Devisi Pendidikan Pesantren Be-Songo Gelar Bedah Buku “ISLAM NUSANTARA”

NGALIYAN – Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Devisi Pendidikan Pesantren Darul Falah Be-Songo mengadakan salah satu program kerjanya, bedah buku. Acara kali ini mendatangkan dua narasumber yaitu Muhammad Rikza Chamami, M. Si dan Kharis Lusdiyanto, M. Si dengan buku yang berjudul “Islam Nusantara, Dialog Tradisi dan Agama Faktual”. Santriwan dan Santriwati Darul Falah Be-songo tampak antusias mendengarkan penjelasan kegiatan rutinan pada Minggu (10/04) di aula asrama B9.

Salah satu anggota Departemen Pendidikan, Sirojul Fuad mengatakan bahwa harapan adanya kegiatan bedah buku kali ini supaya tidak terjadi kesalahpahaman tentang makna Islam Nusantara, khususnya bagi santri.

Dalam sambutannya, Dr. H. Imam Taufiq, M. Ag selaku pengasuh pondok Pesantren Darul Falah sedikit menguraikan karakteristik Islam Nusantara. Agama Islam tidak mengajarkan kekerasan melainkan mengajak damai, toleran, santun, dan ramah. Menurut Ketua PBNU ini ada empat aspek ciri khas dari Islam Nusantara yaitu rukh aldiniyyah (etos semangat keagamaan yang berporos kepada akhlakul karimah), rukh al-wathaniyyah (semangat kebangsaan), rukh al-ta’abbuddiyah (semangat perbedaan), rukh al-insaniyyah (memanusiakan manusia).

“Dalam perkembangannya, Islam nusantara bukan hanya berkembang di Indonesia saja, tapi juga sudah mendunia,” tambahnya.

Memasuki acara inti, moderator Hanita Masithoh mendampingi Ustadz Rikza dan Ustadz Kharis, panggilan akrab narasumber, mengupas tuntas sebagian materi yang terkandung dalam buku tersebut.

“Barang siapa tidak mempunyai tanah air, maka tidak mempunyai sejarah bangsa” ujar Ustadz Haris.

Suatu Bangsa berdiri bukan sekejap mata yang langsung bisa menjadi Negara. Namun, semua butuh proses dan pasti terdapat sejarah di dalamnya. Islam Nusantara tidak lepas dari rekam jejak Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Baca juga :  Debat dan Pemilihan Lurah Ala Santri Besongo

Dalam bukunya, Ustadz Rikza mencoba memunculkan ide-ide baru dalam perkembangan Islam di Nusantara (Indonesia) yang bukan muncul secara kebetulan. Islam Nusantara muncul sebagai sejarah bangsa Indonesia yang harus dipahami sebagai identitas Negara. Ciri Islam Nusantara adalah Islam yang damai, moderat, aktualisasi dan tidak lepas dari ajaran Walisongo.

(Mala/Red.Ay)

%d blogger menyukai ini: