Akhlakul Karimah; Wujud Nyata Kualitas Keberagamaan Manusia

IMG_20181105_064921

Ilustrasi : Tim Humas dan Informasi Besongo

Besongo News — “Akhlak adalah sesuatu yang menggerakkan jiwa dan hati seseorang untuk berbuat dan berperilaku dengan kesadaran penuh tanpa adanya rekayasa maupun dorongan dari pihak manapun.” Sepenggal kalimat itulah yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag ketika mengisi pengajian rutinan yang diselenggarakan di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah), Semarang pada Ahad (04/11) pukul 07.00 WIB. Jamaah dari berbagai tempat terlihat memenuhi area MAJT untuk mendengarkan siraman rohani yang sebelumnya diisi dengan kegiatan berjanjenan terlebih dahulu.

Kajian kali ini membahas tentang urgensi sebuah akhlak relevan dengan kondisi negara Indonesia maupun umat Islam dalam menghadapi problematika yang tak kunjung ada habisnya. Peran akhlak disini sangat penting untuk menjaga silaturrahmi dengan tujuan meminimalisir tersebarnya fitnah yang kian merajalela. Selain itu, banyaknya berita hoaks yang tersebar, apabila tidak disikapi dengan bijak, akan memberikan dampak tidak baik.

Pentingnya memiliki akhlakul karimah dalam diri seseorang menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebaikan umatnya agar senantiasa berperilaku dan bertindak sesuai syariat. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW turun ke bumi tak lain untuk menyempurnakan akhlak umatnya. Akhlak menjadi cita-cita Nabi ketika beliau diturunkan pertama kali dari langit. Mengingat kembali pada saat Nabi lahir zaman tersebut dinamakan dengan zaman jahiliyah. Disebut demikian karena mayoritas umat pada saat itu kualitas akhlaknya sangat rendah. Salah satu contohnya tentang kasus anak perempuan yang lahir harus dibunuh dengan alasan akan mempermalukan, padahal disisi lain ketika ia sudah beranjak dewasa, justru menjadi hal yang diperebutkan untuk dijadikan istri atau budak. Tidak ada lagi unsur memanusiakan manusia. Kondisi saat itu sangat parah hingga diutuslah Nabi Muhammad untuk memulihkan ke jalan yang benar.

Baca juga :  Mengurai Dialektika Hukum Islam di Indonesia

“Akhlak itu bersifat spontan, datang secara tiba-tiba dan sudah tersirat di dalam hati tanpa ada pemikiran sebelumnya. Akhlak menjadi karakteristik bagi seseorang. Bagaimana ia berbuat, demikianlah akhlak yang dimiliki.” Ungkap pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo yang mengisi kajian pagi tersebut.

Paparan yang disajikan kali ini menjadi tuntutan bagi seseorang agar mulai terbiasa menerapkan akhlak sebagai sesuatu yang melekat, menjadikannya sebagai bagian intirn dengan cara meneguhkan iman dan memegang teguh nilai-nilai tauhid secara murni tanpa ada perkara yang menjadikan kita meragukan Allah, seperti halnya takut pada masalah harta atau jabatan.

“Orang yang memegang teguh nilai-nilai tauhid berarti menjadikan Allah sebagai sumber kasih dan sayang. Sifat rahman dan rahim nya Allah inilah yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan ditanamkan sebagai salah satu ciri akhlakul karimah.”  Pungkas guru besar ilmu tafsir yang sering disapa Abah Imam oleh para santrinya mengakhiri kajian. (Rizal/ziya-red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: