Professor Imam: Hoaks sering menimbulkan perseteruan dan konflik

IMG-20181013-WA0007

Besongo News — Ngaliyan (13/10). Suasana khidmat terlihat memenuhi area Musholla Raudhatul Jannah saat acara kajian kitab berlangsung. Acara kajian ini rutin diadakan seminggu sekali, yakni setiap Sabtu pagi setelah menunaikan jamaah Shubuh. Diikuti seluruh santri pondok pesantren Darul Falah Besongo baik putra maupun putri serta beberapa warga sekitar. Kajian ini bertujuan untuk memberi pengetahuan baru kepada santri di luar jadwal pengajian kitab yang telah di ditentukan dalam sistem pesantren.

Acara yang bertajuk ceramah Islami ini megambil materi pentingnya memiliki sikap bijak dalam bermedia. Prof. Dr. KH. Imam Taufiq selaku pengisi kajian memberi himbauan kepada para santri agar tidak sembarangan dalam menerima informasi yang belum valid konteksnya. Mengacu pada QS. al-Hujurat ayat 6, sikap awal yang harus ditanamkan ketika mendapati sebuah berita maka hendaknya bertabayyun. Jika tidak, dampak negatif yang terjadi akan timbul penyesalan terhadap apa yang telah diperbuat.

“Jika kita lebih teliti, sebenarnya berita hoaks itu bisa diketahui dari awal. Berita hoaks isinya berpotensi membuat perseteruan, pertengkaran, ketersinggungan, menjelekkan fakta yang ada, bahkan memicu amarah kelompok tertentu. Jika ditemukan berita yang demikian, sudah dipastikan itu termasuk berita hoaks. Karena pada dasarnya, berita yang baik adalah berita yang apa adanya menceritakan kejadian yang ada tanpa penambahan maupun pengurangan yang tidak perlu.” Ungkap Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang.

Selain itu, wakil rois PWNU Jateng ini juga memberi peringatan betapa pentingnya mengetahui darimana informasi berita itu beredar. Jika sumbernya sudah jelas, selanjutnya tugas utama sebagai santri adalah menyebarkan kepada masyarakat luas. Hal tersebut juga merupakan salah satu cara meminimalisir tersebarnya berita hoaks dengan menutupi berita-berita yang bersifat real.

Baca juga :  Besongo: Pelatihan Budidaya Jamur Tiram

Di akhir kajian, abah Imam menambahkan “Menyebar berita baik merupakan bagian dari dakwah. Sudah semestinya sebagai santri mengambil peran dalam menyebarkan berita baik, yang mana bisa dimulai dari diri sendiri.” Pungkas abah yang dulu pernah nyantri di Ponpes Denanyar Jombang ini. (Ziya – red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: