Pesantren Memuliakan Perempuan Untuk Dunia

SEMARANG–Dalam rangka menyambut semester baru, Pondok Pesantren Darul Falah (Ponpes Dafa) Be-Songo melaksanakan Stadium General, sekaligus menutup acara kegiatan pasca liburan yang telah berlangsung satu minggu. Acara tersebut dihadiri oleh panitia pelaksana, pengurus, dan seluruh santriwati, termasuk santri Pendidikan Kader Ulama (PKU). Turut hadir pula pengasuh ponpes Dafa, Abah Imam Taufiq pada Sabtu (28/02) malam di asrama B-9 tempat acara berlangsung.

Selama satu setengah jam Abah Muhyar Fanani, selaku narasumber mengupas tuntas kuliyah umum yang bertema ‘Peran Pesantren dalam Mewujudkan Santri yang Berakhlakul Karimah dengan Kompetensi Keagamaan dan Kecakapan Hidup yang Handal’. Kegiatan tersebut dilaksanakan supaya santri dapat menanamkan perilaku sesuai visi Ponpes Dafa Be-Songo yang menjadi tema malam itu.

Abah Muhyar, sapaan beliau, mengawali pembicaraan dengan membacakan syair yang panjang disertai terjemah lisan ala pesantren. Dikutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas, narasumber sekaligus pengasuh ponpes Dafa mengatakan, mayoritas penghuni neraka adalah wanita dan penghuni surga adalah orang fakir. Hal tersebut disebabkan oleh banyak istri yang ingkar kepada suaminya, berpaling dari kebaikan-kebaikan suami, dan banyak wanita yang tidak menutup auratnya.

“Saya banyak bicara tentang wanita karena yang hadir di sini rata-rata santri perempuan”, tutur Dosen Fakultas Ushuluddin di UIN Walisongo itu.

Oleh karena itu, lanjut Dosen kelahiran Ngawi, seorang suami harus banyak menasihati istri-istrinya. Karena sesungguhnya wanita adalah tulang rusuk yang melengkung. Apabila tulang tersebut diluruskan, maka ia akan patah yang menandakan wanita mudah marah dan putus asa.

Namun di sisi lain seorang wanita atau ibu adalah madrasah bagi anak-anak dan suaminya. Jika madrasah itu bobrok, muridnya pun akan bobrok akhlaknya.

Baca juga :  Berbekal Pengalaman dari Lomba Pidato dan Bercerita

“Oleh sebab tidak semua ibu adalah madrasah, maka ciptakanlah madrasah sebagai tempat belajar kemuliaan untuk anak dan suami”, jelas beliau.

Anggota MUI Jateng tahun 2008-sekarang ini menambahkan, wanita adalah kebun sepanjang masih punya rasa malu. Suburnya rasa malu itu dapat mempengaruhi suburnya kebun-kebun yang lain. Dan wanita adalah tiang negara. Jikalau wanita memiliki perangai yang baik, maka mereka akan melahirkan generasi yang baik untuk bangsa dan negaranya.

“Perdalamlah ilmu di pesantren maupun di perkuliyahan. Karena kalian adalah calon ibu yang akan menjadi madrasah pembentuk akhlakul karimah bagi anak-anak dan suami kalian”, pungkas beliau merelasikan visi Ponpes Dafa dengan santriwatinya.

(Iqlima)

%d blogger menyukai ini: