Napak Tilas Sayid Ja’far, Sastrawan Kitab Al Barzanji

images

Ilustrasi gambar : sites.google.com

Oleh : Alfi Mazida*

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tak lepas dari semarak pembacaan kitab Maulid Al-Barzanji yang dilantunkan baik kalangan awam maupun kalangan ‘alim ulama’.

Kitab Al-Barjanzi menjadi kitab induk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kitab ini ditulis oleh Sayyid Ja’far bin Husain bin Abdul Karim Al-Barzanji. Beliau mempunyai garis keturunan dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wasallam. Nama lengkap beliau adalah Sayyid Ja’far bin Husain ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far Shodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayyidina Ali RA dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Sayyid Ja’far ibn Husain Al Barzanji dilahirkan di Madinah Al-Munawwaroh pada hari Kamis, awal bulan Zulhijjah tahun 1126 H (1711 M). Semasa kecilnya, beliau mulai menghafal Al-Qur’an dan berguru pada Syaikh Ismail Al-Yamany dan mentashihkan (mujawwad) kepada Syaikh Yusuf Asho’idy. Kemudian beliau juga belajar ilmu Naqliyah (Al-Qur’an dan Hadist) dan ‘Aqliyah kepada ulama-ulama Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwaroh dan tokoh-tokoh qobilah daerah Barzanji dan belajar ilmu Nahwu, Shorof, Manthiq, Badi’, Faraidl, Khat, Hisab, Fiqih Ushul Fiqih, Falsafah, ilmu Hikmah, ilmu Teknik, ilmu Lughoh, ilmu Musthalah Hadist, Tafsir Hadist, ilmu Hukum, Sirah Nabawi, serta ilmu Sejarah. Semua itu dipelajari selama beliau ikut belajar bersama ulama-ulama masjid Nabawi. Ketika berumur 31 tahun atau bertepatan pada tahun 1159 H, barulah beliau menjadi seorang yang ‘Ali wal ‘Allaamah dan ulama besar.

Selain itu, beliau juga menjadi Qadli (hakim) di kota Kurdi, Irak. Seorang mufti berasal dari Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di kota Nabi. Di sana, beliau telah belajar dari ulama-ulama terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Tanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebagian ulama.

Sayyid Ja’far ibn Husain selain dipandang Mufti, beliau juga menjadi Khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid mulia tersebut. Beliau terkenal bukan kerena ilmunya saja, tapi juga karena kemaqbulan doanya sehingga penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa agar turun hujan pada musim kemarau.

Baca juga :  ULAMA’ PENUH BERKAH: ABI SULAIMAN AL-JAZULI: MUALLIF DALA’IL AL-KHAIRAT

Salah satu kegiatan yang diprakarsai oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi pada peringatan Maulid Nabi Pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta pujian-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang dalam sayembara tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Sayyid Ja’far ibn Husain Al-Barzanji.

Beliau wafat pada hari Selasa setelah Ashar pada tanggal 4 Sya’ban tahun 1177 H (1766 (M) dan dimakamkan di Baqi’ bersama keluarga Rasulullah Saw.

Dinamakan Al-Barzanji karena dinisbatkan kepada nama desa pengarang yang terletak di Barzanjiyah kawasan Akrad (Kurdistan). Kitab Maulid Al-Barzanji memiliki nama asli ‘Iqd Al-Jawahir’ yang berarti kalung permata. Sebagian ulama menyatakan bahwa nama asli kitab ini adalah “’I’qdul Jawhar Fii Maulidan Nabiyyil Azhar.” Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-‘Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan sebutan Ba’ilisy yang wafat tahun 1299 H dengan satu syarah yang dinamakan ‘Al Qoul Al Munji ‘ala Maulid Al-Barzanji yang telah banyak kali dicetak di Mesir.*)

Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dalam kitab tersebut, riwayat Nabi dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa serta qasidah yang sangat menarik. Di dalamnya mencakup riwayat Nabi dari masa kecil, masa kenabian sampai masa wafatnya beliau, Rasulullah SAW.

Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Sayyid Ja’far adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Namun dengan segala potensinya, karya ini telah membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam diberbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Dari uraian biografi Sayyid Ja’far ibn Husain Al-Barzanji tersebut, mengingatkan pada kita tentang pentingnya memahami latar belakang ulama sebelum mengenal karya-karyanya. Karena jika kita telah mengenal dan memahami ulama, maka kita akan menghormati ulama dan tidak membaca karyanya hanya sekedar lisan, namun juga dapat memaknai setiap bacaan-bacaannya.

*) sumber : Terjemah Kitab Maulid Al-Barzanji

* Penulis adalah santriwati asrama A 7

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: