Paradoks Fenomena Hijab Abad 21


Esensi berhijab saat ini mulai terkikis oleh budaya hedonism masyarakat. Secara dhahir, meningkatnya antusias masyarakat dalam penggunaan jilbab yang sekarang lebih dikenal dengan istilah hijab memang terlihat bagaikan hilal yang nampak pada awal bulan Ramadlan. Seolah – olah sebagai salah satu prestasi yang berhasil diwujudkan oleh masyarakat muslim di Indonesia untuk membumikan nilai nilai keagamaan. Namun, jika ditelisik lebih dalam lagi, maka akan nampak benih benih hedonism yang tumbuh di dalamnya. Yang pada akhirnya akan menjadi ancaman bagi eksistensi dari esensi berhijab itu sendiri.

Tujuan yang paling mendasar dalam berhijab adalah untuk menutup aurat. Hal ini tentu selaras dengan syariat Islam yang mewajibkan umat muslim untuk menutup auratnya. Meskipun dalam hal cara menutup aurat dikembalikan pada urf pada masing masing kondisi sosio kutural suatu masyarakat. Yang demikian itu menjadi peluang besar atas perkembangan penggunaan hijab dengan berbagai cara dan model. Perkembangan tersebut tidak dapat dipungkiri, apalagi dengan arus globalisasi yang semakin kuat.

Tidak sedikit dari masyarakat muslim yang menggunakan hijab hanya sebagai gaya busana. Pengaruh globalisasi cukup kuat untuk mengubah cara pandang individu tentang penggunaan hijab. Hijab yang pada hakikatnya adalah untuk menutup aurat beralih menjadi pemanis busana. Hal tersebut sangat terlihat di kalangan selebritis di Indonesia. Ada beberapa diantara mereka yang menggunakan hijab hanya karena tuntutan peran. Terutama pada momen momen besar Islam.

Saat ini hampir seluruh mahasisawi muslim di berbagai perguruan tinggi di Indonesia menggunakan hijab. Mereka memang berhijab, tapi pakaian mereka masih ketat dan lekuk tubuh jelas terlihat. Dan mungkin sudah mentradisi bahwa ke kampus harus berhijab. Apalagi saat ini banyak style berhijab yang bagus dan unik yang pasti mampu menunjang penampilan mereka. Tentu ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka akan esensi dari berhijab belum ada sepenuhnya dalam diri mereka.

Dengan demikian, nampak adanya paradok dalam menggunaan hijab pada abad ini. Hijab yang pada dasarnya untuk menutup aurat kini menjelma menjadi hiasan pemanis dalam berbusana. Di sisi lain antusiame masyarakat dalam menggunakan hijab merupakan sesuatu yang positif sebagai salah satu identitas seorang muslim. Selanjutnya adalah tergantung pada maksud dan tujuan dalam penggunaan hijab. Meskipun yang nampak sebagai hilal ternyata adalah Venus, namun hal itu mampu memberikan kedamaian dan ketentraman mengapa harus dipermasalahkan.

Penulis: Kamalatus Sholekhah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>