Kunjungan Anstronom Malaysia di Ponpes Darul Falah Be-Songo

Berbicara tentang hilal, maka akan teringat sidang isbat penentuan tanggal 1 Ramadhan dan Syawal  di televisi dan terjadi perbedaan penetapannya. Perbedaan tersebut bisa diatasi dengan menyamakan parameter dalam penentapan hilal. Yaitu dengan cara meminimalisir perbedaaan seperti, ketinggian, kelembaban udara, pencemaran atmosfer, kecerahan cuaca, fisikal dan psikologi pengamat. Tentu saja hal tersebut harus ditunjang dengan teknologi.  Sebagai puncak sains, astronomi sangat penting dipelajari demi tercapainya tujuan tersebut. Salah satu pentingnya observasi hilal sebagai kegiatan astronomi adalah kaitannya dengan penanggalan kalender, khususnya bagi umat Islam sebagai penentu bulan ibadah seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah.

Melalui Stadium General, Selasa (31/12), pondok pesantren Darul Falah Be-Songo membahas tema “Teknik Observasi dan Pencitraan Hilal dengan Kamera DSLR” dengan narasumber langsung dari Universiti Malaya, Malaysia, Joko Satria Ardianto, M.Sc. Pembicara yang merupakan seorang pembina pramuka sebenarnya datang ke Indonesia dalam rangka acara kepramukaan. Namun, ia menyempatkan datang ke beberapa tempat untuk menyampaikan materi mengenai astronomi dan penatapan hilal dalam dua setengah jam. Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB di Madin perum Bank Niaga ini diikuti dengan antusias oleh santri-santri Darul Falah Be-Songo, khususnya mahasiswa S2 program PKU (Pendidikan Kader Ulama) yang memang konsen di jurusan Ilmu Falak.

Pengasuh ponpes Darul Falah Be-Songo, Dr. KH. Imam Taufik, M.Ag dalam sambutanya mengungkapkan bahwa hilal yang hanya satu, bisa menimbulkan banyak perbedaan. Hal ini dikarenakan penggunaan metode/kacamata yang berbeda oleh setiap pengamat. Dikuatkan oleh Joko Satria bahwa berkembangnya teknologi digital sangat membantu para pengamat dan mengurangi perbedaan yang begitu tipis itu. Salah satu teknologi yang digunakan dalam penentuan hilal sekarang ini adalah kamera DSLR.

“Saat ini melihat kenampakan hilal tidak hanya dinilai dengan mata telajang sehingga terkesan subjektif. Melalui fitur kamera DSLR yakni memotret dan merekam video, kenampakkan hilal bisa  menjadi bukti objektif penentuan awal bulan baru” ungkap Joko. Ia menambahkan tentang banyaknya faktor yang mempengaruhi pengamatan hilal. Salah satu yang terpenting adalah kondisi fisikal dan psikologi pengamat. Kaitannya dengan sowftware komputer yang menyediakan layanan penentu hilal, sehingga lama-kelamaan pengamat seringkali terjebak menggunakan hasil tersebut sebagai acuan sebelum mengamati secara langsung.

Baca juga :  Lomba Qiro’atul Kutub Ajak Santri Lebih Giat Ngaji

Pembicara yang juga seorang reseach assistance di Makmal Fizik Angkasa Malaysia, telah melakukan pengamatan hilal selama 13 tahun terakhir di Baitul Hilal, Teluk Kemang, Johor, Malaysia. Pengamatan secara terus menerus penting dilakukan karena matahari maupun bulan selalu mengalami perubahan. Matahari misalnya, mempunyai sun-spot yang berubah setiap 11 tahun sekali, sedangkan bulan bergerak mendekati bumi 2 cm setiap bulannya.

Data-data tersebut sangat penting sebagai ukuran bagi peneliti/pengamat waktu itu dan selanjutnya. Foto dan video dokumentasi kenampkan hilal di Malaysia yang diperlihatkan, mengungkap berapa titik terendah hilal dapat terlihat. Dengan menggunakan metode imkanul rukyah dan kriteria MABIMS  tinggi hilal 2° dan elongasi 3°, lama hilal di atas ufuk 8 jam yang digunakan oleh empat negara (Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura), teknik observasi kenampakan hilal dengan kamera DSLR mungkin dilakukan.

Di akhir pembicaraan, Joko Satria mewanti-wanti bahwa selain suku cadang, sumber daya manusia merupakan hal yang paling penting jika nantinya Indonesia mempunyai alat-alat yang canggih dalam pengamatan hilal, khususnya di Semarang. Sekitar pukul 16.30 WIB, Arif Royyani, Lc. sebagai moderator mengakhiri diskusi setelah beberapa pertanyaan kritis yang disampaikan oleh peserta dijawab oleh pembicara. Setelah acara ini, Joko Satria yang telah seminggu berada di Indonesia, langsung menuju ke Bandung menjemput istrinya untuk kemudian kembali ke Malaysia.

 

(Siti Rohmah)

%d blogger menyukai ini: