Si APIK, Sabet Juara 1 Kompetisi SHEVENT 2018

IMG-20181224-WA0004

Gamabar : Itsna Tifani Barokatur Rizqoh (kiri) Mahasantri Besongo dalam kompetisi SHEVENT 2018, (19/12) di Universitas Diponegoro, Semarang

Dunia jurnalistik merupakan dunia literasi yang sangat luas. Menjelajah dalam ranah tulisan dengan berbagai keunikan bahasa. Ada yang menganggap tulisan merupakan literatur mati yang dapat menghidupkan kenangan seseorang meskipun telah tiada. Seperti halnya dalam buku Menulis yang Mentaqwakan karya Widi Muryono menyatakan, “apabila saya bertanya kepada diri saya sendiri, apa hikmah menulis buatmu? Maka saya akan menjawab: menulis membuatku mengerti bahwa aku belum mengerti.”

Penggalan kalimat itulah yang menjadi cambuk keras bagi salah satu santriwati pondok pesantren Darul Falah Besongo Semarang, Itsna Tifani Barokatur Rizqoh untuk membangkitkan semangatnya. Ia memilih terjun ke dalam bidang Jurnalistik. Namanya tercantum dalam daftar kru redaksi buletin Al-Qolam (media Jurnalistik Darul Falah). Uluran tangan manisnya kerap dijumpai pada beberapa bentuk tulisan yang menjadi konsumsi bacaan para santri lainnya. Ia merupakan salah satu redaktur buletin yang giat, tekun dan antusias dalam menulis. Sudah banyak konstribusi yang ia berikan, meski terkadang ia mengaku bahwa kemampuannya masih terbatas.

Selain aktif dalam kegiatan pesantren, santriwati kelahiran Tegal, 29 Mei 2000 ini juga mengaktifkan diri di dunia perkuliahan. Salah satunya, ia berpartisipasi dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (FORSHEI). Salah satu UKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini membahas tentang kajian, diskusi, kepenulisan, serta media yang berkaitan dengan ekonomi. Dari kegiatan tersebut, mengantarkan santriwati dengan motto “life is never flat” itu menjadi juara 1 dalam Sharia Economic Event (SHEVENT) 2018 kategori lomba Essay dengan judul Si APIK, Aplikasi Keuangan Digital dan Progam Pemberdayan Pertanian Melalui Bank Wakaf Mikro. Kegiatan yang diselenggarakan oleh FoSSEi Komisariat Semarang diadakan di Universitas Diponegoro pada 19 November 2018. Laga bergengsi yang ia raih dengan temannya, Devi Nur Havifah membuat bangga berbagai pihak. Jerih payah dan ketekunannya dalam jurnalistik tak bisa dipungkiri lagi. Meski berawal dari sebuah paksaan, namun hasil yang ia raih ternyata sangat memuaskan.

Baca juga :  Minggu Ke-2 Akhirussanah

Itsna, begitu sapaan akrabnya, memilih judul tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan pertanian di Indonesia. Ia menilai, meskipun potensi pertanian yang dimiliki cukup besar, tetapi kenyataannya masih gagap dalam mengelola. Salah satu permasalahan klasiknya yakni permodalan petani, akses keuangan tidak menjangkau hingga ke desa terpencil, literasi yang kurang terhadap peminjaman, bunga pengembalian yang besar, prosedur peminjaman umit, hingga masalah penggunaan jasa rentenir. Melalui Bank Wakaf Mikro (BWM), diharapkan modal dapat menjangkau ke pedasaan, prosedur lebih mudah, bebas bunga, dan dapat mendampingi para petani dari awal permodalan hingga pemasaran. Melalui aplikasi APIK, data cukup diketik dan hasilnya otomatis bisa terdeteksi tanpa harus bersusah payah mempelajari bidang akuntansi.

Meskipun telah menjuarai laga bergengsi, tak menjadikannya berhenti belajar. Justru dari kejuaraan itulah sebagai dorongan keras agar ia tetap berjuang untuk meraih segala mimpinya. Tak hanya itu, ia pun memberi motivasi kepada para santri lain, “menulislah, awali langkahmu dengan membaca, lalu hasilkanlah bacaanmu dengan tulisan.” (Rizal/ziya-red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: