Pelantikan Pengurus Pesantren Be-Songo; Santri Berdedikasi di Pondok untuk Kesuksesan Masa Depan

NGALIYAN – Seminggu setelah pemilihan calon ketua baru, Pesantren Darul Falah (Dafa) Be-Songo menggelar tradisi tahunan pesantren, yaitu pelantikan kepengurusan masa khidmah 2015-2016. Selain para pengurus baru dan seluruh santri Dafa, turut hadir pula pengasuh, abah Imam Taufiq dan umi Arikhah serta salah satu ustad, Bapak Tajuddin Arafat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar di asrama B9 itu juga melantik para jajaran pengurus santri putra pada waktu dan tempat yang sama.

Dalam sambutannya, Hanita Masithoh mengatakan, sebuah kepengurusan bak sebuah bangunan yang terdiri dari pilar-pilar. Jika ingin bangunan tersebut kokoh, maka diperlukan pilar-pilar yang mengokohkan satu sama lain.

“Hidup adalah pengabdian, baik vertikal maupun horizontal. Vertikal artinya mengabdi kepada Allah dan horizontal bermakna pengabdian kepada kyai, asatidz, orang tua, dan seterusnya”, tegas ketua umum Pesantren Dafa masa khidmah 2014-2015 itu.

Selanjutnya, umi Arikhah membaiat dan membacakan ikrar yang harus diikuti dan ditiru oleh semua pengurus santri putra maupun putri yang sudah di-SAH-kan abah Imam Taufiq dalam surat keputusan. Adapun ketua umum santri putra periode baru ini adalah Agung Prasetya Hasan, sedangkan ketua baru santri putri adalah Umi Nadhiroh.

Selama masa kepengurusannya, Umi berharap, dapat mengemban amanat berat yang dipercayakan kepadanya dan semua rekan kerjanya. Disamping itu, ketua terpilih nomer urut satu ini ingin menciptakan santri yang intelektual dan sukses dalam segala bidang, baik ilmu, moral, spiritual, maupun sosial.

“Visi misi Pesantren Dafa, mewujudkan santri yang berwawasan ilmu pengetahuan, berakhlakul karimah mempunyai lifeskill, dan kecakapan hidup yang handal, inilah yang dapat mengantarkan kita menuju santri yang lebih maju dan sukses”, tambahnya.

Baca juga :  Semangat Tholabul Ilmi di Hari Santri

Abah Imam Taufiq menguatkan, nilai pondok yang agung adalah mandiri. Sebagai santri sekaligus mahasiswa, tentu mindset anak didik pesantrennya sudah harus bisa berpikir dewasa yang dapat merubah suasana jumud menjadi progress. Kemajuan dapat dicapai dengan memulai dari diri sendiri dan dari hal yang terkecil. Jujur, tanggung jawab, dan disiplin juga menjadi pendukung menuju “Santri Berani Sukses”. Setidaknya, setiap santri mempunyai rasa memiliki apa yang sudah dimiliki dan komitmen serta bertanggung jawab terhadap kepemilikan bersama.

“Silahkan kepada para pengurus untuk melanjutkan apa yang sudah baik dan meningkatkan apa yang lemah pada masa kepengurusan sebelumnya demi mencapai kemajuan dan kesuksesan”. Demikian beliau mengakhiri sambutannya pada Minggu malam (08/11) sekitar pukul 20.00 WIB.

(Oleh: Aisya)

  

%d blogger menyukai ini: