Menapak Tilas Integritas Sang pemberi Syafaat

IMG-20181205-WA0006

Oleh : Miftahur Rohmah*

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.Al-Ahzab:21)

Rasululloh SAW adalah sosok inspirasi yang patut diteladani. Bahkan bisa terbilang sebagai motivator tak tertandingi. Kesabaran yang dimiliki sangat istimewa. Terutama sikap beliau yang menjadi teladan adalah tetap menyayangi bahkan mendoakan orang-orang yang membenci dan mengusik dalam kehidupannya sehari-hari. Welas Asih yang dimiliki membuat hati umatnya terenyuh, sehingga orang-orang yang membenci menjadi cinta. Perjuangan berdakwah beliau pada waktu itu penuh dengan rintangan. Dari keluarganya sendiri yang tidak mendukung maupun dalam lingkungannya. Tetapi, sosok beliau sangat teguh dan tidak menyerah dengan adanya hambatan tersebut.

Begitu banyaknya sikap teladan Rasululloh yang dijadikan sebagai tiruan masyarakat Islam, sehingga tidak heran, bila nama Muhammad menjadi nama pertama yang disoroti sebagai nama terpilih yang favorit. Tidak hanya itu, secara Empiris, Rasululloh juga sebagai sosok mobilisator yang handal bagi masyarakat, sifat Al-Amin yang dimiliki menjadikan masyarakat menuju jalan yang lurus. Karena wahyu yang diterima Rasululloh merupakan arahan yang benar untuk menjadikan masyarakat menuju kemaslahatan. Sifat dapat dipercaya adalah ciri indikator bagi orang yang bertanggungjawab. Bertanggung jawab juga sikap yang nantinya akan berdampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jika sikap teladan Rasululloh diterapkan dalam kepesantrenan, maka kualitas santri akan semakin tinggi, tentunya intergritas yang dimiliki santri akan menjadi kuat dan hebat. Tidak mudah meniru sikap teladan Rosululloh yang begitu luar biasa itu, apalagi sikap tersebut bertentangan dengan nafsu sayyiah, yang mana nafsu sayyiah merupakan musuh yang kuat, dan hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup melawannya. Tetapi, santri harus menjadi agen perubahan yang baik bagi lingkungannya supaya Akhlaq yang diajarkan oleh Rasululloh tidak mudah luntur dengan berjalannya zaman.

Santri harus konsisten dalam memperjuangkan Islam, tidak boleh menyerah dan putus asa dalam mengahadapi rintangan. Rasululloh sama sekali tidak mengajarkan sikap yang lemah tersebut. Bahkan kalau dibandingkan dengan perjuangan Rasululloh ibarat Bainas Samak Wa Sumur Minyak, jauh diatas rata-rata. Rintangan yang dihadapi Rasululloh begitu mati-matian, sampai mengorbankan pertumpahan darah hanya untuk memperjuangkan Islam. Hal ini perlu adanya santri untuk mengetahui sejarah dari mulai lahirnya Rasululloh sampai wafat beliau, agar santri ingat betapa heroiknya sosok kanjeng Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan panutan Fiddini Waddunya Walakhiroh.

*Penulis adalah santriwati asrama A7

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *