Gerakan Feminisme dan Keadilan Anak

Foto Pesantren Be-Songo.

BESONGO NEWS – Semarang (24/2), asrama B-9 dipadati dengan santri Darul Falah Be-songo. Mereka cukup antusias mengikuti kegiatan pasca liburan yang telah menginjak hari kelima. Kali ini materi bertajuk tentang “Kampanye Anti Kekerasan Perempuan dan Anak” yang diisi oleh Nur Hasyim. Acara dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan melibatkan semua santri.

Berbicara tentang perempuan yang melekat pada istilah emansipasi memang tidak ada habisnya. Begitu juga dengan hubungan perempuan dan kekerasan, pasti akan selalu ada. Seorang laki-laki jarang memiliki kekhawatiran dan ancaman dalam hal kekerasan, berbeda dengan perempuan yang sangat rentan dengan kekerasan karena kekhawatiran dan takut akan ancaman.

Seakan kebebasan hanya diberikan untuk laki-laki saja, hal ini memang berpengaruh dari sistem sosial yang selama ini terjadi di masyarakat. Seorang laki-laki dianggap  memiliki kemampuan yang cakap dalam sumber daya. Konsep yang ikut memepengaruhi adanya kekerasan perempuan, karena laki-laki selalu menjadi pelaku dan adanya konsep maskuliniti serta feminitas.

Anak juga tidak luput tersandung kasus kekerasan. Faktor yang cukup dominan adalah status dan kedudukan anak tersebut, seperti Belum cukup umur, dianggap belum cakap dan status sosialnya juga ikut mempengaruhi kekerasan terjadi pada seorang anak. Tergantung juga pada tradisi yang ada pada keluarga, seperti ungkapan “di ujung rotan ada emas” (jika tidak keras, tidak akan menjadi orang).

Disinilah peran santri sekaligus mahasiswa untuk menegakkan keadilan bagi kaum perempuan dan anak. Banyak hal yang dapat digelakkan seperti membuat forum, berdiskusi, ikut berperan dalam kegiatan yang berhubungan dengan penolakan kekerasan anak dan perempuan.

Perlu juga meningkatkan atau selalu mempraktekkan “asavetif”. Terdapat tiga langkah didalamnya yaitu ‘berbicara tidak’, berteriak, dan melaporkan. Akhirnya “ alasan kita menolak kekerasan pada perempuan karena kita punya ibu, kita akan memiliki pasangan, memiliki saudara perempuan, anak perempuan dan sahabat peremppuan”, ungkap alumnus UIN Sunan Kalijaga tersebut. (Adila, Red).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: