Refleksi Sosok Nabi Muhammad SAW Bagi Santri Dafa Be-Songo

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xla1/v/t1.0-9/

NGALIYAN – Tepat tanggal 22 Desember 2015 yang dikenal sebagai Hari Ibu, salah satu pondok pesantren di kota Semarang daerah Ngaliyan menyelenggarakan haflah peringatan maulid Nabi yang bertajuk “Refleksi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW”. Santriwan dan santriwati yang juga merangkap sebagai mahasiswa UIN Walisongo sangat antusias ikut serta menyambut dan merayakan acara tahunan tersebut. Acara yang didominasi oleh penampilan dari santri baru ini berjalan dengan lancar di aula Asrama B9 pada selasa malam pukul 20.00 WIB.

Lagu Assalamualaik yang dibawakan oleh grup rebana Al Falah menjadi pertanda akan dimulainya acara. Usai dibuka dengan bacaan surat Al Fatihah, Rif’ah sebagai pembawa acara mempersilakan Umi Nadiroh untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, sang lurah pondok ini berharap semoga acara yang diketuai oleh Viky Iffah dapat memberi semangat santri untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dan landasan hidup.

“Dengan membaca sholawat, semoga kita semua mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW di akhirat nanti. Amin”, tambahnya. Dia juga menyampaikan beberapa pengumuman penting, diantaranya adalah libur panjang semester ganjil yang disambut meriah oleh para santri, dan tata tertib yang tetap berlaku di pesantren meskipun dalam keadaan libur.

Selanjutnya adalah acara inti, pembacaan dziba’ dan sholawat yang dipimpin oleh grup rebana Al-Falah yang dibawakan oleh tiga vokalis utama Reni, Izza dan Atik. Deretan lagu seperti Ya Rabbi Shalli, Ya Rasulallah, Ya Nabi Salam, Marhaban, Ya Badratim, Ya Ma’hadi, Al-Badawi, Ya Rabbi Shalli Ala Rasul, dan Ya Asyiqal Mustafa dibawakan secara apik oleh mereka. Semua santri yang hadir di acara tersebut terlihat kompak dan sangat bersemangat melantunkan syair-syair sholawat atas nabi. Setiap lagu yang dibawakan seolah membawa magnet yang mengajak para pendengar untuk ikut serta menyanyikan bersama.

Pada sesi berikutnya yaitu penampilan khitobah dari empat-sekawan santri baru Darul Falah Be-Songo. Mereka adalah Munfarida dari asrama A-7, Sholihah dari asrama B-5, Agung dan Auli dari asrama B-17. Masing-masing membawakan khitobah dalam bahasa yang berbeda, Munfarida menyampaikan khitobah tentang nasab atau silsilah kelahiran Nabi dengan bahasa Inggris yang dipadukan dengan bahasa Cina dan Jepang.

Baca juga :  Fatayat NU Hadirkan PADUS Be-Songo

Penampilan kedua dari Sholihah dengan bahasa Indonesia. Dengan dibalut gamis berwarna ungu muda, perempuan asal Demak ini menyampaikan khitobahnya mengenai sejarah kelahiran nabi Muhammad SAW.

Disusul dengan Agung yang menyampaikan khitobahnya dengan bahasa Jawa tentang nilai-nilai dari barokah, bagaimana para santri harus selalu menjaga sifat kesantriannya dan patuh pada pengasuh pesantren. Agung seakan menjadi obat kantuk para santri dengan penyampaian pidatonya yang diselingi dengan lelucon buatannya.

Khitobah selanjutnya disampaikan oleh Auli, santri asal Karimun Jawa Jepara, dengan bahasa Arab. Khitobah yang mengandung inti tentang pentingnya menjadikan sosok kepribadian Nabi sebagai contoh bagi umatnya ini menjadi khitobah penutup dari serangkaian yang disampaikan oleh empat santri Darul Falah Be-Songo.

Sekitar pukul 22.30 WIB, rangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Acara ditutup dengan bacaan hamdalah yang sebelumnya diisi sambutan serta doa dari Abah Imam Taufik, selaku pengasuh pondok pesantren Darul Falah Be-Songo yang terletak di Perumahan Bank Niaga, Ngaliyan ini. Dalam sambutannya Abah mengatakan bagaimana sosok Nabi Muhammad bisa menjadi inspirasi serta suri tauladan bagi para umat Islam di seluruh dunia, yang akan membawa manusia menjadi pribadi yang lebih baik.

Menurut beliau, dalam sambutannya, ada tiga aspek yang bisa dipakai untuk mencapai kesuksesan, yaitu kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Jika bisa menyeimbangkan ketiganya maka kesusksesan ada dalam genggaman tan gan.Begitulah inti yang disampaikan Abah secara gamblang di hadapan anak didiknya.

 “Kerja keras dan kerja cerdas jika tidak disertai dengan kerja ikhlas maka itu sama saja sia-sia”, pungkas beliau.

(Oleh: Adila)

%d blogger menyukai ini: