Pelatihan Merawat Jenazah

DSC00930


SEMARANG- Kamis (27/02), Pesantren Darul Falah Be-Songo melaksanakan workshop pasca liburan yang ke-empat, yaitu “Perawatan Jenazah”. Materi disampaikan oleh santri PKU (Pendidikan Kader Ulama) di tiga tempat berbeda: Asrama A7, B5, dan B9. Selama empat jam, seluruh santri Be-Songo belajar mengenai perawatan jenazah dengan antusias.
“Kematian adalah suatu keadaan yang hak dan pasti kita alami. Bisa jadi saya terlebih dahulu mendahului kalian atau bahkan kalian yang akan mendahului saya. Oleh karenanya, tidak perlu kita takuti kehadirannya nanti.” tutur Kusdiyana, salah satu pemateri yang mengisi di asrama A7.

Umat muslim mempunyai empat kewajiban terhadap muslim lainnya yang meninggal, yaitu memandikan, mengkafani, mensolati, dan menguburkan. Kesemuanya dilakukan sebagai penghormatan terakhir karena si mayit tidak akan lagi hidup di alam yang sama. Praktek perawatan jenazah diaplikasikan pada sebuah bantal guling.

“Merawat jenazah itu tidah serumit seperti di teori. Bahkan, jika kita mau terjun langsung ke masyarakat, justru lebih mudah kita rasakan,” tambah Hasan selaku pemateri.

Cara menyampaikan yang menyenangkan membuat kesan mengerikan menjadi berkurang, sesekali terdengar gelak tawa saat pemateri menyelipkan lelucon dalam penyampaiannya. Namun sebagian santri masih tampak takut. Bahkan salah satu santri yang ditunjuk menolak untuk praktik di depan. ”Lihat jenazahnya saja sudah takut kok malah disuruh praktik.”

Ilmu perawatan jenazah memang sangat penting bagi setiap orang sebagai suatu persiapan apabila terjadi hal-hal yang tidak dibayangkan sebelumnya. Semisal moden satu-satunya di desa meninggal dunia, atau perempuan yang bersuamikan seorang moden tapi suatu hari tidak dapat menghadiri undangan untuk mengurus jenazah, maka istri dapat menggantikannya.

(Fauziyah)

Baca juga :  Pengasuh Besongo menghadiri pernikahan santrinya
%d blogger menyukai ini: