Musibah Wujud Cinta Tuhan kepada Hamba-Nya

IMG-20181022-WA0012

Oleh : Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag*

Kehidupan manusia tak mungkin lepas dari musibah, ia akan silih berganti menemui takdir manusia. Seperti yang saat ini terjadi di negeri ini, dari Lombok, berpindah ke Palu, kemudian singgah di Banten dan Lampung. Itu baru contoh kecil yang menjadi sorotan besar Nusantara ini, belum lagi musibah-musibah kecil yang masuk di layar kaca. Menurut asal katanya, sebenarnya musibah tak hanya berarti sebagai sesuatu yang menyedihkan dan menyusahkan, tetapi semua hal yang menimpa seseorang baik itu berupa kegembiraan dan kesenangan-pun termasuk dalam pengertian musibah.

Melihat konteks tersebut dapat dipahami bahwa kesenangan-pun hakikatnya adalah musibah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Berbagai kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang kita terima adalah musibah bagi kita dan bukan diberikan tanpa alasan, bagaimana kita menggunakan pemberian fisik yang sempurna, harta yang melimpah, otak yang cerdas,  jabatan yang tinggi, dan sebagainya itu untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Namun demikian, musibah lebih dekat diartikan sebagai sesuatu hal menyedihkan, menyusahkan, bahkan merugikan yang menimpa seseorang, suatu bencana baik alam ataupun yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri yang tentunya memberikan banyak dampak negatif. Di balik penafsiran yang cukup negatif tersebut, musibah tidak lain adalah wujud cinta dan sayang Allah kepada hambanya di samping kesehatan, kekayaan, maupun jabatan.

Musibah tak hanya menimpa manusia di era ini, dahulu para sahabat banyak yang terluka dan gugur saat berperang membela Islam, Rosululloh juga pernah mengalami kelaparan dan kesusahan bersama para sahabatnya akibat serangan kafir Quraisy. Tapi itu bukanlah wujud kebencian Allah terhadap Rosululloh dan para sahabat, melainkan wujud cinta dan kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Maka dari konteks itu turunlah firman Allah yang tertuang dalam Q.S Ali-Imran ayat 139 yang artinya “Janganlah engkau bersikap lemah, jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman”.

Dengan begitu, bisa jadi orang-orang yang sedang tertimpa kesedihan, kesusahan, ataupun bencana; mereka sedang dipersiapkan oleh Allah untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi. Dengan adanya bencana tersebut Allah dapat mengetahui siapa-siapa yang beriman dan siapa-siapa yang berintropeksi terhadap bencana itu. Jika saat ini kita tidak sedang ditimpa musibah yang menyusahkan dan menyedihkan, mungkin justru kita sedang dilupakan atau bahkan dimurkai oleh Allah. Karena sebenarnya kita tidak dihinakan dengan adanya musibah-musibah seperti yang sudah Allah jelaskan dalam surat At taubah ayat 126.

Baca juga :  ISLAM MENCIPTAKAN RASA AMAN

Musibah yang diturunkan kepada kita sebenarnya juga memiliki maksud yaitu agar kita dapat mengambil pelajaran dari musibah itu serta kita dilarang menuduh, berburuk sangka, mencaci maki ataupun menyalahkan orang yang sedang tertimpa musibah karena seperti penjelasan sebelumnya orang yang sedang terkena musibah adalah orang yang sedang dicintai Allah. Seperti yang sudah dijelaskan dalam suatu hadits bahwa jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Jadi sesungguhnya tujuan diturunkan musibah adalah untuk meningkatkan derajat keimanan kita, menambah dan menguji sejauh mana kualitas iman kita.

Sedikit menengok ke belakang misalnya, Nabi Ibrahim a.s diuji dengan dibakar oleh Raja Namrud, Nabi Ayub diuji dengan sakit yang tak kunjung sembuh setelah semua harta dan keluarganya, Rosululloh SAW diejek, dicaci maki oleh para kafir yang tidak mau masuk Islam. Itu semua adalah ujian-ujian yang memberi maqom, derajat yang lebih tinggi terhadap orang-orang yang telah diuji. Selain untuk meningkatkan derajat seseorang, Allah juga menginginkan perbaikan-perbaikan dalam bentuk-bentuk tertentu dari hamba-Nya yang diuji.

Bagi orang yang baik, musibah dijadikan pelajaran yang luar biasa untuk memperbaiki diri, lebih berhati-hati dalam menyikapi musibah itu. Jika musibah turun karena maksiat atau murka Allah, turun kepada mereka yang tidak melakukan kewajibannya terhadap Allah, maka musibah ini berarti peringatan dan hukuman dari Allah. Namun musibah itu tak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat, namun juga orang-orang di sekelilingnya yang baik-pun akan ikut tertimpa musibah tersebut. Dengan begitu, musibah yang diturunkan tidak semata-mata adalah hukuman Allah, melainkan pelajaran yang berharga untuk kita semua.

*Pengasuh Ponpes Darul Falah Besongo dan Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang

#Dinarasikan oleh Gayuh Rijki Fadhilah dari rekaman beliau saat khotbah jumu’ah pada tanggal 4/1/19 di Masjid Al Hurru Wattaqwa

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: