Antropolog Universitas Queensland Beri Motivasi Santri Besongo

Semarang  (17/2):

Dunia itu penuh dengan tantangan, setiap orang yang mampu menghadapi tantangan dengan baik akan dapat hasil yang baik pula. Seseorang yang tangguh dalam memanage kehidupan dapat dipastikan prestasi dalam genggamannya. Demikian sebagian petuah Dr. Lee Wilson, antroplog Universitas Queensland saat memberikan ceramah dalam studium general di hadapan para santri Pesantren Besongo. Sepintas dapat dipahami alur motivasi yang diberikan peneliti kebangsaan Inggris ini, mengingat pengalaman hidup yang dilaluinya memberi pelajaran cukup berharga betapa setiap orang harus bisa survive dalam hidup.

Sebagai orang yang terlahir dalam dunia Barat yang mengedepankan tanggungjawab dan obyektivitas, ia terdidik dalam suasana yang mengantarkannya harus bersentuhan dengan bagaimana mengatasi kekerasan. Salahs atu penelitian yang telah dilakukan adalah mengungkapkan bagaimana peran pencak silat dalam membangun nasionaliasme di Indonesia. Menururnya, pencak silat merupakan bagian dari tradisi bangsa Indonesia yang mengajarkan kejujuran, profesional dan keberanian. Banyak kepentingan yang menyertai perjalanan pencak silat Indonseia, yang tergambar dalam perjalanan bangsa ini melalu zaman orde baru, dimana pencak silat menjadi kendaraan untuk memobilisasi dalam kebentingan tertentu. Akan tetapi, lepas dari itu, semangat pencak silat harus menjadi pelajarand alam setiap santri dalam menamapi kehidupan.

Lee Wilson yang juga pakar resolusi konflik memberikan pengalamannya tentang pentingnya keuletan dalam belajar, terutama belajar di negeri orang. Kesempatan yang ada sekarang jangan di sia-siakan, apalagi berkumpul dengan komunitas pesantren yang memiliki tujuan sama dan jelas. Karena itu, kesempatan ini harus dijadikan peluang untuk bisa mengembangkan cakrawala dan belajar yang lebih lanjut. Dalama kesempatan ini, Lee Wilson tidak hanya menjelaskan peta dan strategi belajar di Australia, Inggris dan Swedia, akan tetapi juga memberikan tips bagaimana belajar efektif di luar negeri.

Menurut pengasuh Pesantren Besongo, Dr. KH. Imam Taufiq, MA menghadirkan pembicara dari berbagai pemikiran dan latar belakang merupakan salah satu model pembelajaran yang diberikan di pesantren yang berbasis life-skill ini. Hal ini juga  merupakan salah satu cara memberikan wawasan internasional bagi para santri. Wawasan ini sangat penting untuk menggambarkaan bahwa kesempatan untuk maju dan berprestasi ada di mana-mana. Ditambahkannya, untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsa dan masyarakat harus di mulai dengan meningkatkan kapasitas diri dan membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Inilah modal utama seseorang untuk berkhidmat di masyarakatdan menjadi pionir kebaikan (khairus nas infa’uhum  linnas). Sebaik-baik manusia adalah orang yang mempunyai kontripusi positif buat masyartakat.(admin/b-13)

%d blogger menyukai ini: