TOS, Langkah Awal mencetak Santri Handal

Dafa – Lewat kegiatan Ta’aruf Orientasi Santri (TOS), pengurus mengenalkan berbagai pengetahuan tentang dunia santri yang akan berlangsung mulai pada 29 – 31 Agustus 2016. Dalam kegiatan TOS yang berlangsung selama 3 hari ini ada beberapa materi yang akan disampaikan yakni Sejarah Pesantren Darul Fallah Be-Songo, Kepesantrenan, Membangun Tradisi Pesantren, Berfikir dan berprilaku Aswaja, Tata Administrasi, Tata Pamong, Halaqah, Pensi, dan Konservasi lingkungan. Hal itu merupakan tonggak awal bagi Dafa untuk mencetak kader-kader santri yang handal dan cinta damai. Rasa penasaran mereka untuk mengetahui lingkugan barunya, pondok Darul Falah B-9, sedikit demi sedikit terjawab. Semangat santri kian berbinar kala pengasuh pondok, Ummi Arikhah, menyambutnya dengan perbincangan hangat dengan santri pada, Senin (29/09).

Pembukaan TOS terlaksana dengan khidmat. Dipandu Master of Ceremony (MC) Halimatul Muniroh, runtutan acara mampu berjalan sesuai dengan rencana. Al-Fatihah menjadi pembuka rangkaian acara yang dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Naqodim. Kegiatan ini bertujuan tidak lain untuk mengenalkan santri baru terhadap lingkungan pondok pesantren Darul Falah B-9. Sehingga santri tidak merasa asing dan mudah beradaptasi. Di Dafa santri akan diajarkan bagaimana mengelola hidup. Apalagi santri mempunyai track record yang bagus sebagai kader yang cakap dalam menggeluti bidangnya.

Dengan bangga dan apresiasi tinggi, Ummi menyampaikan ucapan selamat datang kepada para santri baru dan membuka kegiatan TOS dengan bacaan Basmallah. “Harapannya semoga santri baru mampu menjadi kader santri yang berakhlaqul karimah dengan kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang handal,” tuturnya.

Kegiatan permulaan TOS tersebut pada akhirnya di tutup dengan do’a oleh Ust. Arif Royani. Sebagaimana tertera dalam jadwal, hari pertama TOS, santri dibekali dengan materi Sejarah Pesantren Darul Falah Be-Songo. dilanjutkan dengan materi kepesantrenan oleh Abah Imam Taufiq,  Pengetahuan ini dirasa penting, sebab santri kelak di Dafa tidak mungkin bisa lepas dari embel-embel dan dunia ala santri. Kemandirian, kedisiplinan, dan kedalaman pengetahuan agama menjadi nilai lebih yang harus diperoleh santri sebab adanya tradisi. Suatu kebaikan yang ditradisikan pasti membuahkan benih kebaikan pula, yang siap disemai kapan saja.

Baca juga :  Toleransi Sebagai Sarana Pencegahan Radikalisme

Usai abah Imam, dilanjutkan dengan materi membangun tradisi pesantren oleh Ust. AhmadTajudin Arafat. Tidak jauh beda, hal ini pula lah yang menjadi dasar atas nalar dan tingkah laku santri. Pemahaman agama dan nila spiritual kuat harus dibangun pondasinya sejak awal (masuk menjadi santri).

(sholihah/Ainal)

%d blogger menyukai ini: