Makna Bijak Bermedsos

IMG-20181003-WA0048

Oleh : Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag.

Ketika SMS dan telepon tidak lagi menjadi layanan utama komunikasi masyarakat; Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, Youtube, BBM, atau Telegram menjadi aplikasi media sosial (medsos) paling populer yang nyaris tak pernah lepas dari gadget setiap orang. Fenomena ini menjawab kebutuhan manusia yang ingin bertukar informasi dengan mudah, cepat, dengan aneka fasilitas yang praktis, mudah, murah, dan lengkap. Maka chatting, blogging, groupping, forum diskusi, dan berbagi pesan, gambar, audio, atau video menjadi trend komunikasi dewasa ini yang tak terbatas.

Namun, medsos itu ibarat senjata tajam yang dapat digunakan untuk hal-hal positif, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula digunakan untuk sesuatu yang negatif, seperti permusuhan, fitnah, provokasi, kebencian, menyulut konflik bahkan menyebarkan ide-ide radikalisme dan terorisme. Lihat misalnya, aksi rekruitmen, penggalangan dana, maupun simpatisan pendukung kelompok radikal atau terorisme dengan memanfaatkan medsos sudah sangat menggejala.

Mengunggah status dalam medsos berarti berbicara dan bertutur kata. Setiap orang dituntut untuk melahirkan perkataan yang benar dan menyejukkan. Tidak mengatakan sesuatu kecuali yang benar. Muslim yang baik senantiasa melahirkan bincang, serta sikap baik dan benar, yang sejalan dengan Tuhan Yang Maha Baik. Allah berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushilat : 33). Dengan demikian, konten medsos menjadi kriteria utama kualitas media. Ujaran kebencian, berita bohong, upaya adu domba, dan permusuhan dalam konten media sosial merupakan sesuatu yang tidak etis bahkan dilarang oleh agama.

Selain itu, Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan bahwa salah satu kualitas kaum beriman adalah bahwa mereka itu “Dibimbing ke arah tutur kata yang baik, serta dibimbing ke arah jalan (Allah) Yang Maha Terpuji” (QS. Al-Hajj: 24). Karena tutur kata merupakan cermin pikiran dan sikap batin, maka tutur kata yang baik dan benar disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu syarat perwujudan perbuatan yang baik dan benar pula. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Ahzab: 70-71: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan bertutur katalah yang baik. Maka Dia (Allah) akan membuat baik amal perbuatanmu dan mengampuni dosa-doa kamu sekalian..” bahkan Nabi Musa dan Nabi Harun pun saat menghadapi Fir’aun dipesan : “Maka ucapkanlah olehmu berdua tutur kata yang lembut kepadanya, kalau-kalau dia menjadi ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44). Maka dalam konteks ini, bertutur kata yang baik menjadi indikator kualitas keimanan dan kualitas kepribadian seseorang, semakin baik dan santun ia bertutur kata, semakin tinggi kadar kualitas iman dan pribadinya.

Baca juga :  Besongo: Dari Kaos Berujung Bansos

Dalam hal menjaga lisan atau mengelola status, menjadi relevan menyebutkan nasehat Imam al-Nawawi dalam al-Azkar, yaitu:

اعلم أنه لكل مكلف أن يحفظ لسنانه عن جميع الكلام إلا كلاما تظهر المصلحة فيه، ومتى استوى الكلام وتركه فى المصلحة، فالسنة الإمساك عنه، لأنه قد ينجر الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة

“Hendaklah setiap orang menjaga lisannya pada pembicaraan apapun, kecuali bila dipastikan ada kemaslahatannya. Namun jika bimbang, antara meninggalkan dan mengucapkannya sama-sama ada maslahahnya, disunnahkan tetap diam (tidak berkata apapun). Sebab terkadang perkataan biasa bisa berimplikasi pada keharaman dan makruh. Bahkan hal seperti ini banyak terjadi.”

Lebih lanjut Imam al-Nawawi menjelaskan sembari mengutip arahan Imam al-Syafi’i terkaitan dengan bertutur kata yang baik:

إذا أراد الكلام فعليه أن يفكر قبل كلامه، فإن ظهرت المصلحة تكلم، وإن شك لم يتكلم حتى تظهر

“Apabila kalian hendak bicara, berpikirlah sebelumnya. Jika ada kemaslahatan pada ucapan tersebut, bicaralah. Andaikan kalian ragu, lebih baik tidak bicara sampai ditemukan kemaslahatannya”

Jika berbicara dan menyampaikan kata di medsos, mari kita pikir sematang mungkin, jangan gegabah. Analisa baik buruk, manfaat dan mudharatnya; bisa jadi terdapat informasi yang baik, tetapi akan berdampak negatif kepada publik dan orang lain, maka jangan dishare terlebih dahulu sebelum jelas kalkulasi dampaknya. Apalagi jika berbicara dan merespon di medsos dengan sesuatu yang membincang keburukan orang lain (ghibah), fitnah, adu domba (namimah) dan mengundang permusuhan dan kebencian antara pribadi dan komponen masyarakat, terlebih hal-hal yang mengajak dan berpotensi menyulut kekerasan, radikalisme dan terorisme, maka hal-hal tersebut bukan etika santri dan pasti bukan akhlak orang beriman. Maka hindarilah hal-hal yang berdampak buruk dan negatif dari share ide di medsos. Mari kita tradisikan bermedia sosial yang sehat, benar, produktif dan menyenangkan.

|Tulisan ini merupakan bagian dari tulisan buletin Al Qolam edisi 5|

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: