Asah Life Skill, Budhe Dewi Ajarkan Santri Membuat Kue Jubika

IMG-20181028-WA0051

BesongoNews, Ngaliyan (28/10) – Sekitar 70 santri putra dan putri Pesantren Darul Falah Besongo tampak antusias ikut serta dalam kelas keterampilan memasak. Bertempat di asrama B5, kegiatan rutin tiap weekend ini diampu oleh Hj. Dewi Umniyah, kakak dari pengasuh pondok umi Hj. Arikhah. Jika di minggu sebelumya mereka telah membuat kue lapis dan apem, kali ini budhe Dewi, sapaan beliau, mengajarkan cara membuat kue jubika atau pukis.

Beliau menjelaskan kepada para santri bahwa ilmu mengenai pembuatan kue jubika dapat menjadi pengetahuan tambahan dan peluang bagi santri untuk berwirausaha. “Keterampilan membuat kue Jubika ini bisa dimanfaatkan ketika ada acara di rumah atau dapat menjadi peluang usaha jika mau menekuni”, ujarnya.

Wahyu Ambar mengapresiasi dan merasa senang mengikuti keterampilan membuat jajan pasar itu. “Masak kue jubika kali ini sangat menyenangkan. Semuanya ikut turun tangan, dirasa membuat kue jubika ini lebih mudah dibandingkan praktek membuat kue sebelumnya. Harapannya semoga santri tidak hanya mempraktekkan ilmu ini ketika dipondok saja. Akan tetapi, nanti ketika di rumah mereka juga bisa memnafaatkan ilmu ini”, tutur santri asrama A7.

Keseriusan yang tampak dari para peserta santri kelas 2 terlihat jelas dari wajahnya yang memperhatikan setiap kalimat yang budhe Dewi ucapkan. Terlebih ketika ikut berkecimpung praktek langsung cara membuat kue jubika. Sembari dibimbing dan dituntun budhe, mereka mengaplikasikan apa yang telah budhe catatkan.

Pesantren Darul Falah Besongo life skill ini merupakan salah satu pesantren yang membekali para santrinya tidak hanya mengaji kitab dan Al Qur’an, melainkan juga mengkaji berbagai keterampilan hidup. Di antara pelatihan yang diajarkan adalah menyablon, menjahit, menyulam, membuat baki lamaran, membuat manik-manik, memasak, dan lain-lain. Kegiatan rutin tersebut dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Ahad sesuai jadwal dan kelas masing-masing. Dengan adanya pelatihan kecakapan hidup, diharapkan ketika terjun di masyarakat, santri Besongo bukan hanya dinilai sebagai mahasantri saja. Akan tetapi sebagai santri melenial yang terampil dalam segala bidang sebagai modal hidup mandiri dan dapat mengabdi di tengah masyarakatnya nanti. (Rizal – red/Ay)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: