Mau atau Tidak?

Hadiah 1 Milyar

Mari kita berandai-andai sejenak,

Ada pengumuman dari Istana Kepresidenan di Jakarta. Isinya tentang pernyataan Pak Presiden yang akan bagi-bagi hadiah untuk warganya. Hadiahnya berupa uang tunai senilai 1 Milyar Rupiah per kepala. Ngimpi kali? Jangan diprotes dulu, namanya juga berandai-andai. Syaratnya? Syaratnya hanya: harus datang sendiri ke Jakarta dan tidak boleh diwakilkan.

Bisa ditebak, banyak orang akan berbondong-bondong pergi ke Istana Negara untuk mendapatkan hadiah uang 1 Milyar itu. Ya, tidak peduli ia berasal dari Klaten, Yogyakarta, Semarang, Jombang, Surabaya, Bandung dan lain-lain. Pokoknya ia akan berusaha untuk datang ke Istana Negara. Orang yang punya banyak duit, tinggal naik pesawat, satu atau dua jam sampai, cepat dan enggak capai. Orang duitnya agak banyak, ya naik kereta eksekutif, enam atau tujuh jam sampai. Orang yang punya duit tapi pas-pasan, ya mungkin naik kreta ekonomi atau bus, dua belas jam sampai. Capai? Lumayan. Orang yang uangnya kembang kempis dan hanya punya sepeda onthel atau motor butut gimana? Ya, tinggal mau atau tidak. Kalau mau, sampai juga walau ngos-ngosan. Kalau orang yang hanya modal kaki dan sandal jepit gimana? Sekali lagi, mau tidak dapat uang 1 Milyar? Kalau mau, bisa saja walau mungkin sampainya tahun depan dan mungkin ada acara pingsan di jalan. Intinya kalau mau, pasti akan sampai.

Kata kuncinya adalah “Mau atau Tidak?”

 

Al-Qur’an adalah sebaik-baik yang kita cari

Ada firman Allah yang sangat indah dan harus kita renungkan, yaitu:

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu (Al-Qur’an) adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 57-58)

Ada orang yang setengah mati mencari dan mengumpulkan gelar. Ada juga orang yang mati-matian mencari dan mengumpulkan harta. Namun, semuanya itu tidak lebih baik dari orang yang mencari dan mengumpulkan al-Qur’an. Artinya, mengumpulkan al-Quran di dalam dadanya dengan menghafalnya.

Dari cerita andai-andai yang di atas, al-Qur’an tentu lebih baik dan lebih layak untuk dicari dan dikumpulkan di dalam dada melebihi uang 1 Milyar. Pertanyaannya sekarang adalah “Mau atau Tidak” menghafal Al-Qur’an?

 

Al-Qur’an mudah dihafal bagi yang mau

Mari resapi firman Allah berikut ini:

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17)

Ibnu Abbas r.a berkata,”Kalau bukan karena kemudahan yang diberikan Allah kepada manusia niscaya tidak ada seorang pun yang bisa membaca Kalamullah.”[1]

Baca juga :  Kyai sebagai Akar Budaya Damai Dunia dan Bangsa (Pendidikan Modelling dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar) / Cultural Perspective

Al-Imam Al-Qurthubi tatkala menfsirkan ayat ini, beliau berkata:

أي سهلناه للحفظ وأعنا عليه من أراد حفظه، فهل من طالب لحفظه فيعان عليه؟

Artinya: “Maksudnya, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, dan Kami membantu orang yang ingin menghafalnya. Maka adakah orang yang memohon agar ia dapat menghafal Al-Qur’an sehingga ia mendapat pertolongan untuk itu?”[2]

Nah, jelaskan? Bagi orang yang punya kemauan, niscaya ia akan mendapat pertolongan dari Allah untuk menghafal Al-Qur’an. Masalahnya tinggal “Mau atau Tidak?”

 

Bagaimana kalo kita kecerdasannya pas-pasan atau kita ini orang yang super sibuk?

Pesimis amat? Kata kuncinya adalah “Mau atau Tidak?”. Mari tengok ulang kisah Hadiah Uang 1 Milyar di atas. Orang yang punya banyak duit, ibarat orang yang jenius. Ia bisa sampai di Jakarta dengan cepat karena naik pesawat. Pesawat itu diibaratkan otaknya, sehingga ia mungkin bisa menghafal Al-Qur’an 4 atau 5 bulan.

Orang yang duitnya agak banyak, ibarat orang yang cerdas. Otaknya diibaratkan kereta eksekutif, bisa hafal al-Qur’an satu tahunan. Orang yang punya duit tapi pas-pasan, otaknya diibaratkan kereta ekonomi atau bus. Standar orang menghafal al-Quran, dua atau tiga tahun. Lumayan asik, tidak lebih lama dari belajar di SD atau SMP.

Orang yang uangnya kembang kempis, diibaratkan orang yang agak tulalit. Untuk menghafal Al-Qur’an ibarat naik sepeda onthel dari Surabaya ke Jakarta. Capainya minta ampun. Sudahlah, sampai insyaAllah. Mungkin butuh waktu lima atau enam tahun atau bahkan lebih untuk bisa hafal al-Qur’an, yang penting sampai.

Bagaimana dengan orang yang jalan kaki dari Semarang? Susah nyari permisalannya. Anggap saja orang itu adalah orang yang super sibuk, masih kuliah, jadi pengurus pondok, ikut kursus menjahit dan komputer, kursus lima bahasa, jadi aktivis kampus, jadi pak atau bu satpam misalnya, atau sudah punya istri dan anaknya delapan plus jadi pak camat misalnya. Tentu sibuk kan? Apa bisa menghafal Al-Qur’an? Jawabnya adalah BISA, walaupun sangat capek memang. Tapi sekali lagi BISA, tinggal kata kuncinya “Mau atau Tidak?”

 

Wasiat Nabi Muhammad SAW

Sebagai penutup, ada wasiat Nabi yang sangat bagus untuk diamalkan dan menjadikan  kita sebagai manusia yang sukses dunia akhirat. Nabi memberikan wasiat:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

Artinya: “Bersemangatlah dalam menggapai sesuatu yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah kepada Allah dan jangan lemah..”(HR.Muslim)

 

Allahu A’lam. Semoga bermanfaat.

 

(Yun Setiadi)



[1] Lihat Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an, Muhammad Iqbal Ahmad Gazali, hal 7

[2] Tafsir Al-Qurthubi, Surat Al-Qamar ayat 17

%d blogger menyukai ini: