Skripsi Santri, Wajib!

Skripsi Santri, Wajib!

Pesantren sudah waktunya membangun tradisi kepenulisan, sebagai metodologi belajar sekaligus media dakwah berbasis masyarakat. Contoh sederhana, menerbitkan majalah atau buletin. Ini akan menjadi ruang dakwah pesantren di tengah masyarakat luas.

Namun, tidak cukup dengan majalah, karena media ini kurang akomodatif untuk menampung pemikiran pesantren secara utuh, seperti majalah Manhaj ini. Target selanjutnya adalah membangun peradaban buku. Pesantren Darul Falah sudah waktunya mulai merangkai tradisi keilmuannya menjadi mahakarya yang dapat diterima masyarakat berbagai kalangan, dari yang awam hingga akademisi. Akan sangat membawa manfaat sekaligus membanggakan, jika setidaknya satu tahun sekali, pesantren mampu menerbitkan satu judul buku.

Persoalannya kemudian, siapa yang akan menjadi lakon dalam agenda kreatif ini? Tidak lain, adalah santri. Menjadi menarik dan menantang, misalnya, para santri calon wisudawan takhassus wajib membuat “munaqosah”, atau semacam skripsi berbasis kitab kuning.  Ini akan menjadi gerakan baru yang luar biasa bagi pesantren.

Yang diperlukan dalam program kreatif ini tidak muluk-muluk. Sumber daya manusia di pesantren pada umumnya memiliki kualifikasi keilmuan yang mumpuni. Hanya saja kebanyakan mengalami kendala dalam cara kepenulisan. Masalah ini akan selesai hanya dengan memberikan pelatihan kepenulisan ilmiah, metodologi penelitian berbasis literasi, dan selesai. Ilmu, hafalan, hasil diskusi yang mereka dapatkan setiap hari di ruang kelas takhassus itu siap untuk ditulis, diterbitkan dan disuguhkan kepada masyarakat.

Sepertinya angan ini terkesan sulit. Namun, lebih sulit mencari alasan untuk menunda-nunda gagasan ini. Kita hanya butuh sedikit keberanian (Widi/Lembaga Pers Santri FIKRO, Ponpes Darul Falah)

Baca juga :  Pengasuh Sebagai Pengemban Amanah Orang Tua
%d blogger menyukai ini: