Jurnalistik Santri Menatap Masa Depan

11004748_1061125063904078_2002942626_n

SEMARANG–Memasuki hari ketiga, Rabu (25/2) santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo mengikuti Training Jurnalistik, salah satu serangkaian kegiatan pekan Pasca Liburan (Pascalib). Kegiatan opsional yang diikuti oleh 44 satriwati ini bertempat di Madrasah Diniyyah Raudlatul Jannah dengan narasumber Khasan Ubaidillah, M.Pd, selaku Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang.

Pukul 8.30 WIB, Salma, sebagai moderator membuka acara setelah segenap peserta berkumpul. Walaupun acara dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal yang telah ditentukan, para peserta antusias dalam mengikuti kegiatan Training Jurnalistik pada pagi hari itu.

Menurut Bapak Ubaid, sering beliau disapa, karya jurnalistik pertama kali dimulai dengan tiga aspek: kritis, independent, dan positif. Beliau menjelaskan bahwa kritis mempunyai dua dimensi. Yang pertama, kritisme tanpa etika yang akan menjadi sebuah anarkisme (merusak). Yang kedua, kritis positif yang akan menjadi sebuah kritisme konstruktif (membangun).

“Kritis dan independent akan dibingkai oleh nilai positif yang potensial beragam maknanya”, jelas dosen mata kuliah Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini.

Selanjutnya, masuk dalam materi Teknik Penulisan, peserta Training Jurnalistik dibagi menjadi lima kelompok. Mereka diberi tugas untuk menemukan 5W (What, Who, When, Where, Why) dan 1H (How) dalam sebuah berita pada surat kabar Suara Merdeka. Peserta diberikan waktu selama 30 menit untuk berdiskusi kemudian  mempresentasikan hasil diskusi yang telah didapat.

Setiap pergantian slide atau materi, Pak Ubaid selalu memberi kesempatan peserta untuk memberikan feedback dari apa yang telah dijelaskan oleh beliau. Satu per satu peserta mengajukan pertanyaan yang belum dipahami mengenai materi yang telah disampaikan. Banyak pula dari peserta yang menanyakan solusi dari hambatan-hambatan saat menulis sebuah karya.

Baca juga :  Let's Change ! Mari Menulis

Menuju puncak acara, Dosen yang juga mengajar Islam dan Budaya Jawa ini memberi tugas individu kepada semua peserta untuk menulis artikel dalam waktu 10 menit. Setelah itu setiap tulisan dikoreksi dan dikritik oleh beliau. Sehingga santri akan mengetahui kesalahannya dan mengetahui bagaimana dia harus memperbaikinya.

Mengutip dari perkataan Sayyidina Ali, Bapak Khasan berpesan kepada peserta, “Alaikum Bi Husni Al Khatti, Fainnahu Mafatihu Li Ar Rizki.” (Baguskanlah tulisan kalian karena tulisanmu akan menjadi kunci rizki bagimu).

(Salma Khoirunnisaa’ A.)

%d blogger menyukai ini: