Memediakan Media Sosial Menjadi Media Positif

07-36-36-2Q==

Ilustrasi : plukme.com

Oleh : M. Faiq Azmi ( B 17 )

“Dunia maya bagaikan hutan belantara yang selain terdapat manusia-manusia berbudi penuh, juga terdapat makhluk-makhluk palsu yang tidak bertanggung jawab.” (Gus Mus)

Zaman milenial ini, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa media sosial menjadi kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan oleh semua kalangan masyarakat, terutama kalangan remaja. Gawai menjadi prioritas genggaman yang dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, bahkan anak usia dini . Sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu untuk berselancar dan menikmati media sosial. Beragam akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Telegram, serta aplikasi lainnya telah berhasil menarik perhatian masyarakat zaman sekarang.

Media sosial menjadi perantara dan penghubung jutaan orang diseluruh dunia. Pemanfaatan kemajuan teknologi seperti media sosial harus diimbangi dengan sifat hati-hati dan teliti. Realita yang ada menunjukkan bahwa beragam konten negatif dengan mudah ditemukan di media sosial. Konten negatif seperti komentar yang menunjukkan kebencian, saling hina, bahkan hal yang menyimpang SARA mudah dijumpai. Belum lagi bahaya tentang berbagai pemikiran dan ajaran-ajaran meresahkan yang dapat dengan mudah dijumpai di media sosial. Kebebasan di dunia maya memudahkan masyarakat awam menemukan pemikiran yang cenderung negatif dan berakhir pada kekerasan atau perpecahan.

Fenomena di atas memunculkan kekhawatiran dan dampat negatif dalam kemajuan media sosial. Menyikapi fenomena tersebut, adab dalam bermedia sosial perlu diperhatikan. Sikap santun, berhati-hati dan ramah dalam bermedia sosial harus diaplikasikan secara optimal. Akun media sosial memberikan kebebasan kepada siapa pun untuk menulis tentang apa saja. Perilaku tabayyun menjadi salah satu adab dalam bermedia sosial. Tabayyun mengajarkan untuk memilih dan memilah apa yang kita baca dan mencari kebenaran sebuah tulisan. Menjadi seorang santri masa kini, seharusnya lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap suatu tulisan, bahkan hingga membagikan konten yang belum pasti kebenarannnya. Ketika kita membuka laman web, secara otomatis akan menambah rating dari laman tersebut, apalagi ketika membagikan konten tersebut. Hal ini akan menguntungkan pihak-pihak yang menyebarkan konten negatif tersebut.

Baca juga :  Meretas Kembali Citra Pesantren

Perwujudan sikap tak setuju dengan sebuah pendapat di media sosial, hendaknya jangan langsung memprotes dan mengkritiknya. Apalagi sampai menghujat dan menulis kalimat-kalimat negatif. Hal tersebut tidak akan memberi keuntungan kepada komentator. Bahkan hanya akan membuat tulisan tersebut semakin ramai. Adapun cara yang lebih baik adalah dengan menulis secara terpisah. Buatlah opini yang bersifat kontra terhadap pemikiran-pemikiran yang dianggap negatif. Tunjukkan hal yang dianggap positif, lalu posting opini tersebut. Cara tersebut dinilai lebih santun dan damai sehingga meminimalisir munculnya komentar-komentar negatif yang mendorong kekerasan dunia maya.

Hal penting dalam menyikapi media sosial saat ini adalah menyadari bahwa media sosial merupakan sebuah alat yang diciptakan untuk memudahkan manusia. Media sosial bukan menjadi provokator perpecahan dan kekerasan dunia maya. Apabila media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak, kita dapat menggunakan media sosial sebagai media dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman. Peluang menyebarkan ajaran Islam dengan ramah menjadi Islam yang rahmatan lil alamin terbuka lebar di media sosial. Sekali lagi, media sosial hanya sebuah alat, tergantung bagaimana masyarakat memanfaatkan alat tersebut. Pada dasarnya kita hidup di dunia nyata, bukan dunia kecil yang dikenal dengan dunia maya. Dunia nyata dimana setiap orang memang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan kehendak Tuhan. Kita tidak dapat menyamakan, sehingga kita tidak memiliki hak untuk menghina siapapun karena perbedaan. Perbedaaan ada bukan untuk yang demikian, karena perbedaan adalah nikmat dari Tuhan yang harus disikapi dengan kebijaksanaan.

| Tulisan ini merupakan bagian dari buletin Al Qolam edisi 5 |

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: