Taharah dan Munakahah sebagai Aspek Penting dalam Islam

Semarang, Jumat (26/2), santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo mengikuti kegiatan Fikih Nisa’. Fikih Nisa’ adalah satu dari serangkaian kegiatan Paska Liburan (Paskalib). Agenda yang diikuti oleh segenap santri tersebut mempunyai seorang pemateri yaitu Ibu Hj. Siti Munawaroh Thowaf. Beliau merupakan dosen pengampu di Fakultas Humaniora UIN Walisongo Semarang. Pada agenda kali ini membahas tentang bab Taharah dan Munakahah. Yang bertujuan agar santri lebih memahami apa syarat, rukun,  hukum, dan hal-hal lain mengenai bab taharah dan munakahah.

Kegiatan Fikih Nisa’ dibagi menjadi dua sesi. Yakni sesi pertama membahas tentang Taharah. Dosen Fakultas Humaniora tersebut menjelaskan tentang pengertian taharah,  macam-macam taharah, dan cara-cara sesuci. Ibu Munawaroh, biasa beliau dipanggil, juga menjelaskan sejarah fikih nisa’ sebelum dan sesudah Islam. Fikih berarti penafsiran terhadap ayat-ayat Al-qur’an maupun hadits dalam hal-hal pokok, termasuk dalam syariat seperti meng-Esa-kan Allah SWT, hal beribadah, dan meyakini bahwa Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT. Adapun pengertian Taharah adalah syarat mutlak untuk orang yang melakukan ibadah. Terkadang ada kendala dalam bertaharah, seperti haid yang berkepanjangan. Beliau juga menjelaskan tentang wudhu, sunah – sunah nya wudhu, dan yang membatalkan wudhu. Ditambah dengan penjelasan mengenai sesuci dengan menggunakan tisu, apakah sah atau tidak. Dan yang tidak ketinggalan yakni tentang perbedaan mandi wiladah dan mandi nifas.

Akhir sesi pertama, pemateri berucap, “ Hari esok harus lebih baik dari hari ini, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Quote tersebut menjadi motto hidup beliau, karena kita harus belajar dari pengalaman hari ini untuk masa depan yang lebih baik, dan hari kemarin sebagai pelajaran untuk kita lebih baik, untuk hari ini dan hari esok. Jangan sampai kita merugi untuk menjadi lebih baik lagi.

Sesi kedua, dimulai pada jam 13.00 WIB dengan wajah sumringah dan antusias dari para santri. Pada sesi kali ini menjelaskan bab munakahah yang mana bab ini lah yang menjadi hal urgent nantinya saat kita sudah mempunyai kematapan hati untuk berumah tangga. Pemateri memaparkan, munakah adalah sunnah yang dianjurkan Allah SWT. Munakahah atau pernikahan adalah hal yang penting untuk insan yang dewasa, dan mempunyai kesiapan mental, fisik, dan materi. Jika tiga hal tersebut terpenuhi akan tercipta keluarga yang langgeg (sakinah), tenang (mawadah), dan kasih sayang (rahmah). Ini lah yang diharapkan semua insan manusia untuk menjadi keluarga yang akan menghasilkan keturunan yang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agamanya. Sebagai penerus yang berpegang teguh pada al-qur’an dan hadits. Sebelum diadakan pernikahan harus ada melamar (khitbah), yang mana kedua calon mempelai saling mengenal satu sama lain. Dalam melamar, kita tidak boleh menggantungkan lamaran antara diterima atau tidak. Ini akan menjadi hal yang fatal. Beliau menceritakan, ada calon pasangan yang sudah dilamar selama lima tahun lama nya, tetapi si perempuan lebih memilih laki-laki lain sebagai pasangannya.”Nah, inilah yang dimaksudkan dengan menggantungkan lamaran tersebut.”, ujarnya.  Seharusnya menolak pinangan dari awal  melamar itu dilaksanakan, sebelum hal seperti diatas terjadi.

Baca juga :  Pelantikan Pengurus Masa Khidmah 2017/2018

Hal yang lebih penting untuk memilih pasangan yaitu agama yang lebih utama, harta, paras, dan nasabnya. “Kalian harus memilih pasangan yang diutamakan harus agamanya, kalau agamanya baik pasti surga akan mudah didapat. Kalau masalah harta, fisik itu adalah hal yang subjektif.“, nasihat Ibu Munawaroh.  Beliau juga menjelaskan tentang happy family dan prinsip-prinsipnya, fungsi keluarga, masalah dan penanggulangan dalam pernikahan, dan yang terakhir yaitu kiat agar menjadi pernikahan yang barokah. Salah satunya yaitu niat nikah sebagai ibadah, untuk mendapatkan ridho Allah semata. Beliau selama mengisi materi dengan menggunakan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga para santri bisa melogikakan munakahah sebenarnya. Di ruangan asrama gelak tawa para santri yang membawa perasaan mereka ke hal munakahah, dan beliau pun ikut canda tawa dengan para santri.

Di akhir acara, beliau memberikan doa untuk para santri, salah satunya supaya para santri mendapatkan calon imam dan calon istri yang sholeh dan sholehah. Serentak para santri beteriak “Amin” atas doa beliau dengan harapan ilmunya bermanfaat dan doanya di kabulkan.

( Mutia Azizah)

%d blogger menyukai ini: