HAUL KH. BISRI SYANSURI KE-39. DAN HJ. NOOR KHODIJAH KE-65 DI BESONGO


Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif (IKAPPMAM) Semarang bersama Pondok Pesantren Darul Falah Besongo menggelar peringatan haul KH. Bisri Syansuri ke-39 dan Nyai HJ. Noor Khodijah ke-65. Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag., sebagai pengasuh besongo, dahulu adalah salah satu santri yang berguru pada KH. Bisri Syansuri di PP. Denanyar, Jombang.

Haul KH. Bisri Syansuri  ke-39 dan Hj. Noor Khodijah ke-65 bertempat di Mushola Raudhatul Jannah. Acara diikuti oleh Alumni dari Pesantren Manbaul Ma’arif, Denanyar, Jombang juga seluruh santri Besongo. Peringatan haul berjalan dengan lancar dan diwarnai suasana khidmat.

Diawali lantunan sholawat dari rebana El-Falah, kemudian acara dibuka oleh pembawa acara dari Ikatan Keluarga Alumni Manba’ul Ma’arif Denanyar. Selanjutnya pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an oleh Naila Ulfah dari asrama B9 yang juga alumni pesantren tersebut. Selanjutnya pembacaan biografi KH. Bisri Syansuri oleh salah satu alumni IKAPPMAM. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil bersama yang dipimpin oleh Auly Naimul Umam dan Zakiyatul Anam, namun sebelumnya tawasul khadharah oleh Abah Imam dan diakhiri doa tahlil oleh Muhammad Arifin, S.Ag. M.Hum. selaku pembina IKAPPMAM.

Setelah itu, mauidzah khasanah oleh Abah Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag . Beliau mengulas banyak tentang pentingnya memperingati hari wafatnya ulama yang berperan dalam menyiarkan agama Islam. “Haul ini merupakan bentuk iththishal al-rukhiyyah dengan harapan dapat tersambung rohani kita dengan orang-orang hebat. Karena ilmu bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga hubungan bathiniyah dengan para masyayikh sebagai kekuatan spiritual yang nantinya akan menyelamatkan diri dari etika tercela”, tutur Abah.

Abah Imam menyampaikan banyak cerita tentang kepribadian mbah Bisri Syansuri yang sangat tawadhu’ terhadap orang lain. Tidak pernah mencela apalagi sampai menjatuhkan pendapat orang-orang alim terdahulu. Karena beliau menganggap semua orang adalah guru yang harus dihormati pendapatnya meskipun berbeda pandangan dengannya.

Pelajaran yang dapat diambil dari KH. Bisri Syansuri adalah pertama, menjadi orang cerdas yang tidak meninggalkan unggah-ungguh terhadap sesama sebagai salah satu bentuk tadzim terhadap orang lain. Kedua, tetap semangat untuk berfikir masa depan demi melanjutkan tradisi-tradisi yang telah diajarkan para Kiai terdahulu dan juga perjuangan para ulama dalam membela dan menghidupkan agama Islam. Peringatan Haul KH. Bisri Syansuri dan Hj. Noor Khadijah ditutup dengan doa oleh Abah Imam kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama. (Hilvi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>