Santri Pinter Ngaji dan Berteknologi

SAVE_20181208_090025

Gambar: KH. A. Imam Sya’roni (kiri) dan M. Luthfi (kanan), 25/11 di rumah KH. A. Imam Sya’roni

Oleh :  KH. A. Imam Sya’roni, M. SI*

Berbicara mengenai perkembangan santri saat ini maka tak akan lepas dari perbincangan mengenai pesantren. Sedangkan saat membahas mengenai pesantren maka akan selalu berkaitan dengan pengasuhnya, yakni kualitas pesantren tergantung pada kualitas pengasuhnya. Dalam membahas pesantren sendiri, di zaman modern ini secara umum dibagi menjadi tiga model, Yaitu salafiyyah, kholafiyyah, dan salafiyyah-kholafiyyah. Model pertama berbasis “hanya” ngaji kitab kuning tanpa sistem klasikal. Sedangkan yang kedua cenderung berciri madrasah dan tentunya klasikal. Kemudian diantara dua model tersebut ada yang disebut salafiyyah kholafiyyah, yaitu gabungan dua model pesantren dimana materi pembelajarannya adalah kitab-kitab salaf tetapi dengan sistem madrasah klasikal.

Terlepas dari itu semua, santri milenial juga memiliki tantangan baru yakni harus melek teknologi agar bisa menjawab tantangan zaman. Di satu sisi teknologi memiliki manfaat untuk santri, seperti mengembangkan keilmuannya dan menjadi salah satu media dakwah. Selain memiliki banyak dampak positif, dampak negatif-pun kerap menghantui santri dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, seperti lunturnya budaya silaturahmi dan seringnya meniru budaya barat yang kurang sesuai dengan budaya santri.

Menimbang baik buruk dengan adanya teknologi tersebut, maka sebagai santri harus pandai memilah dan memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Sebagaimana maqolah arobiyah yang mengatakan:

خذ ما صفى ودع ماكدر yang artinya : “Ambil yang jernih dan tinggalkan yang keruh”

Maksudnya: Ambil hal-hal yang baik dan tinggalkan hal yang buruk.

Dengan pentingnya teknologi untuk santri, maka pesantren perlu menunjang kebutuhan santri akan teknologi yang tetap pada koridornya dengan menyediakan perpustakaan besar yang berisi buku-buku dan kitab-kitab yang dapat dijadikan referensi santri. Dalam perpustakaan, bisa disediakan sekitar 5 komputer yang dapat digunakan untuk mencari referensi di Maktabah Shameela, bisa juga dimanfaatkan untuk keperluan penting lainnya seperti, mengetik, mengeprint, dan karya lainnya. Sedangkan santri senior, disediakan berbagai alat-alat modern seperti komputer, kamera DXLR, shooting camera, dan masih banyak lagi peralatan canggih lain yang bisa digunakan untuk mengasah kreatifitas santri.

Baca juga :  Tauhid dan Implikasinya dalam Kehidupan

Jika ada yang mengatakan pesantren tanpa teknologi, maka itu perlu dipertanyakan. Teknologi adalah sebuah keniscahyaan, dan termasuk di dalamnya ada tenaga listrik. Di zaman sekarang listrik terus dimanfaatkan termasuk alat penerangan saat mengaji, memasak, menyeterika pakaian misalnya. Kemudian jika ada tuntutan agar santri melek digital dan teknologi, maka tidak perlu mengubah sistem yang sudah berlaku di pesantren, Cukup sediakan peralatan yang dibutuhkan dan sesekali waktu diadakan seminar atau pelatihan yang berhubungan dengan peningkatan penguasaan teknologi.

Setelah menguasai berbagai macam kemajuan teknologi di pesantren, santri-pun tak boleh mengesampingkan peran para ustadz dan Kyai dengan tidak mengaji otodidak melalui sosmed. Santri harus melihat dari mana asal ilmu yang diperoleh. Selain itu santri juga harus kritis dan rajin bertabayyun (klarifikasi) pada pihak yang ahli dalam hal tersebut supaya tidak terjebak dalam kubangan hitam hoax dan paham radikal yang banyak tersebar di sosial media.

Agar tetap eksis sesuai perkembangan zaman tanpa menghilangkan ciri khas sebagai pesantren, juga harus mempersiapkan diri dan menyediakan kebutuhan sebagaimana yang dikehendaki santri. Tentunya dengan tanpa melupakan jati diri pesantren dan tugas besarnya sebagai lembaga yang tafaqquh fi addin. Misalnya seperti santri salaf yang dituntut pula menyelesaikan permasalahan milenial, maka mereka juga harus melek IT dalam membantu penyelesaian masalah yang semakin bermacam-macam.

Yang terpenting bagi santri era-milenial ini adalah terus belajar dan memperbaiki niat, karena dalam mencari sebuah ilmu harus diniatkan untuk taqarrub ilaa Allah dan tak perlu berfikir kelak akan jadi apa. Dengan begitu, semua ilmu yang telah dipelajari dianggap sebagai ilmu syariah. Harus lebih memaksimalkan diri dalam memanfaatkan waktu untuk belajar, belajar, dan belajar, agar nanti ketika pulang dan “turun gunung” yang sudah berani dalam mengarungi bahtera kehidupan yang semakin luas namun tak bertepi.

*Pengasuh Pesantren Al-Fattah Semarang, Katib Syuriyah PWNU Jateng dan Dosen STAI Al Anwar Rembang

#Dinarasikan oleh Gayuh Rifjki Fadhilah ( Tim Al Qolam edisi 7 )

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: