Bedah Buku Al Qur’an Bukan Kitab Teror Karya DR. H. Imam Taufiq, M.Ag

Bedah Buku Al Quran Bukan Kitab Teror
Bedah Buku Al Quran Bukan Kitab Teror

Karya Imam Taufiq memiliki arti penting bagi perguruan tinggi dalam rangka untuk terus menerus menangkal gerakan-gerakan kekerasan. Demikian kutipan dalam sambutan yang disampaikan oleh  Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Bapak Muhsin Jamal, dalam acara Talk Show Membangun Damai Menolak Teror dan Bedah Buku “Al Qur’an Bukan Kitab Teror” karya DR. H. Imam Taufiq, M.Ag bertempat di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo Semarang, Rabu (20/4) pukul 8.30 WIB.

Dilanjutkan dengan sambutan kedua yang disampaikan oleh Wakil Rektor II, Bapak Musahadi sekaligus sebagai pembuka acara pada pagi hari tersebut dengan melakukan ketukan tiga kali tanda acara telah resmi dimulai. Dalam sambutannya Bapak Musa, akrab beliau disapa, mengatakan, “Yang sangat penting saat ini adalah melawan, mereduksi, dan melakukan kontradiksi terhadap radikalisme dan terorisme yang saat ini tidaklah mudah. Bapak Imam Taufiq ini memang otoritatif jika membicarakan tentang topik Al quran bukan kitab teror, karena memang beliau itu adalah doktornya di bidang tafsir ulumul quran.”

Acara Talk Show dan Bedah Buku dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh dua orang pembahas yang akan membedah buku Al Qur’an Bukan Kitab Teror.

Dengan mengusung tema Al Qur’an: Antara Teror, Perdamaian dan Reformasi, pembahas yang pertama yaitu DR. Phil Munirul Ikhwan, pakar tafsir alumni Al-Azhar  Mesir, Leiden University dan Freie Universitat Berlin Jerman, mengatakan “Karakter esensi dari kata Islam adalah damai.” Bapak Ikhwan memaparkan pernyataannya dengan menampilkan data-data yang diperoleh dari Al-Qur’an yaitu data mengenai ada berapa kata “Islam” dalam Al-Quran. Pembahas juga menyampaikan fakta-fakta historis dengan menceritakan masa Nabi Muhammad saw. ketika beliau difitnah dan bertemu dengan orang munafik.

Baca juga :  Blusukan Serentak Menuju Pemilu Lurah Dafa Be-Songo

Pembahas yang kedua membedah buku dengan perspektif yang kekinian yaitu Irfan Amali, Direktur Gerakan PEACE Indonesia, mengatakan bahwa Islam dianggap teror karena ada impression. Islam adalah agama tengah-tengah. Dan Islam itu realistis. Bapak Irfan mengemas pemaparannya dengan menampilan video visual dan gambar anak-anak karena beliau melakukan dakwah Islam yang ditargetkan pada anak-anak. Karena beliau percaya bahwa teror bisa dikurangi bahkan dihilangkan dengan memberikan ajaran agama yang benar kepada anak-anak. Memahamkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah agama yang damai dan Allah bukanlah penghukum.

Acara ini adalah salah satu dari serangkaian acara Diesnatalis UIN Walisongo. Audien terlihat antusias terbukti saat sesi pertanyaan, Wakil Rektor II, dosen dan mahasiswa pun ikut andil dalam sesi tanya jawab.

(Salma Khoirunnisaa’)

%d blogger menyukai ini: