“Belajar Islam di Jerman” bersama Dr. Phil. Khoirun Niam

“Jadilah insan yang berotak Jerman, berhati Ka’bah dan berbudaya Indonesia”. Agaknya maqolah ini tepat sekali untuk menggambarkan semangat belajar yang disalurkan oleh Dr. Phil. Khoirun Niam pada Sabtu malam (21/12) di pondok pesantren Darul Falah Be-Songo. Ia adalah seorang doktor berkebangsaan Indonesia lulusan Islamwissenchaft, Freie Universitat, Berlin, Jerman. Ia ditemani oleh Bapak Sulanam, koordinator Supporting Islamic Leadership in Indonesia (SILE), program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Canada dengan titik tekan program pada penguatan kapasitas leadership di lingkungan Pendidikan Tinggi Islam. Selama satu setengah jam kedepan, pembicara yang juga alumni UIN Sunan Ampel, Surabaya ini berbagi ilmu dan pengalaman pada semua santri. Bertemakan “Belajar Islam di Jerman”, halaqoh maudhu’iyah  ini diikuti dengan antusias oleh semua santri di asrama B9, salah satu asrama ponpes Darul Falah Be-Songo.

Pembicaraan beliau diawali dengan sebuah hadits yang artinya, “Ulama adalah pewaris para Nabi.” ‘Alim yang ia maksud di sini adalah seorang yang tidak hanya berakhlak dan berilmu, tapi juga mempunyai kontribusi terhadap lingkungan dengan konsentrasi di bidang keilmuan yang dimilikinya. Dari itu, beliau merumuskan empat syarat seseorang bisa disebut orang ‘alim. Yaitu alat, aktifitas, metodologi, dan produk.

Alat adalah spesifikasi yang harus dimiliki seseorang untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini beliau menyebutkan kemampuan berbahasa sebagai alat untuk menyampaikan ilmu yang dimiliki sesorang. Kemudian untuk mengeksplor ilmu tersebut, seseorang harus beraktifitas. Konsep ini sejajar dengan sebutan bahwa ilmu harus diimbangi dengan amal, karena akan ada kepincangan jika keduanya berdiri sendiri-sendiri.

Tidak hanya itu, kontribusi seorang ‘alim sebagai warosatul anbiya’, salah satunya adalah dengan berkecimpung secara kontinuitas dalam bidang keilmuan yang menjadi porsinya. Seperti ditambahkan oleh Pak Suranam dalam pembicaraannya setelah Dr. Phil, “Setiap benda yang berputar secara terus menerus pada porosnya, lama kelamaan akan menghasilkan sebuah energi yang kuat.”

Baca juga :  مع الإنترنت الي الجنة

Lalu bagaimana jika seseorang tidak menyukai bidang keilmuan yang diambil? Dijelaskan beliau bahwa aktifitas yang terus menerus di kemudian akan memberikan kecintaan kepada ilmu tersebut. Seperti halnya beliau yang dulu beberapa kali ditolak masuk jurusan Sastra Bahasa Inggris, namun di kemudian hari ia bisa mencintai ilmu yang digelutinya sekarang.

Untuk meghasilkan aktifitas yang bermanfa’at, seseorang tentunya membutuhkan metode tertentu. Kemampuan metode inilah yang menjadi kunci kesuksesan setiap aktifitas yang dijalani dan dengan hal ini pula, seseorang bisa memperdalam bidang keilmuan yang digeluti. Syarat terakhir menjadi seorang ‘alim adalah menghasilkan produk yang ditulis dan dipublikasikan.

Sebagai jawaban atas pertanyaan salah seorang santri, pembicara yang juga merupakan team penilai di Dikti menambahkan, “Produk berupa tulisan atau jurnal yang dihasilkan oleh sebuah bidang keilmuan, Ilmu Falak misalnya, bisa berupa tulisan ringan yang bahasanya bisa dicerna oleh semua kalangan masyarakat,” demikian pembicara yang setiap harinya berkecimpung dengan penelian jurnal ilmiah yang diterbitkan Perguruan Tinggi mengakhiri pembicaraan.

IMG-20131221-01643

(Umu Habibah)

%d blogger menyukai ini: