Imtihan Qurrotul ‘Uyun Mengawali Paginya Santri Besongo di Tahun 2019

IMG_20190101_051341

Gambar : Abah Imam Taufiq sedang menyemak santri kelas 4 Imtihan Qurrotu ‘uyun, (1/12) di asrama B 5

Hingar bingar tahun baru tak menjadi penghalang santri Besongo untuk tetap melanjutkan pelaksanaan imtihan yang sudah berlangsung dua minggu. Terhitung sejak Senin, (18/12) hingga hari ini masih terlihat perjuangan santri Besongo mengikuti ujian agar bisa segera pulang ke kampung halaman masing-masing.

Seperti pagi ini (1/1), aula asrama B5 dipenuhi puluhan santriwan-santriwati kelas 4 yang tengah khusyuk lalaran dengan kitabnya masing-masing. Dengan perasaan harap-harap cemas, mereka menunggu penguji datang, yakni Abah Imam (pengasuh) yang langsung turun tangan sendiri untuk mengetahui sejauh mana kemampuan para santrinya selama ini.

“Imtihan ini sebagai ajang unjuk kebolehan dan kelayakan menuju pelaminan bagi santri melalui kitab Qurrotul ‘Uyun,” ungkap sang pengasuh ketika memberi arahan sebelum pelaksanaan imtihan berlangsung.

Meskipun dengan kondisi menahan kantuk, dikarenakan imtihan diadakan sehabis jama’ah subuh, tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap belajar demi menunjukkan penampilan terbaiknya dihadapan pengasuh.

“Imtihan kali ini harus tetap dijalani dengan perasaan senang meskipun bertepatan dengan tahun baru. Adanya imtihan ini membuat malam tahun baru kita jadi lebih bermanfaat. Belajar bareng sama teman-teman, mulai dari baca arabnya, menerjemahkan, hingga memahami isi dari bab yang telah ditentukan,” jawab Qurrotul Ainiyah, salah seorang santri putri ketika ditanya pesiapan apa saja yang dilakukan sebelum imtihan.

Imtihan kali ini dilaksanakan dengan metode sorogan. Para santri satu per satu membaca maqro’ yang sebelumnya telah ditentukan untuk kemudian dimurodi keterangan apa yang terkandung di dalamnya.

Muhammad Nur Mukhayya, salah seorang santriwan berkomentar, “kitab Qurrotul ‘Uyun memberi tau batasan-batasan kemaslahatan dalam pernikahan serta hak dan kewajiban laki-laki maupun perempuan dalam mengarungi sebuah kekeluargaan. Jadi, bisa dijadikan bekal nantinya ketika sudah membina rumah tangga.” (Ziya/Rizal – red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: