aku akan menuntunnya dan menggendongnya saat di Shirot al mustaqim nanti.  Mikail: aku akan memberinya minum dari telaga Kautsar, maka ia tak akan merasakan dahaga selamanya. Isrofil: aku akan bersujud kepada Allah, dan aku tak akan mengangkat kepalaku, hingga Allah berkenan mengeluarkan setiap orang yang membaca shalawat dari neraka. Izroil: “Aku akan mencabut nyawanya sebagaimana aku mencabut nyawa para nabi.

Dalam kesempatan ini, beliau menjelaskan hadits “barang siapa yang berpuasa tahunan, maka neraka jahannam tertutup untuknya. Seandainya seorang telah divonis masuk neraka, namun karena ia ahli puasa Dalail, maka ia tak jadi masuk neraka karena neraka sudah disempitkan untuknya. “nerakane wes ora kamot (nerakanya sudah tidak muat)” ujar beliau di sela-sela maiudhohnya.

Tradisi Salafus Sholih

Lebih lanjut KH Ahmad Basyir menjelaskan sebuah keterangan dalam syarah Ihya Ulumuddin bahwa tidak sedikit di antara para sahabat yang melakukan puasa dahr, di antaranya adalah para sahabat nabi seperti Abu Musa al Asya’ri,  dan Abu Hurairah. Dari golongan tabi’in di antaranya Imam Hasan Bisri dan tabiat, yakni Rabiah Al Adawiyyah.

Keterangan sebuah hadits dalam kitab karangan syaikh Abdul Qodir Al Jilani menyebutkan bahwa setelah wafatnya nabi, Siti Aisyah pernah berkata: “Sekarang tidak ada yang saya ladeni, dan Rasulullah pernah bersabda bahwa barang siapa yang berpuasa dahr, maka neraka jahannam ditutup untuknya”. Setelah masa itu, Siti Aisyah mulai berpuasa dahr.

Riwayat ini dikuatkan dengan kesaksian sahabat Abu Tolhah: “Saya benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri (bi ‘ainai ro’si), Sayyidatina Aisyah ketika nabi masih hidup tidak pernah puasa, hanya ngladeni Rasulullah, sedang semenjak Rasulullah wafat,  Siti Aisyah tidak pernah ifthor (tidak berpuasa). Tidak ada seharipun (hari yang diperbolehkan berpuasa) dilewatkannya kecuali dalam keadaan berpuasa.

Dari keterangan ini, KH. Ahmad Basyir menegaskan kepada para hadirin bahwa orang besar sekalipun, bahkan sekalipun Siti Aisyah yang telah dijamin masuk surga, mereka benar-benar takut dengan jahannam. “Boten kados kito, wedine namung ing lambe,” tegas beliau.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa di antara para sahabat yang melakukan puasa dahr, salah satu di antaranya pernah disuruh oleh nabi untuk menghentikan puasanya. Ia adalah Saad Bin Ash. Masa mudanya tidak pernah dilewatkan kecuali untuk beribadah, bermujahadah kepada Allah. Kesehariannya adalah dzikir, sholat malam, I’tikaf. Selama sepuluh tahun, tidak ada satu haripun yang ia pernah lewatkan dalam keadaan tidak berpuasa.

Lakon ini dialaminya hingga suatu ketika ia menikah dengan Hindun. Pasca pernikahannya dengan Hindun, Saad masih seperti sedia kala, tak ada yang berubah. Ia benar-benar memegang teguh sabda nabi “Khoirul umur, adwamuha” (sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan secara dawam, kontinu) Setiap hari ia selalu berpuasa, setiap malam rutinitasnya adalah dzikir dan sholat malam. Seakan tidak ada waktu yang “spesial” untuk Hindun.

Baca juga :  Santri Millenial: Ngaji, Ngabdi, dan Berteknologi

Tiga bulan sudah pernikahan Hindun dengan Saad berlangsung. Selama hitungan waktu itu, tidak ada yang dirasakan Hindun kecuali rasa kesepian yang begitu “menyiksa”. Hindun pun mengadu pada Rasulullah, tentang suaminya yang seakan tak memerdulikannya. Siang ia berpuasa, malamnya tahajjud. Tidak ada “jatah” untuk Hindun. “bagaimana dengan saya?” demikian keluh Hindun.

Mendengar keluh kesah Hindun itu, Rasulullah menitipkan pesan kepada Bilal Bin Rabah agar Saad Bin Ash menghadap nabi. Singkat cerita, Saad diperintahkan untuk menghentikan puasanya. Ia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

Kisah ini memberikan pesan moral bahwa puasa dan segala macam bentuk mujahadah adalah baik adanya. Terbukti, Rasulullah tidak melarang para sahabat untuk melakukan puasa dahr. Namun, dalam kasus Saad dan Hindun, karena terdapat kepentingan atau lebih tepatnya kewajiban di luar puasa, maka Rasulullah menyuruhnya untuk menyudahi puasa yang ia sedang jalani.

Ini artinya, pengamal puasa harus cermat memilah prioritas dalam kehidupan, mana yang lebih penting, lebih mendesak, dan mana yang dapat ditunda untuk memenuhi tuntutan yang lebih utama.

Makhluk Teristimewa

Dalam kesempatan yang sama, KH Ahmad Basyir juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling isitimewa, baik di hadapan Allah maupun seluruh makhluk. Hal ini dipertegas oleh nash al Qur’an  Jika ummatnya saja menempati predikat yang paling mulia, tentu nabinya jauh lebih mulia.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hidup dan wafatnya Rasulullah adalah yang terbaik untuk ummatnya. Selain itu, disebutkan pula dalam sebuah hadits Kemuliaan yang ada pada diri Nabi itu diapresiasi oleh Allah. Allah membaca shalawat khusus untuk Nabi Muhammad, demikian halnya dengan para malaikat. Maka, Allah memerintahkan manusia untuk membaca shalawat kepada Rasulullah. Ini sebagaimana tercantum dalam Alqur’an. Argumentasi lain yang diungkap Romo Yai adalah, penyebutan nama Rasulullah dalam ibadah. Shalawat atas Rasulullah menjadi salah satu rukun dalam tahiyyat. Dan, shalawat ini hukumnya wajib, jika tidak dibaca maka tidak sah. Artinya bahwa penghormatan atas Rasulullah dengan shalawat bahkan menjadi syarat keabsahan sholat, yang merupakan ibadah paling urgen. Konsekuensi ini, dalam pandangan KH. Ahmad Basyir, sebagaimana hadits Rasulullah “

Ahli Waris Nabi

Kesempurnaan risalah islamiyah yang disampaikan oleh Rasulullah menjadi “harta” warisan yang tiada tara bagi ummatnya. Estafet perjuangan Rasulullah dalam mengayomi ummat pasca wafatnya Rasulullah, diteruskan oleh par ulama. Mereka adalah para umat terbaik yang diwariskan Rasulullah untuk mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Seperti dijelaskan oleh KH. Ahmad Basyir, ulama memiliki kualifikasi sepadan dengan para nabi bani Israil. Mereka menyandang kualitas diri yang mumpuni. Dalam diri mereka mengalir karomah yang tak pernah teputus oleh batasan ruang dan waktu. Karomah para ulama, para auliya’, tetap memancar meski mereka telah “berpindah ruang” ke alam barzakh.

KH Ahmad Basyir bertutur bahwa Imam ali al wurosy berkata: “Roaitu arbaatan minal masyayikh, yatashorrofuna fil qobri tashorrofunal ahya. (Aku melihat empat masyayikh yang berperangai seperti orang yang masih hidup). Keempat ulama itu adalah, Syaikh Abdul Qodir Jailani,  Syaikh Maruf Al Karhi, Imam Ukail, imam Wali Qutub al Huzaini, dan Imam Hayat Bin Kais Al Karoni.

Selain para ulama tersebut, lanjut KH. Basyir, di antara para wali yang karomahnya masih mengalir meski telah “berpindah tempat” adalah simbah Suryo Kusumo, Mejobo. Beliau telah wafat ratusan tahun yang lalu. Al kisah, salah seorang santri Simbah Sanusi, setiap sore menangis di atas maqbaroh Simbah Suryo. nangis gone mbah suryo. “Simbah Sanusi didawuhi, putumu iku lho Thoha, angger sore nangis neggonku, iku lungokno kaji. Insyaallah pangestune eyang Suryo”. Demikian KH. Ahmad Basyir bertutur kisah dalam mauidhohnya [Diambil dari majalah manhaj, majalah Ponpes Darul Falah Jekulo, edisi Dalail al-Khairat tahun 2010].


 [l1]Masuk forlder Kajian

%d blogger menyukai ini: