Do’a

Betapa, hidup dan kehidupan dibangun dalam serakan do’a-do’a. Do’a menjadi kata, yang mewakili kehendak-kehendak, harapan-harapan yang berkelindan. Untuk umur panjang orang berdo’a, untuk rejeki yang melimpah, untuk pasangan yang saleh atau saleha, mendapat keturunan yang baik, dan diantarkan ke pintu surga setelah dipanggil mati, semuanya dibangun dengan do’a-do’a.

Orang-orang kecandunan dengan do’a, sehabis sholat, saat berada di tempat-tempat suci, di waktu-waktu istimewa, saat terjepit kesulitan, didera musibah, di pidato-pidato, bahkan surat resmi lembaga, orang-orang terus mengucapkan, menulis do’a. atau yang tak fasih berdo’a, mereka minta didoakan, supaya musibahnya segera usai, agar rizkinya lancar, jodohnya dekat, keluarga dan semua miliknya selamat.

Orang-orang lantas mencari-cari do’a-do’a yang “manjur”, tok cer, doa-doa yang membawa keramat. Orang-orang menghafalkan do’a-do’a, do’a ini dan itu, untuk keperluan itu dan ini. Yang saleh berdo’a, yang “abangan” juga berdo’a, bahkan boleh jadi koruptor saat dalam situasi terdesak tuduhan, juga masih sempat berdo’a, “Tuhan, bantu aku keluar dari jerat hukum ini,” katanya.

Do’a, menjadi ekspresi religius semua kalangan. Yang hitam-putih, suci-kotor, tua-muda, susah-senang, orang-orang berdo’a. Do’a mewakili sisa-sisa gairah spiritual umat manusia.

Do’a, yang menjadi ruang peraduan, suasana untuk menghadap. Do’a, yang mengajari umat untuk kembali dan terus ingat dengan Tuhannya, mengingat dalam do’a-do’a. Do’a, ketika kita berupaya untuk bersua dengan Tuhan.

Do’a, yang menyimpan misteri kelam tak terpecahkan. Do’a yang menjadi teka-teki, puzzle Tuhan yang tak dapat ditebak. Do’a, yang selalu menyisakan tanya, dikabulkan atau tidak dikabulkan? Dan jawabnya selalu dikabulkan sebelum do’a itu usai dipanjatkan.

Orang boleh memaknai do’a sebagai harapan, tapi ini artinya memaknai do’a sebagai sebuah keserakahan. Do’a yang mengharap imbalan, untuk berhasil ini dan itu, diberi sesuatu yang begini dan begitu. Bukan, do’a bukan “transaksi” antara umat dengan Tuhan. Do’a tidak sesederhana seperti orang “request” lagu di sebuah siaran radio, dan menunggu untuk diputarkan. Kita bukan pendengar radio, dan do’a-do’a itu bukan nyanyian yang kita mintakan untuk diputar. Do’a bukan sekadar meminta, untuk mendapat sesuatu yang kita ingini.

Baca juga :  Workshop Penulisan Risalah Keulamaan Ulama Indonesia

Keliru, memaknai do’a sebagai permintaan, atau dengan kalimat yang lebih sederhana: tidak tepat. Jika do’a adalah harapan, berarti Tuhan hanya akan memberi saat diminta dan diharap. Tidak, Tuhan memberi segalanya, bahkan sekalipun kita tidak pernah meminta.

Do’a adalah jembatan penghubung yang ilahi. Do’a menjadi komunikasi operatif. Do’a adalah keniscayaan untuk terus mengingat yang memiliki Kuasa untuk “menyeleksi” do’a.

Do’a adalah jalan untuk menemukan Tuhan dalam segala riuh ruang hidup; susah-senang, manis-pahit. Do’a tidak hanya menjadi “batu loncatan” saat seorang hamba didera kesulitan.

Do’a adalah sebuah jalan mencari jati diri. Do’a adalah terapi yang melatih diri untuk terus dan tidak pernah putus menghubungkan diri dengan Dzat Yang Maha Meliputi.

Do’a adalah sebuah ekspresi sufistik penghayatan iman. Do’a adalah pengakuan tentang kelemahan, kekalahan, ketakberdayaan, kemiskinan, dha’if, yang tak punya sedikitpun ruang kuasa atas kekuasaan yang adikuasa, Tuhan. Do’a adalah ekspresi tauhid, dari yang hadir terus-menerus untuk mengakui dan mencari Tuhan.

Do’a bukan puisi, bukan kata-kata indah yang tersusun rapih dalam kalam seribu bahasa. Do’a bukan “aku meminta, memohon, memelas”. Do’a bukan “rayuan”, karena Tuhan tidak butuh dirayu. Do’a adalah imajinasi tauhid yang puncak, yang mengakui kelemahan di bawah kuasa Yang Maha Besar.

Do’a adalah imajinasi tentang kebaikan. Do’a adalah komitmen untuk berbuat yang selalu berusaha berjalan di atas kehendak Tuhan. Do’a adalah kerendahan agar tak menjadi takabur. Do’a adalah “alarm” yang mengingatkan pada Yang Berkehendak. Do’a adalah  rintihan hati yang merindu. Do’a adalah rintih kalbu untuk merayakan “kemesraan” dengan Tuhan.

Do’a adalah melumuri diri dengan pancaran Tuhan. Do’a adalah membersihkan jiwa dari keruh nista. Do’a adalah kode untuk tidak menjadi lupa. Do’a adalah bukan keinginan, bukan permintaan, apalagi hasrat materialis. Do’a adalah mencari Tuhan, bersua dengan Tuhan, dan hasrat kebaikan untuk terus berjalan diatas jalan yang dibentangkan Tuhan. Do’a adalah jalan menuju Dzat yang menjadi peraduan, Allah Azza Wa Jalla (admin web)

%d blogger menyukai ini: