Paskalib, Ngaji Fikih Perempuan ala ‘Umi’

NGALIYAN – Bersama Hj. Arikhah,  pengasuh pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang, kegiatan paska liburan (paskalib) “Fikih Nisa” diselenggarakan. Dosen fakultas Usuluddin dan Humaniora ini menyampaikan materi selama dua setengah jam tentang taharah dan munakahat di aula asrama B9. Peserta yang terdiri dari santri putra dan putri itu tampak semangat mendengarkan penjelasan beliau pada Minggu siang (28/02) itu yang sesekali disisipi canda tawa.

“Semua ilmu wajib dipelajari, karena ilmu apa saja itu penting. Ilmu itu seperti alat untuk menjalani kehidupan. Semakin banyak alatnya, maka semakin banyak kemudahan dalam menjalani kehidupan,” kata Umi, panggilan akrab santri, mengawali materi.

Pertama, wanita kelahiran Kudus ini menjelaskan tentang taharah (bersuci). Taharah secara bahasa berarti bersih, baik itu bersih luarnya maupun dalamnya. Beliau mengklasifikasikan taharah menjadi dua yaitu taharah dhohir (yang terlihat) dan taharah batin (tidak terlihat). Disamping itu, dijelaskan pula tentang ta’rif taharah dengan macam-macamnya, cara membersihkan dan mensucikan hadas dan najis, dan sekilas tentang haid.

“Taharah itu penting, karena Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri dari sesuatu yang kotor. Dan tanpa taharah Allah tidak akan menerima amal seseorang,” tambahnya. Maka dari itu, umi Arikhah sangat menekankan santrinya untuk selalu menjaga kebersihan.

Melanjutkan pembahasan kedua, para santri terlihat antusias dalam memperhatikan penjelasan dari pengasuhnya terkait munakahat (bab nikah). Menikah adalah akad yang menghalalkan hubungan badan karena Allah SWT, jelasnya. Dimana nikah sudah menjadi ciri khas makhluk hidup karena merupakan salah satu media berlangsungnya keturunan. Beliau juga menjelaskan arti nikah yang sesungguhnya, tujuan menikah, fungsi  keluarga dan ungensi menikah sebagai salah satu sunah rasul.

Kemudian bendahara LKKNU Jawa Tengah ini memaparkan tentang suka dukanya orang yang sudah menikah. Beliau berpesan, menikah itu jangan karena terpaksa, karena wong nek ibadah kerono kepekso iku dadi loro. Opo-opo seng kepekso iku dadi loro. Karena hidup itu adalah cinta dan amanat, bukan saling menyakiti. Semuanya harus diniati dengan ibadah. Nek diniati ibadah insyaallah berkah.

Baca juga :  Pelantikan Pengurus Pesantren Be-Songo; Santri Berdedikasi di Pondok untuk Kesuksesan Masa Depan

Pemateri yang menjabat sebagai wakil sekretaris YPMI Prof Jateng itu mengibaratkan rumah tangga seperti sebuah kapal. Dimana keduanya rumah tangga yang dijalankan oleh suami-istri dan kapal yang dijalankan oleh nahkoda sama sama mempunyai tujuan tertentu. Nahkoda adalah media untuk sampai ke tempat yang dituju, sedangkan suami dan istri adalah media untuk menggapai surga Allah SWT. Adapun tujuan berumah tangga adalah terciptanya keluarga yang SAMARABA, yakni sakinah (tenang, bahagia), mawaddah (kasih sayang), rahmah (belas kasih), dan barokah (mendatangkan kebaikan).

“Kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain,” pungkasnya.

(Bahrul/Ay)

%d blogger menyukai ini: