Halaqoh : Santri Melek Politik

_20180922_094733

BESONGONEW – Semarang (21/09). Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang mengadakan halaqoh perdana di semester ganjil kali ini mengangkat tema “Ulama Berpolitik”. Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja devisi pendidikan yang dilaksanakan tiap dua minggu sekali. Seluruh santri putri Ponpes Darul Falah Besongo tampak memenuhi ruangan, dengan melibatkan dua penengah yaitu Ustadz Kharis dan Ustadz Umar. Seperti biasanya, kegiatan ini berlangsung di aula asrama B9 dan madin Raudhatul Jannah.

Menurut Adila selaku koordinator devisi pendidikan, diselenggarakannya halaqoh pada Jum’at malam ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap kritis santri serta tanggap dalam setiap masalah yang terjadi diera modern seperti sekarang. Tema yang diusung tersebut diharapkan mampu membuat santri melek dunia politik yang saat ini sedang diperbincangkan masyarakat terlebih menjelang pemilihan presiden Republik Indonesia.

Untuk meningkatkan keaktifan peserta, department pendidikan memilih sistem debat. Pasalnya, meskipun dibentuk model debat, tetapi  bukan saling menjatuhkan lawan dan mencari kemenangan, melainkan tujuannya untuk mengungkapkan hasil diskusi dari sisi setuju dan tidak setuju masing-masing kelompok.

Nia dari asrama A7, perwakilan dari kubu pro mengatakan bahwa ia setuju jika ulama ikut serta andil di dunia politik.

“Seorang ulama itu sah sah saja terjun dalam dunia politik selagi mereka mampu membawa kemaslahatan. Seperti yang disampaikan oleh Gus Dur bahwa sebagai santri kita itu boleh anti politik tapi jangan sampai benci politik, karena santri itu harus melek politik dan melek media”, jelasnya.

Pernyataan tersebut ditolak oleh Rifka dari asrama B5 sebagai perwakilan grup kontra. Menurutnya, akan ada efek negatif jika ulama terjun di ranah politik.

“Ulama yang berpolitik itu hanya akan mencoreng nama baiknya dan terlalu banyak madharat yang ditimbulkan jika mereka terlibat dalam kasus korupsi”, ungkapnya.

Baca juga :  Hari Santri Nasional 2020, Besongo Adakan Upacara Peringatan

Menanggapi opini yang disampaikan masing-masing kelompok yang berseberangan, Ustadz Kharis menengahi dan memberikan kesimpulan di akhir acara.

“Ulama’ dan politik itu saling berkaitan khususnya dalam bidang dakwah. Karena dalam berdakwah ulama juga membutuhkan politik, agar dakwahnya berhasil dan politik ini juga sudah ada sejak zaman Rasulullah. Jadi, jika ada ulama’ yang ingin terjun dalam politik itu boleh-boleh saja, yang terpenting nantinya politik itu membawa kemaslahatan bukan kemadharatan”, pungkasnya.

(Saniyah-Red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: