USIM Malaysia Studi Banding di Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo

Mahasiswi dan Dosen USIM Malaysia, Pengasuh dan Asatidz Pesantren Dafa Be-Songo

BESONGO NEWS – Semarang, (23/10). Antusias santri Pondok Pesantren Be Songo pada pagi ini sangat tidak bisa dipungkiri, mereka menyambut kehadiran tamu dari Negeri Jiran (Malaysia). Persiapan yang telah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya ini mendapat support dari pengasuh dan para ustad. acara yang dimulai dari pukul 08.00 WIB ini berjalan dengan khitmad meskipun diiringiderasnya hujan.

USIM merupakan salah satu  Universitas yang berkunjung ke Pondok Pesantren Darul Falah Be Songo Semarang. Acara ini dalam rangka menyambung tali silaturrahim berupa Study Banding dan Halaqoh bersama antara santri Pondok Pesantren Darul Falah Be Songo dan Mahasiswa USIM (University Sains Islam Malaysia). Rombongan Mahasiswa dari semester 7 yang diwakili oleh 25 orang yang didampingi bapak Khairi. Study Banding dan Halaqoh dengan salah satu lembaga Islam yang menerapkan budaya Nusantara.

“Santri memiliki kontribusi yang sangat besar dalam Negeri ini dan kerangka besar dalam Rahmatan Lil ‘Alimin.”  Ucap Umi Arikhah dalam sambutan beliau di awal acara.

Setelah sambutan dari Umi Arikhah selaku pengasuh Pesantren DAFA Be Songo, kemudian dilanjut dengan pemberian souvenir atau cindera mata untuk USIM yang diterima bapak  dari karya Santri Pondok Pesantren Darul Falah Be Songo dan juga untuk para tamu Mahasiswa USIM yang diterima oleh perwakilan rombongan yaitu Miss Nisa’ berupa karya-karya hasil pengembangan Life Skill santri DAFA Be Songo. Doa penutup oleh Ustad Ahmad Hakim.

Sebelum Study Banding dan Halaqoh dimulai, para tamu undangan disuguhi dengan penampilan dari grup Rebana Al Falah. Setelah penampilan tersebut, acara Halaqoh dimulai dengan materi Sejarah dan Kurikulum Pondok Pesantren Darul Falah Be Songo yang disampaikan  narasumber pertama yakni Ustad Lutfi Rahman. Beliau menyampaikan bahwa beberapa motif atau gengsi yang terjadi adalah mahasiswa mengesampingkan Tafaqquh Fiddin, mengesampingkan akhlaq, mengesampingkan riyadhohdan mengesampingkan jati diri sebagai intelek Muslim berlanjut dengan fenomena masyarakat, Visi dan Misi, makna logo, dan yang terakhir yaitu kurikulum yang diterapkan di Pondok Pesantren Darul Falah Be Songo. Materi berikutnya adalah Profil tokoh Ulama yang berperan di Indonesia dan kontribusinya oleh narasumber kedua Ustad A. Tajuddin Arafat. Yakni tentang 3 Ulama yang berperan adalah Syeikh Romo KH Wahid Hasyim, KH. Salah Mahmud, dan Ahmad Basyir. ketiga ulama tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan pesantren-pesantren di Indonesia.

Baca juga :  Pascalib; Ajarkan Santri Berfashion Syar'i

Penyampai materi dari 4 orang  Mahasiswa USIM yang berbagi ilmu tentang ulama-ulama yang berada di tanah Melayu. Tuan Guru besar (Ulama) mereka menyebutnya, memiliki peran yang sangat penting dalam penyiaran dakwah Islam di Malaysia. Mereka juga menyampaikan cara Tuan Guru Besar berkontribusi Islam di tanah Melayu. Pembahasan berikutnya yakni mengenai surat Al Alaq oleh salah satu perwakilan dari Mahasiswa USIM. Pak Khairi juga menyampaikan bahwa betapa pentingnya membaca dalam ulasan makna Qur’an Surat Al Alaq tersebut. karena wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW adalah Allah mengutus untuk membaca meskipun Nabi tidak bisa membaca.

Setelah penyampaian materi yang dipaparkan dari para narasumber, acara menjadi tegang dan serius. Mr. Adil bin Rahman mempersembahkan sholawat yang diiringi oleh grup Rebana Al Falah untuk sekedar menghibur audien. Perpaduan antara Nusantara dan Melayu pun mulai terjalin hangat.

 Ustad Misbah memberikan uacapan terakhir sebelum acara Halaqoh dan Study Banding ditutup. Beliau menyampaikan “ada momen yang tidak dapat kita ungkapkan yaitu Busyhrollana Nilnal Muna. Semoga tetap terjaga tali silaturrahim dan segalanya memebawa keberkahan.Pak Misbah mewakili Abah Imam Taufiq dan Umi Arikhah selaku pengasuh serta keluarga besar Pesantren Darul Falah Be Songo mengucapkan terimakasih atas kunjungan dari USIM dan memohon maaf sebesar-besarnya”. kata akhir pada perjumpaan ini adalah apabila ada umur panjang bolehlah kita bertemu kembali, apabila ada rezeki banyak bolehlah kita makan lemak bersama. Kemudian diakhiri dengan lagu Yalal Wathon sebagai salam perpisahan.(Laely,Hilvi,Red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: