Pesantren Besongo Tampil Menebar Kedamaian


IMG-20180513-WA0017

Semarang, (12/5) Setelah mengikuti berbagai lomba yang diadakan dalam rangka memeriahkan akhirussanah, kini tiba di acara puncak Pondok pesantren Darul Falah Besongo yaitu Haflah Akhirussanah dan Muwada’ah yang merupakan acara tahunan di pondok pesantren.

Acara ini diikuti oleh seluruh santri Darul Falah Besongo dan warga perumahan Bank Niaga pada pukul 19.30 yang diawali dengan penampilan rebana El-Falah. Acara puncak Akhirussanah dipandu oleh 3 pembawa acara dengan menggunakan 3 bahasa, diantaranya Jauharotun Nafisah (Bahasa Arab), Hayu Nabila (Bahasa Inggris) dan Ulfah Anisah Novia (Bahasa Indonesia). Kemudian dilanjutkan dengan tilawah yang dilantunkan oleh Hanif Mustaghfiroh dan Naila Ulfatul Fauziah.

Tugas profetik yang diemban ulama sesuai dengan hadits populer “Al-Ulama Waratsatu Al-Anbiya” berat untuk dilaksanakan, tak sembarang orang mampu mengerjakannya. Namun, tugas mulia ini harus menjadi tanggung jawab ulama. Salah satu tugas itu adalah menjadi penjaga perdamaian.

Inilah mengapa haflah dan akhirussanah Pesantren Darul Falah Besongo ini mengangkat tema “Meneruskan Estafet Perjuangan Ulama dengan Perdamaian”. Bertempat di halaman Musala Raudlatul Jannah, pengasuh pondok pesantren Darul Falah Besongo KH. Imam Taufiq mewisuda 34 santri putri.

IMG-20180513-WA0025

Ritual tahunan seperti ini memang menjadi kekhasan pesantren di Indonesia. Dalam konteks ini, respon Pesantren Besongo merespon hal kekinian. Dengan mengangkat tema haflah kali ini sebenarnya ingin menampilkan wajah santri yang mampu menghadirkan kedamaian, kenyamanan, keamanan, keselamatan adem ayem (tenang dan tentram) di bumi ini. Hal ini pula relevan dengan visi yang diusung pesantren yaitu “Berakhlak Mulia dengan Kompetensi Keagamaan dan Kecakapan Hidup yang Andal”.

Bahwa teroris sejatinya adalah tidak mungkin lahir dari agama apapun tetapi adanya dari pikiran yang rusak, hati yang keras dan jiwa yang menang sendiri. (Al-Irhabu La Yumkinu An Yakuna Walid Al-Adyan Wainnama Huwa Walidun Aqliyyatun Fasidatun Waqulubun Qasiyah Wanufusun Mutakabbirah). Pernyataan ini penting untuk menggaris bawahi bahwa terorisme bukan bagian dari agama yang mengedepankan keramahan dan kesantunan.

Hadir KH. Nawawi at-Tamjani beliau adalah seorang mubaligh yang sudah terkenal dengan pembawaan dakwahnya yang humor tapi berkualitas. Beliau juga teman dekat abah Imam selaku pengasuh pondok pesantren Darul Falah Besongo.

KH Nawawi At-Tamjani memberikan mauidzah hasanah diantaranya: Orang sibuk itu jangan sibuk untuk dunia saja dan mencari rezeki saja, melainkan carilah ilmunya Allah untuk membimbing keluarga dan lingkungan sekitarnya. Siramlah badanmu dengan air wudhu kemudian datanglah tempat sholat untuk mengingat asma Allah.

Allah akan mengangkat derajat dua kelompok: pertama, beriman kepada Allah dan yang kedua berilmu. Jadilah santri yang melayani kiainya, bukan bermaksud merendahkan derajat santri melainkan ta’zim kepada guru atau kiai.

IMG-20180513-WA0019

Beliau juga menyampaikan bahwa kita sebagai muslim perlu memiliki tiga ras. Ras pertama adalah waras. Kewarasan akal dan badan menjadi penting untuk dijaga agar mampu berkelakuan dengan kesehatan logika. Ras kedua yaitu yang mampu mencari beras. Ras yang ketiga yaitu semangat dan kerja keras. (Mubaligh Jawa seringkali menggunakan kata-kata yang pas untuk diambil hikmah).

Hal ini merupakan landasan penting dalam mengambil inti sari dari ayat al-Mujadilah: 11. Terdapat proses panjang untuk meraih dan mendapatkan derajat yang tinggi. Bahkan yang penting adalah proses untuk beriman dan memiliki ilmu. Sedangkan yang penting bahwa keduanya dijalankan terlebih dahulu. Maka, dalam teksnya kata “darajat” ditaruh diakhir, ini menunjukkan bahwa derajat yang kita dapatkan dalam akhir proses.Selain itu, Kiai Nawawi mendoakan agar alumni menjadi sosok penebar damai.

“Tradisi musawah (kesetaraan) penting dihadirkan di dunia dengan adanya kebersamaan dimulai dari kita (pondok pesantren) sendiri, tegas Kiai Taufiq.

Kesetaraan menjadi pondasi penting untuk membangun komunikasi di masyarakat. Tradisi ini sedari awal ditanamkan di pesantren. Pesantren yang memiliki 350 santri putra-putri ini mengajarkan kesamaan kitab, tema dan isu yang sama, pengurus kombinasi antara laki-laki dan perempuan dan hal-hal lain.

Musawah ini harus menjadikan kesetaraan menjadi kebersamaan. Sehingga nantinya ketika pulang menjadi muslim yang mampu menjaga saudara (muslim)nya yang selamat atas ucapan dan tindakannya.(Ina-Zul/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>