Kang Yai

a

Ilustrasi gambar : id-id facebook.com

 Oleh : Umu Habibah*

Kang Yai, begitu kawan-kawan sepondok biasa menyapa. Sebenarnya nama panjangnya Sariman, tapi ia lebih suka dipanggil Kang Ari, biar lebih gaul katanya. Dan seiring berjalannya waktu, karena kelebihannya, ia lebih dikenal dengan panggilan Kang Yai. Ia seorang santri dari keluarga biasa yang karena kepandaiannya menjadi populer dan tampak sederajat lebih tinggi di antara kawan-kawan seangkatan.  Tidak ada yang tidak mengenalnya, apalagi santri putri. Wajahnya nyenengke[1] kalau dipandang, bukan gantengnya yang bak Steven Willian, tapi memang wajahnya tidak membosankan. Kulitnya bersih khas santri yang daimul wudlu[2]. Tubuhnya tinggi sedang, tidak terlalu jangkung dan tidak terlalu pendek. Pakaiannya selalu rapi dan seringkali terlihat berbeda dari yang lain. Entah dari peci putihnya dimana santri lain lebih umum memakai peci hitam atau bajunya yang juga seringkali berwarna putih. Kalau pun pakai kaos saat santai, tetap saja warnanya putih. Katanya putih itu suci, melambangkan jiwa yang bersih dan lugu. Semua keistimewaannya itu ditambah lagi dengan statusnya yang juga qorek.[3]

Saat masih tsanawiyah, ia sudah dikenal sebagai santri yang cerdas, sering disuruh ini itu sama pak ustadz. Saat aliyah, ia semakin dikenal oleh jajaran asatidz dan bahkan Pak Yai. Seringkali diminta mbadali[4] Pak Yai di kelas tsanawiyah. Apalagi Pak Yai yang sibuknya melebihi pejabat negara itu memang sering tindakan. Entah siapa yang memulai, sebagian besar santri kemudian memanggilnya Kang Yai, santri biasa yang rajin kemudian berubah menjadi sedikit ngeyai. Banyak yang menyukainya, terutama kawan-kawan dekat dan santri putri tentunya, namun ada juga yang tidak terlalu tertarik kalau mendengar namanya disebut.

“Oh, Kang Yai kan emang pengen jadi kiai.. padahal kata Mbah Kiai, kiai itu kan tidak untuk dicita-citakan, nanti bisa jadi tomak[5].. pasang tarif kayak di tivi-tivi itu. Cita-cita itu mestinya bisa berdakwah saja, begitu..” Sambil mencabuti rumput di halaman belakang pondok, Kang Sholeh yang merupakan kawan sekelas Kang Yai berkomentar.

“Tapi kan dia memang pinter, Kang..” Kang Juki menimpali dengan polos.

“Ya memang pinter, tapi capernya itu lho..”

“Caper gimana, Kang?” Kang Mahmud ikut penasaran.

“Ya caper, lihat saja kalau lagi ngaji bada Isya bareng Mbah Kiai, dia pasti selalu tanya, padahal ya sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Apalagi kalau di kelas..” Kang Sholeh tidak melanjutkan kalimatnya, hanya geleng-geleng kepala.

“Ternyata sampeyan[6] perhatian banget ya sama Kang Yai,” komentar Kang Juki lagi. Kang Juki dan kawan-kawan sekitar yang sepat mendengarkan perbincangan mereka tertawa kecil, agaknya Kang Sholeh kurang suka dengan komentar Kang Juki.

***

Suatu hari, pondok dibuat heboh dengan berita kepulangan Kang Yai yang mendadak. Hebohnya bukan karena Kang Yai pulang di saat hari aktif, tapi lebih karena heran. Selama hampir enam tahun di pondok, Kang Yai hanya pulang beberapa kali saja dan itu pun sebentar. Bahkan hari pertama lebaran, ia lebih memilih tetap di pondok. Padahal, libur lebaran dan imtihan[7] adalah saat-saat paling ditunggu santri untuk istirahat sejenak dari rutinitas penjara suci.

Ngalap berkah..[8] biar kecipratan berkahnya Mbah Kiai..” begitu jawabnya kalau ditanya kenapa tidak pulang setiap kali liburan.

Sudah beberapa hari pengajian di kelas tsanawiyah yang diampu Kang Yai kosong, hanya kadang dibadali santri aliyah yang lain. Tidak ada yang tahu menahu kemana Kang Yai pergi dan tidak ada yang berniat mencari tahu. Hanya bisik-bisik yang dijawab dengan gelengan kepala. Kang-kang sekelasnya pun tidak ada yang paham dengan kepergian mendadak Kang Yai. Beberapa memantas-mantaskan sendiri alasan yang sekiranya pas.

“Mungkin ada keperluan mendadak yang tidak bisa diwakilkan..”

“Mungkin disuruh ngisi pengajian di rumah..”

“Mungkin sedang ada hajatan keluarga..”

“Atau jangan-jangan dia yang hajatan?”

Begitu obrolan-obrolan di sela pembacaan nadzaman[9] sebelum ngaji dimulai. Setiap santri sibuk menyumbangkan pendapatnya sendiri-sendiri. Tidak ketinggalan dengan santri putri yang simpang siur mendengar berita kepergian Kang Yai yang mendadak.

“Jangan-jangan mau dijodohkan sama Ning Isma..” komentar Yuli, santri tsanawiyah kelas tiga sambil memotong kangkung. “Soalnya sebelum pulang, Kang Yai dipanggil Mbah Kiai dulu ke ndalem[10]

“Hah??” Rohanah berhenti mengulek bumbu kemudian melirik tajam Yuli. “Ngarang kamu Yul, Ning Isma sama Kang Yai ya enggak sekufu[11] lah..”

“Lho, tapi banyak juga tuh ning ning yang dapat santri terbaiknya Yai..”

“Ya iya, tapi kira-kira lah, Yul.. Kang Yai kan baru kelas tiga aliyah..”

“Bukannya itu memang tingkatan paling tinggi di sini?” Jannah, yang dari tadi diam saja mulai ikut bicara.

“Iya di sini, tapi kalau untuk jadi menantu Mbah Kiai ya paling tidak mensantren lagi dua tahun, pulang-pulang hafidz, baru deh dipek mantu[12] sama Mbah Kiai..” Rohanah mengakhiri pembicaraan sambil melenggang ke arah kompor. Yang ditinggal saling lirik sambil berbisik, “Mbak Rohanah cemburu..”

***

Kurang lebih setelah seminggu Kang Yai menghilang, ia akhirnya tampak aktif ngasto[13] lagi di kelas tsanawiyah dan ngaos[14] di kelas aliyah. Semuanya kembali biasa dan gosip-gosip yang sudah mulai menguap itu redam seketika, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya saja ada yang sedikit berubah dari Kang Yai. Dia yang biasanya grapyak[15] jadi sedikit pendiam. Senyumnya masih tetap mengembang setiap kali berpapasan dengan santri, tapi dia yang biasanya menyapa terlebih dahulu kalau berpapasan, kini justru sebaliknya, tidak bicara kalau tidak disapa terlebih dahulu. Hanya tersenyum kemudian menunduk lagi dan jalan begitu saja. Awalnya santri menganggap biasa, mungkin efek habis pulang lama, tapi ternyata sikapnya itu berlangsung terus menerus. Intinya ia jadi pendiam, guyon[16]nya juga berkurang. Anehnya lagi, ia sempat protes dengan nama panggilan yang seperti sudah mendarah daging dalam dirinya: Kang Yai.

“Hush, enggak usah lah manggil Kang Yai, ngisin-ngisinke[17]..” begitu sambil tersenyum seolah tidak enak hati. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak pernah protes dengan panggilan itu.

“Kang Yai kok sepertinya sehabis pulang jadi khusyuk banget..” seperti biasa, Kang Rohman mengawali perbincangan sore hari sebelum magrib.

“Pulangnya enggak tahu kenapa, kembalinya seperti itu ya apalagi, tambah enggak paham kenapa..” kang Bahri menimpali.

“Aku penasaran sebenarnya, lha wong biasanya juga ramai dia sama anak-anak, sekarang kok mak cep kayak kerbau dicocok hidungnya..”

“Mungkin dia memang lagi puasa ngomong..” yang terakhir ini pendapat Kang Juki. Kawan-kawan di sebelahnya cekikikan.

“Kalau penasaran, kenapa enggak kita tanya langsung aja ke Kang Yai?” saran Kang Bahri. Semuanya mengangguk-angguk tanda setuju. Maka malamnya, setelah selesai ngaji bada Isya, beberapa santri yang penasaran dengan perubahan sikap Kang Yai sengaja tidak pulang terlebih dahulu. Mereka duduk-duduk di depan masjid menunggu Kang Yai keluar. Biasa, Kang Yai selalu menyempatkan merapikan meja dan sajadah buat Mbah Kiai ngasto. Sebagian santri menganggapnya caper, sebagian lainnya merasa beruntung karena tidak perlu repot-repot merapikan. Masjid sudah sepi, Mbah Kiai sudah kembali ke ndalem dan lampu masjid dimatikan. Kang Yai keluar dari masjid dan sedikit heran dengan keberadaan beberapa santri yang dikenalnya. Ia menghampiri dan duduk bersama mereka. Kang Rohman mewakili teman-temannya kemudian mengutarakan maksud mereka menunggunya di luar. Kang Yai tersenyum sambil ber-oo panjang.

Baca juga :  Oleh-oleh dari Tebuireng; Pesan KH. Hasyim Asy’ari untuk Santri

“Oooh, itu to.. sampeyan ingat waktu saya pulang agak lama kemaren?”

“Ingat lah Kang, geger kok sepondok.. santri putri terutama.. eh!” Kang Juki lagi-lagi mengundang gelak tawa.

“Iya, memangnya kenapa, Kang?”

“Ya itu awal mulanya. Jadi waktu itu ada seorang yang meninggal di desa saya, nah kebetulan kayim[18] desa sedang umroh, jadilah saya disuruh pulang dulu ngurus itu mayit. Sebenarnya tidak ada kejadian apa-apa saat mengurus mayit. Semuanya lancar dari awal hingga akhir, bahkan bisa dibilang yang melayat membludak.”

“Orang besar ya?”

“Justru itu, dia dikenal sebagai orang tua yang hidup sebatang kara, tidak punya keluarga dan tidak pernah terlihat menyambangi atau disambangi saudara.. saya tidak pernah mempertanyakan itu sebenarnya, lha wong saya pernah di rumah juga enggak. Nah saat malam terakhir ataqoh-an[19] seperti biasa, saya  jagongan[20] dulu bareng bapak-bapak. Lek Dulah, takmir mushola kampung membuka cerita tentang Pak Wo, mayit itu.

‘Pak Wo itu memang luar biasa, Kang, seumur hidup saya tidak pernah melihatnya absen jamaah.. bahkan pernah hujan badai yang bikin tanggul kita jebol itu, Pak Wo tetap jamaah.. Sendirian. Karena kiainya juga tidak berangkat ke mushola.. saya yang rumahnya samping mushola saja takut mau keluar.’ Lek Dulah geleng-geleng kepala sendiri, mungkin mengenang sosok Pak Wo saja sudah membuatnya takjub.”

Kang Yai ikut geleng-geleng kepala sambil matanya menerawang jauh. Beberapa saat kemudian, ia kembali melanjutkan cerita.

“Saya ini tidak ada apa-apanya dibanding Pak Wo itu, Kang.. orangnya sama sekali enggak neko-neko[21] bahkan sering jadi bahan olok-olok karena kolotnya. Rumahnya sederhana, pakaiannya sederhana bahkan kesehariannya, segalanya serba sederhana. Dia bukan tipe orang yang menarik perhatian orang lain untuk dilirik atau dibincangkan.”

“Suaranya yang nggrambyang[22] tapi lancar ketika membaca al-Quran selalu terdengar setiap selesai jamaah shalat Subuh dan Maghrib. Suaranya menjadi ledekan anak-anak dan orang tua ketika ia puji-pujian[23] sehabis adzan. Tapi meski begitu, mereka tidak pernah mendemonya untuk tidak puji-pujian lagi dan tetap membiarkan suara uniknya bershalawat tiap Lek Dulah selesai adzan.”

“Lama kelamaan saya mendengarkan cerita Lek Dulah sambil tiduran dan menikmati semilir angin malam. Entah karena capek atau asik didongengi Lek Dulah, tidak terasa saya tertidur. Tiba-tiba ada yang membangunkan saya dengan menepuk-nepuk pundak.

‘Kang Yai, bangun, Kang. waktunya melek’[24]

Saya kaget karena panggilan Kang Yai itu cuma ada di pesantren sedangkan saya sadar sedang berada di rumah. Saya buru-buru bangun dan betapa terkejutnya ketika menyadari saya berada di sebuah surau, lebih mirip gazebo berukuran tiga kali empat meter dengan penerangan lampu teplok di samping kiri. Selain itu yang tampak adalah gelap saja. Setelah terpaku beberapa saat, saya tersadar oleh suara gemericik air dari samping surau. Saya menghampiri dan mendapati seseorang yang sedang mengambil air wudlu. Sayang tidak bisa melihat siapa gerangan orang itu, karena ketika wudlu, dia melewatiku kembali ke surau.”

Kang Juki menggeser tubuhnya lebih rapat ke kawan-kawannya, maklum, dia memang paling penakut di antara semuanya.

“Ketika kembali ke surau, saya melihat laki-laki itu sedang sholat. Badannya tegap, gagah, tapi tidak terlalu tinggi. Sepertinya belum terlalu tua tapi sangat kelihatan bijaksananya. Jujur saya penasaran, karena memang rasanya tidak asing. Maka ketika sholat pun saya sama sekali tidak khusyuk, justru banyak memikirkan siapa kira-kira laki-laki di depan saya itu. Selesai enam rakaat tahajud dan empat rakaat hajat, saya termenung memandangi punggungnya. Dia masih berdzikir saja sampai-sampai rasanya saya putus asa menunggu.

“Gimana, Kang Yai, sudah sampai mana ngajinya?”, laki-laki itu menoleh. Benar-benar tidak asing, tapi saya tidak ingat sama sekali. Dia memahami kebingungan saya kemudian tersenyum, “Saya mau bilang maturnuwun[25] karena sudah mau merawat saya sampai selesai.. di sini saya baru sadar siapa yang sedang bicara.”

“Pak Wo???” sontak Kang Bahri, Kang Juki, Kang Rohman, bahkan Kang Sholeh yang sedari tadi tampak enggan mendengarkan cerita kini semakin merapat ke Kang Yai, antara penasaran dan seram. Meski pondok ramai dengan santri yang jagongan di teras kamar, tapi suasana di depan masjid dirasa sedikit berbeda.

“Iya. Pak Wo. Tapi dengan keadaan yang sangat jauh berbeda, makanya saya pangling[26] dan benar-benar tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah takjub dan kagum. Wajahnya bersih berseri, jauh lebih muda dari saat dia meninggal. Badannya seger seperti orang yang tidak pernah telat olahraga. Pokoknya saya dibuat takjub saja. Belum berhenti takjub, Pak Wo kembali mengulang pertanyaan yang belum saya jawab.

Gimana, Kang Yai, mondoknya? begitu sambil bersandar di sisi surau, senyumnya tidak lepas dari bibir. Yang rajin ngajinya, kadang ilmu saja tidak cukup, harus cari berkahnya Kiai. Tapi yang namanya orang besar cobaannya mesti besar, kadang datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Ya ada saja cara setan buat cari kawan, yang gagah lewat perasaan gemagahnya, yang ayu lewat perasaan kemayunya, yang sugih[27] lewat perasaan sumugihnya, yang pinter lewat perasaan keminternya, yang bagus lewat perasaan gemagusnya. Begitu.. maka sering sekali wali bersembunyi dengan kepapaannya biar tidak dilihat orang yang kemudian menimbulkan rasa sombong. Bahkan mengagungkan sifat rendah diri di depan Tuhan saking takutnya diserang ujub[28].

Kadang kita merasa sudah sangat mendekat padaNya, tapi entah Tuhan menganggap depe-depe[29] kita itu ada atau tidak karena ternyata pujian dan celaan orang lain masih saja memengaruhi ibadah.. Pak Wo memandang kosong seperti sedang membicarakan diri sendiri, tapi saya yang berada di sampingnya benar-benar serasa tertusuk sembilu, perih dan malu seolah ia sedang mengingatkan kelalaianku.

Jangan mau jadi hamba yang amatiran.. begitu dia mengakhiri lalu sambil bangun, memakai kopiahnya lagi dan beranjak. Saya masih tertegun ketika tiba-tiba ia memanggil lagi.

Oh, iya, Kang Yai, namamu bagus itu, tapi hati-hati.. itu saja sambil tersenyum kemudian keluar dari surau, melewati kegelapan. Namun sejauh apapun dia berjalan masih putih pakaiannya tetap terlihat sampai saya tersadar oleh adzan Subuh.”

Kang Yai sudah mengakhiri ceritanya, tapi keempat santri di sekelilingnya masih diam membisu, tidak ada yang berkomentar.

 

#Terinspirasi dari cerpen Gus Jakfar karya Gus Mus, juga nasihat-nasihat Gus Dur. Semoga Allah SWT selalu memberkahi beliau-beliau. Amiin.

*Penulis adalah alumni santriwati besongo


[1] Membuat hati senang.

[2] Melanggengkan wudlu/selalu dalam keadaan suci.

[3] Dari kata qarii, orang yang membaca; istilah untuk santri yang sudah membantu atau menggantikan kiai mengajar.

[4] Menggantikan.

[5] Mengharapkan balasan.

[6] Kamu.

[7] Kenaikan kelas.

[8] Mencari berkah.

[9] Syiir berbahasa Arab.

[10] Rumah yang ditinggali Kiai

[11] Sepadan, sederajat.

[12] Diambil/dijadikan menantu.

[13] Ngaji/mengajar.

[14] Ngaji/belajar.

[15] Suka bergaul, ramah, menyenangkan.

[16] Bercanda.

[17] Membuat malu.

[18] Orang yang biasa mengurusi mayit.

[19] Pembacaan 100.000 surat Al Ikhlas untuk orang yang baru meninggal.

[20] Duduk-duduk

[21] Tidak macam-macam

[22] Tidak jelas.

[23] Membaca shalawat setelah adzan.

[24] Membuka mata/bangun.

[25] Terima kasih.

[26] Tidak mengenal lagi.

[27] Kaya.

[28] Bangga terhadap diri sendiri/angkuh/sombong.

[29] Pendekatan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: