1,5 Jam Bersama Pak Slamet Hambali

Senin (18/11), asrama putra peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) Ilmu Falak Kementrian Agama RI mendapat kehormatan dengan datangannya tamu istimewa. Beliau adalah Bapak KH. Slamet Hambali, M.Si, salah seorang pakar falak di Indonesia. Dalam suasana santai, Dosen Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini mengajak diskusi para peserta mengenai banyak hal terkait ilmu falak.
Tema utama yang diangkat dalam diskusi ini adalah pembuktian rumus Julian Day. Walaupun suasana malam diguyur hujan sejak sore, para peserta PKU ilmu falak tetap semangat dalam memencet tombol kalkulator dalam analisis perhitungan dengan bimbingan Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Jawa Tengah, Bapak KH. Slamet Hambali, M.Si.
Julian Day (JD) didefinisikan sebagai banyaknya hari yang telah dilalui sejak hari Senin tanggal 1 Januari tahun 4713 SM (sebelum Masehi) pada pertengahan hari atau pukul 12:00:00 UT (Universal Time) atau GMT. Perlu diingat, tahun 4713 SM tersebut sama dengan tahun 4712.  Pemahaman terhadap Julian Day sangat penting. Julian Day menjadi syarat untuk menghitung posisi benda bulan, matahari dan planet-planet yang selanjutnya dipakai untuk menentukan bulan baru, waktu shalat dan lain-lain. Julian Day juga menjadi dasar untuk menentukan fenomena alam seperti menentukan kemiringan orbit rotasi bumi, menghitung kapan terjadinya ekuinoks, solstice, dan sebagainya. JD dapat pula digunakan untuk menentukan selang waktu antara dua tanggal.

Diskusi berlangsung cukup menarik. Para peserta PKU Ilmu Falak yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia ini sesekali melontarkan pertanyaan dan ide terkait materi yang diberikan. Kondisi umur sebagian peserta yang sudah di atas rata-rata tidak menghalangi mereka untuk berhitung cepat dengan peserta lain yang didominasi oleh kawula muda. Kegiatan yang rencanya akan dirutinkan tiap pekan sekali ini cukup membantu para peserta PKU Ilmu Falak dalam pengembagan keilmuan mereka.

Baca juga :  Halaqoh : Santri Melek Politik

Pada akhirnya diskusi ditutup dengan pembahasan sekilas tentang pengukuran arah kiblat dengan theodolit dan istiwa’ain, yang mana prinsip kerja keduanya adalah sama, yaitu menggunakan nilai azimut matahari. Sekitar pukul 21.30, Bapak KH. Slamet Hambali mengakhiri diskusi bertepatan dengan hujan yang sudah cukup reda.

 (Ibnu Sutopo Yuono)

%d blogger menyukai ini: