Meneguhkan Tradisi Literasi di Dunia Pesantren


IMG-20180227-WA0011

BESONGO NEWS – Semarang (26/02). Penutupan Pascaliburan dengan Stadium General sudah menjadi tradisi dari beberapa tahun terakhir. Pada kesempatan kali ini, panitia Pascalib mengundang Bapak Nur Ahmad, S.Th.I. MA. selaku narasumber. Beliau telah menyelesaikan pendidikan S2 di Amsterdarm, Belanda dan sekarang melanjutkan pendidikan S3 di negeri yang sama.

Tepat pukul 20.00 acara dimulai, semua santri mengikuti stadium general dengan khidmad. Jauharotun Nafisah selaku MC, membawakan acara dengan lantang. Acara dibuka dengan pembacaan ayat Suci Al Qur’an oleh Nayla Ulfa. Kemudian sambutan dari Lurah Pondok Muizzatus Sa’adah, yang menyampaikan dengan tegas, bahwa kegiatan Pascaliburan telah usai, maka kegiatan pondok akan dimulai pada hari Rabu tanggal 28 Febuari 2018, sesuai dengan jadwal dan kelas masing-masing.

Dilanjutkan dengan sambutan Abah Imam Taufiq, selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Fallah Besongo menyampaikan beberapa hal penting untuk bekal santri. “Kajian tulis menulis, mamaknai, membaca adalah tradisi pesantren dahulu yang bisa merubah zaman. Imam Ghozali pernah berkata: Jika anda tidak anak dari seorang kiai atau ulama besar, lalu hal apa yang akan diwarisi dari keturunan anda?” dawuh beliau dengan tegas. Kemudian menambahkan, “Tidak ada yang bisa menjamin ingatan manusia, karena semua itu terbatas. Maka untuk menutupi itu kita harus mencari solusinya, yaitu dengan menulis. Segala hal yang kita peroleh dari pengalaman apapun itu harus bisa ditulis”.

Harapan pengasuh, santri Besongo dapat mengoptimalkan pemakaian data secara luas dengan hal yang bermanfaat. Ciri-cirinya yang pertama yaitu literasi data (big data), yang mana data di dunia maya, dunia server adalah data yang kaya, segalanya dapat diakses. Kedua, literasi Teknologi yang setiap hari berubah. Dengan demikian, kita tidak boleh bermanja-manja dengan fasilitas yang ada di masa kini, jadikan itu tantangan untuk maju kedepan. Ketiga, literasi manusia fokuskan pada kemampuan menghidupkan bagi manusia. Karena kemampuan berfikir, kemampuan desain adalah hal-hal yang diwujudkan dari otak manusia.

Penyampaian materi oleh Bapak Nur Ahmad, S.Th.I. MA. Beliau memaparkan banyak tentang makna literasi untuk dunia pesantren. Bahwa pada zaman sekarang kita hidup di era milenial, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menguasai akses media dan melek media sosial, dengan cara mengisi dan menguasai konten-konten islami yang luas serta tidak mengandung unsur redikalisme.

Alumni UIN Walisongo yang sempat mengenyam pendidikan di Amsterdarm ini juga menyampaikan, trik memulai literasi masa kini khususnya di media sosial. Dengan cara menguasai bahan mentahnya yakni Bahasa Arab dan Bahasa Inggris minimal, Bahasa yang lain silahkan yang penting adalah menguasai. Kemudian mencoba menulis artikel, dan diposting pada media online, agar bisa berbagi kepada orang lain dengan hasil pengembangan bahasa asing. Trik yang lain adalah cerdas membaca, apapun yang ada di media dan dunia nyata, santri “zaman now” harus mampu menyikapinya dengan baik dan bijak sehingga ilmu atau informasi yang kita peroleh tersebut melekat.

Stadium general usai sekitar pukul 21.30 WIB. Setelah narasumber menyampaikan banyak motivasi menjadi santri yang berliterasi, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo memberikan cindera mata, berupa penghargaan untuk Bapak Nur Ahmad, S. Th. I. MA. Dan acara Pascaliburan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Hakim, AH. (Hlv/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>