Agus Muthohar Latih Pola Pikir Santri Sejak Dini

Cara-Hidup-Orang-Sukses

Besongo News – (20/10). Pondok pesantren Darul Falah Besongo kembali gelar pengajian rutin tiap Sabtu pagi di mushola Roudhotul Jannah Perumahan Bank Niaga Semarang. Jika sebelumnya pemateri adalah dari ustad pondok sendiri, kali ini narasumber datang dari negara kanguru Australia, tempat beliau menempuh program doktornya. Dalam kesempatannya pulang ke Indonesia, alumnus Uin Walisongo itu menyampaikan bagaimana cara melatih pola pikir sejak dini di depan ratusan santriwan santriwati dan beberapa warga sekitar.

Berdasarkan penjelasannya, terdapat 2 tipe pola pikir yang dimiliki manusia, yaitu Growth Mindset (Mental Tumbuh) dan Fixed Mindset (Mental Tetap). Keduanya mempengaruhi seseorang dalam mengambil langkah dimasa depan.

Menurutnya, Fixed Mindset menjadikan seseorang berpikiran statis, tidak ingin melakukan perubahan sehingga tidak bisa berkembang. Seseorang yang berpikir demikian, merasa kemampuan yang dimilikinya sudah cukup sehingga ia tidak melakukan usaha lebih. Secara tidak sadar, ia telah melabeli dirinya sendiri dan tidak ingin melakukan apa-apa. Pribadi seperti ini sudah beranggapan negatif bahwa sekeras apapun usaha yang dilakukan tidak akan memberi pengaruh kepadanya.

Berbeda dengan Growth Mindset, pola pikir ini melatih diri agar memiliki motivasi untuk selalu berusaha, tidak mudah lelah, serta memiliki tujuan agar selalu belajar. Meninjau dari pendapat Quraisy Syihab, beliau mengatakan bahwa takdir ada 2 macam. Pertama, takdir yang sudah ditetapkan. Kedua, takdir yang masih bisa diusahakan. Konsep Growth Mindset mengacu pada pembagian takdir kedua, yang mana selagi manusia mau berikhtiar dan bertawakkal akan membuahkan hasil yang baik. Tak lupa, disertai pola pikir dan kepercayaan yang tinggi. Bahkan, ajaran Islam merupakan ruang terbuka luas sebagai tempat berproses.

“Kita bisa menarik kuda ke pinggir sungai. Tetapi, kita tidak bisa menyuruh kuda itu untuk minum. Artinya, kita bisa saja memerintah orang lain, tetapi tidak bisa mengendalikan kehidupannya.” Ungkap alumni S1 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan ke Keguruan itu.

Baca juga :  Pembukaan Haflah Akhirussanah Tahun 2018

Di akhir acara, beliau juga menekankan kepada para jama’ah agar senatiasa berusaha, tidak mudah lelah, memiliki tekad serta strategi agar bisa menjadi orang hebat.

“Be the best personal, jadilah orang terbaik.” Pungkas alumni S2 Austin Texas University Amerika sekaligus menutup acara. (Ziya/red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: