Pesantren sebagai Agent of Development

IMG-20181014-WA0004

Ilustrasi : Tim informasi dan Humas Besongo

Oleh : Munfaridatur Rosyidah ( A 7 )

         Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan pengembangan masyarakat, dan sekaligus menjadi simbol budaya. Tujuan umum pondok pesantren adalah mencetak generasi yang berakhlakul karimah, dan menanamkan keagamaan bagi semua kehidupannya serta menjadikan generasi yang bermanfaat dan bisa berkontribusi untuk masyarakat sekitar. Selain itu tujuan khusus podok pesantren adalah mendidik generasi untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungan dalam rangka pembangunan negara. Salah satu wujud pembangunan negara adalah melalui berwirausaha. Karena wirausaha pun saat ini sangat dibutuhkan untuk menutupi masalah perekonomian yang ada di Indonesia.

           Kondisi ekonomi umat yang semakin terpuruk, dengan melihat disatu sisi Sumber Daya Manusia yang potensial yang dimiliki oleh pondok pesantren maka sangatlah perlu adanya pelatihan enterpreneurship bagi umat Islam. Fenomena kemrosotan umat Islam di bidang ekonomi merupakan sebuah problem kemiskinan dan keterbelakangan akibat berada pada kondisi yang lemah dalam ekonomi dan bisnis. Perlu adanya pembuktian untuk mengatasi permaslahan tersebut yaitu dengan pengembangan sumber daya manusia inilah nantinya akan memupuk rasa keberanian dalam menanggung resiko, memiliki kreativitas, ketrampilan, dan mampu mengembangkannya menjadi lahan dalam menghimpun modal pengembangan bagi pondok pesantren itu sendiri maupun bagi santrinya.

            Pesantren sebagai tempat mendidik santri yang memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Pertama, sebagian besar pesantren berada di daerah pedesaan. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi kerakyatan secara efektif dapat dilakukan melalui pesantren. Kedua, pesantren merupakan lembaga yang sosial agamanya sangat kuat, karena berbasis masyarakat dan ‘’social trust’’ sangat tinggi. Itulah pengembangan ekonomi umat dapat efektif melalui santri di pesantren.

            Pemerintah, melalui Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah, Departemen Perindustrian, dan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah berkomitmen untuk mengembangkan dan memberdayakan program ekonomi kerakyatan di Pesantren. Hingga tahun 2007 Ditjen Usaha Kecil Menengah. Departemen Perindustrian telah berhasil membina lebih dari 700 pondok pesantren yang tersebar di 26 provinsi. Pembinaan yang dilakukan meliputi antara lain program bantuan teknis, pendampingan tenaga ahli, pelatihan ketrampilan. Tujuan dari pembinaan itu antara lain untuk menyiapkan para santri menjadi wirausahawan baru, disamping juga untuk menyiapkan sumber pendapatan pesantren, lalu memanfaatkan potensi dan aset pesantren ke arah usaha produktif. Serta untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme di kalangan pesantren. Pondok pesantren sangat memiliki potensi kewirausahaan yang besar untuk didayagunakan sebagai suatu kekuatan yang mampu mengatasi problem kemiskinan dan pengangguran dalam rangka mewujudkan pesantren sebagai agent of development.

            Berusaha merupakan salah satu alasan dalam rangka melanjutkan keberlangsungan hidup. Hal ini memotivasi  lahirnya kreativitas secara personal sebagai santri ataupun kolektif dalam sebuah lembaga pondok pesantren. Kreativitas yang dimaksud adalah melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dirinya, sehingga melaksanakan pekerjaan tersebut dirancang, dikelola, dan dikendalikan dengan baik. Wirausahawan adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau dunia bisnisnya.

            Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new an different) melalui berfikir kreatif dan inovatif dimana kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengolahan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda melalui pengembangan teknologi baru, penemuan pengetahuan ilmiah baru, perbaikan produk barang atau jasa dan penemuan cara-cara baru untuk menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya lebih efisien.

            Bangsa Indonesia mempunyai potensi dan bakat terpendam untuk dapat maju. Namun persoalannya adalah bagaimana bakat dan potensi yang dipunyai itu dapat tereksploitasi. Kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul serta sering dikaitkan dengan tindakan kreatif dan inovatif. Bangsa Indonesia mempunyai potensi namun belum ada pihak-pihak yang mempunyai otoritas yang mampu menyerap potensi tersebut dan menuangkannya dalam sebuah konsep terpadu guna meningkatkan taraf hidup bangsa. Potensi terpendam yang dimaksud adalah semangat dan bakat kewirausahaan. Bangsa kita, yang terpresentasikan oleh lapisan masyarakat kelas bawah, adalah bangsa yang memiliki daya juang, kreativitas serta semangat kewirusahaan tinggi. Keberhasilan seorang wirausaha bergantung pada ketersediaannya bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan. Kegagalan dan keberhasilan dalam usaha harus diterima sebagai pengalaman. Keberhasilan adalah buah dari segala usaha yang tidak kenal lelah.

Baca juga :  Etos Santri dalam Berliterasi

            Upaya membangun kembali semangat dan jiwa kewirausahaan umat Islam di Indonesia, merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar lagi. Kini saatnya kita mengembaangkan dan membangun pengusaha-pengusaha yang memperhatikan pemerataan ekonomi yang dicita-citakan oleh umat Islam yang tangguh dalam jumlah yang cukup besar. Tujuannya untuk mewujudkan negara Indonesia dengan membangun landasan yang kokoh, yakni dengan memperbanyak pilar pengusaha pribumi yang menyangga bangunan ekonomi bangsa. Ditangan para santrilah hal ini dapat diwujudkan karena para santri adalah prioner kewirausahaaan di kalangan pribumi sehingga merek selalu di identikkan dengan kelas pedagang. Etos kewirausahaan ada para kaum santri yang pada umumnya memiliki etos kewirausahaan dan etos kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan kaum agama lainnya.

            Pondok pesantren sebagai agent of development merupakan lembaga pendidikan yang merupakan aset bangsa yang cukup mengakar dalam kehidupan masyarakat. Sebagai lembaga dakwah, pesantren mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembinaan umat yang telah mencetak kader-kader ulama, mencerdaskan masyarakat serta mampu menanamkan jiwa kewirausahaan dan memiliki potensi untuk menjadi pelopor pembangunan masyarakat di lingkungan pondok pesantren. Sehingga cakupan kegiaatan pondok pesantren semakin luas dan mendalam. Kegiatan tidak lagi terbatas pada pendidikan agama, dakwah, pembinaat umat dan kegiatan sosial lainnya, tetapi juga merambah pada kegiatan ekonomi.

            Selaras dengan pembinan yang dilakukan oleh lembaga pondok pesantren untuk keberhasilan para santrinya tentunya para santri dibekali ketrampilan dengan tujuan membentuk soft skill para santri. Soft skill merupakan tingkah laku yang dapat mengembangkan dan memaksimumkan kinerja santri misalnya dengan memberikan pelatihan-pelathan kewirausahaan di lingkungan pesantren sehingga dapat tercermin dalam perilaku yang memiliki kepribadian, sikap, dan perilaku yang dapat diterima dalam kehidupan masyarakat dengan kemampuan kewirausahaan yang handal. Dengan dibekali pengetahuan kewirausaan yang memadai dan disertai prakteknya, maka para santri akan mempunyai kemauan dan kemampuan yaang memadai, sehingga tidak akan kebingungan ketika harus memasuki pasar kerja.

            Kewirausahaan sangat penting dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Sedangkan pondok pesantren sebagai agent of development haruslah dapat mengembangkan potensi wirausaha yang dimiliki untuk mengatasi konstalasi perekonomian yang serba tak menentu. Sudah saatnya umat Islam bangkit dari kesulitan ekonomi dalam menghadapi problem kemiskinaan dan keterbelakangan akibat termajinalkan dalam dunia ekonomi dan bisnis dengan membangun jiwa enterpreneurship yang tangguh. Banyaknya enterpreneur merupakan indikator suatu negara maju dan makmur, jika dengan indikator rendahnya angka pengangguran dan tingginya devisa terutama dari barang dan jasa dan eksport yang dihasilkan.

| Juara 2 Artikel Putri dalam Lomba Akhirusaanah 2018 PP. Darul Falah Besongo |

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: