Menjadi Mata Air untuk Tanah Air

Usaha-Belajar

Oleh : Alfi Hurairah*

Siang ini, matahari berada pada titik kulminasi. Polusi yang dihasilkan kendaraan begitu mengganggu. Saling hantam, saling sikut. Oksigen yang tak tahu apa-apa menjadi terhimpit di antara keduanya. Menghela lelah penuh derita, berharap sang monoksida berbaik hati berbagi tempat untuknya. Dia punya tugas hari ini, esok dan seterusnya. Memberi penghidupan bagi para Makhluk-Nya, sebagai bukti ke-Arrahman-Nya pada seluruh alam.

Aku memandang motor hitam yang ku kendarai dengan senyum getir, betapa aku juga telah ikut andil dalam polusi ini. Namun, inilah waktuku. Sebagai tenaga pengajar dalam sebuah pesantren keagamaan, aku punya kewajiban terhadap semua murid-muridku. Jam kelasku telah tiba, dan aku harus cepat kesana.

Setelah memarkir motor, aku melangkah ke teras berlantai keramik putih bersih itu, terus berjalan menaiki tangga. Hingga ku jumpai para santriwati berkerudung putih sebagian besar terlelap dalam mimpi indahnya. Membentuk posisi superman diatas meja masing-masing. Samar-samar, dengkuran halus terdengar diantara dengungan kipas angin yang memutar.

“Masih pada buat Pulau?” gurauku pada satu dua anak yang tidak tidur, tampak sibuk membaca sebuah buku tebal yang ia sembunyikan di balik lacinya. Salah satu anak mengangkat mukanya, tersenyum. Lantas bergegas membangunkan teman-temannya.

“Hayya akhwatiy, qumna! Qumna!”

Aku tersenyum. menggelengkan kepala. Begitu mudahnya hidup mereka dalam menuntut ilmu di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Namun sayang, sebagian besar hanya menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia. Beda sekali dengan zaman mudaku dulu, batinku sambil melepas kacamata. Mengusap wajah yang tidak lagi muda. Mestinya mereka bisa lebih berguna bagi negeri dan agamanya daripada aku, batinku kembali berbicara.

***

-10 tahun silam-

Aku, Jamal, dan Falah. Tiga sekawan yang dieratkan tali oleh Allah dengan perantara gunungan-gunungan sampah pondok. Tiga sekawan yang setiap hari mendorong gerobak berisi sampah, membersihkan tempat MCK. Semua itu kami lakukan demi menjaga eksistensi kami dalam tholabul ‘ilmi di pondok salaf ini. Ya, karena keterbatasan ekonomi, cara itulah satu-satunya yang membuat kami tetap belajar tanpa bingung memikirkan biaya. Semoga Allah membalas semua kebaikannya.

“Meskipun kita cuma orang kecil, kita punya kewajiban yang sama untuk menjadi mata air untuk tanah air!” ujar Jamal suatu ketika. Tangannya kokoh menarik gerobak, sedang kami mendorong di belakangnya. Aku dan Falah serempak mengangguk, mengabaikan bau basi yang menyengat dari sampah-sampah rumah tangga.

Pesantren yang dibangun oleh Mbah Kyai Abdul Jabbar merupakan pesantren salaf sederhana namun kaya akan ilmu dan mauidhoh hasanah yang keluar dari bibir-bibir penuh hikmah. Letak bangunan yang tidak menguntungkan, tidak menyurutkan langkah santri untuk meraup segudang pengetahuan. Tak masalah harus mandi air asin setiap hari, karena lokasi pondok kami yang hanya 500 meter dari bibir pantai. Tak masalah harus berjalan kiloan meter mengangkut air tawar dari pedesaan lain hanya untuk sekedar melepas dahaga. Tak masalah meski kamar yang seharusnya hanya cukup diisi empat orang, dipaksakan menjadi 24 orang. Sungguh itu tak masalah bagi kami. Menahan berbagai kehimpitan sudah menjadi makanan pokok kami.

Baca juga :  Teladan Kehidupan Santri sebagai Wujud Pencegahan COVID-19

Dunyo iku penjarane wong kang iman, jadi mengapa mesti takut melarat? Iman bisa mengantarkan kita ke surga, tho Mas?”

Celetuk Jamal yang memang lebih muda dariku, polos. Matanya asyik memperhatikanku yang sibuk corat-coret sesuatu di atas kertas. Saat itu tahun kedua, aku sedang membuat rancangan proyek besar membuat saluran air untuk pondokku. Dan itulah yang Jamal pertanyakan, kita sudah terbiasa ngangsu, buat apa membuat saluran air?

“Iman kuwi ora berarti pasrah, Mal. Ini sudah hampir musim kemarau, cuacanya panas. Kamu tidak lihat korban dehidrasi semakin banyak? Kita harus menjadi mata air diantara itu semua!” jawabku sambil tersenyum. Jamal mengangguk-angguk paham. Dialah orang yang selanjutnya penuh semangat membantuku menyelesaikan proyek itu.

Diantara keterbatasan, tak sepatutnya menjadi alasan untuk tidak berkarya. Bukankah Allah memberi kita akal? Bukankah semua jalan itu mudah asal tidak menyerah? Kita harus bergerak. Meski itu hanya sebuah langkah kecil. Meski itu hanya rangkaian pralon-pralon tanpa mesin yang mengalirkan air untuk santri. Allah lebih mengerti diriku dibanding siapapun.

-Skip-

Angin berhembus sepoi dari jendela. Mengaburkanku dari lamunan. Dan kini, disinilah aku berada. Berkelana dalam belantara kehidupan di bawah titah Rabbku. Takdir telah memisahkan raga kami, namun tidak dengan hati kami. Memori-memori itu terus berkelebatan seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Jamal sudah jadi pemilik yayasan sekarang. Pesantren yatim piatunya ada dimana-mana. Sedang Falah, ku dengar dia kini mengurus pondok peninggalan mertuanya. Mereka sudah menjadi para mata air negeri sebagaimana yang telah lama mereka harapkan. Mereka telah menemukan ladangnya.

Dan kini, tinggallah aku dengan ladangku. Satu persatu kutatap wajah murid-muridku yang telah terbangun. Satu dua masih terkantuk-kantuk. Dua orang izin ambil air wudhu. Tak masalah, aku tersenyum. Esok, kalian harus bisa berbuat lebih dariku, batinku sambil mengenakan kacamata. Menatap mereka dengan senyum yang lebih lebar. sHanya inilah yang bisa ku berikan untuk negeri saat ini. Hanya ini.

“Sampai mana kita kemarin?” Tanyaku saat hendak melanjutkan materi

“Thoriqoh Syadziliyah, Ustadz!” Mereka menjawab serempak lantas membuka buku masing-masing bersiap belajar demi mimpi masa depan.

*Penulis adalah santriwati asrama A7

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: