Santri Besongo Membedah Karya Sastra; Cerpen

IMG_20181224_060930

Gambar : Umu Habibah (tengah, krudung hitam) foto bersama dengan santri pelatihan menulis cerpen, (22/12) di Madin Raudlatul Jannah

Besongo News – Ngaliyan (22/12). Devisi Huminfo (Hubungan Masyarakat dan Informasi) pondok pesantren Darul Falah Be-songo mengadakan pelatihan membuat cerpen dengan mendatangkan narasumber Umu Habibah alumni Buletin Al Qolam. Kegiatan ini dilaksanakan di Madin Raudhatul Jannah pukul 16.00 WIB.

Narasumber penulis cerpen “Kang Yai” ini, memaparkan materi tentang teknik dan hal ihwal berkenaan penulisan cerpen. Bukan hanya memberikan pemahaman mengenai cerpen, sebagai penyempurna pelatihan menulis cerpen ini, beliau membawakan beberapa karya cerpen dari penulis terkenal sebagai media contoh cerpen yang baik dan benar.

Salah satu cerpen yang dikaji dalam pelatihan ini adalah cerpen berjudul “Salawat Dedaunan” karangan Yomusa Nugroho yang menjadi cerpen kompas terbaik 2011. Mbak Umu (sapaan akrab para santri) memaparkan begitu terperinci terkait dengan teknik dan gaya penulis menuangkan cerita  dalam bingkai karya cerpen. Dia menjelaskan “bahwa cerpen itu menarik karena mampu menulis dari sudut pandang yang berbeda.” Ujarnya.

Setelah bedah cerpen, wanita asal Cilacap ini, mengajak para santri untuk mencoba dan mempraktekan ilmu yang di dapat. Beliau mendorong para santri untuk memulai menuangkan ide untuk menulis.

“Semua orang bisa menulis, hanya perlu melatih diri untuk melihat sesuatu dari cara pandang yang tak biasa. Lalu tulislah dalam bingkai sebuah cerpen,” tutur Mbak Umu untuk memberi semangat santri. Dia juga menambahkan, “Modal utama penulis itu suka membaca, karena dari membaca semakin kita merasa tidak tahu apa-apa.”

Tema “Hujan” dipilih untuk membuat cerpen, hasil karya sederhana santri dibacakan di depan teman santri yang lain. Dari sini didapati bahwa santri Besongo memiliki kemampuan untuk menulis, hanya saja masih perlu dikambangkan lagi. Setelah memaparkan karya para santri, para santri bercerita pengalaman menulis mereka kepada Mbak Umu.

Baca juga :  Konservasi Lingkungan, Wujud Kepedulian dan Kekeluargaan Santri Besongo Semarang

“Penulis yang baik itu harus bisa mengatur waktu dengan baik kapan ia harus menulis,  dan harus bisa memposisikan dirinya disetiap keadaan, meskipun suasana hatinya sedang sedang sedih, karena tidak butuh mood yang baik untuk mengawali sebuah tulisan. Ucap Mbak Umu saat hendak mengakhiri pelatihan sore itu.

Pelatihan menulis cerpen ini berjalan dengan lancar dan meninggalkan kesan istimewa pada para santri. Para santri melaksanakan foto bersama narasumber dan devisi Huminfo sebagai kenangan mereka.“Pelatihan ini memberi saya ilmu yang sangat banyak, utamanya bagaimana menulis cerpen yang baik dan benar dan mendorong motivasi bagi saya dan santri yang lain untuk menulis dan mengespresikan lewat cerpen”. Ujar Rifka santri asrama B5.

Harapan dengan terlaksananya pelatihan menulis cerpen ini dapat menambah himmah santri untuk menulis dan meningkatkan kualitas karyanya. (Kiki-red/izza)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: