Besongo Opening Ceremony TOS 2017: Tak Kenal, Maka Ta’arufan

                                  Foto Pesantren Be-Songo.


BESONGO NEWS – Semarang (27/8). Pada periode 2017, Pesantren Darul Falah Besongo yang terletak di kawasan industri Ngaliyan telah menerima 72 santri baru dari 470 pendaftar. Setelah dinyatakan lulus tes seleksi yang diumumkan pada tanggal 23 Agustus silam, santri yang kemudian menjadi bagian dari pesantren tersebut diwajibkan mengikuti beberapa kegiatan. Rangkaian kegiatan tersebut bernama Ta’aruf Orientasi Santri (TOS), semacam wadah bagi santri untuk mengenal satu sama lain dan beradaptasi dengan lingkungan pesantren.
Kegiatan diawali dengan Opening Ceremony sebagai pembukaan rangkaian acara TOS. Munfaridatur Rosyidah selaku pembawa acara memulai acara pada pukul 20.00 WIB di asrama B9. Jajaran pembimbing pesantren seperti ustadz Kharis dan ustadz Ahmad Maftuh turut hadir dalam acara tersebut. Selain itu, hadir pula beberapa pengurus pusat mendampingi santri baru yang terdiri dari 17 santri putra dan 55 santri putri. Masing-masing telah dibagi dalam beberapa kelompok kegiatan.
Kegiatan wajib tahunan ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag selaku pengasuh Pesantren Darul Falah Besongo sekaligus narasumber materi Kepesantrenan. Materi pertama ini dimoderatori oleh Auly Naimul Umam. Abah, sapaan akrab santri terhadap pengasuhnya memaparkan tentang bagaimana adanya suatu pesantren. Terlebih lagi ketika pesantren di daerah perkotaan yang jelas berbeda dengan pesantren salaf pada umunya di pedesaan.
“Apapun yang ada di dalam pesantren sudah mengalami modernisasi, tetapi tetap pada satu tujuan yakni mengajarkan etika dan mendisiplinkan semua santri”, tutur beliau.
Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh di pesantren. Salah satuya adalah pelajaran tentang kehidupan sehari-hari ditengah lingkungan masyarakat. Apalagi semua santri pesantren Darul Falah Besongo merupakan mahasiswa yang jelas dituntut untuk kritis dalam segala hal. Tetapi, tidak lupa pada aturan agama yang menjadi pedoman. Oleh karena itu, santri harus pintar menyeimbangkan anatara keduanya, pesantren dan kampus.
“Intinya pondok itu tentang moralitas. Gunakan waktu dipondok dengan semaksimal mungkin. Jangan dimubadzirkan,” pungkasnya.
Acara selesai pada pukul 21.30 WIB dengan diakhiri briefing acara esok harinya oleh panitia. (Adila/Ay)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: