Penguatan Literasi Untuk Kalangan Santri Study Kasus Ponpes Darul Falah Be-Songo

JURNALISTIK.-HITAM-PUTIH-ATAU-ABU-ABU

Ilustrasi Gambar : ros syrazu.blogspot.com

Oleh : Nur Koles*

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang

Email : Kholiznoer15@gmail.com

Abstract

The current globalisation are now being hit all over the world especially in Indonesia, has been giving a lot of changes to people’s lives. Globalization can be defined as the process of dissemination of new elements particularly concerning information worldwide through print media, elektroknik and social media. Good print, electronic and social media we read and watch everyday, serves all readings and spectacle that often little regard for quality news, manners, morals, and ethics. A lot of content – content that contain elements of hoaxes and pornography. So, the boarding school in the era of globalization now is supposed to be able to compete with the outer circles and brought enlightenment. Students should be provided with a variety of capabilities in accordance with the demands of the times in order to answer the challenge of globalization, contributing to community development and social welfare, supple, and against various adaptive changes. As well as in boarding schools Darul Falah-Be-famous Songo with Life Skill boarding schools, boarding schools the students Darul Falah Be-Songo Semarang appears as a boarding school have been doing Improv curriculum and methodology of education . Boarding school Student Darul Falah Be-Songo have tried doing step improvisation methodology, extending the dissemination of academic discourse and through writing, through Practical Journalism program. As for the progam, aims to guide and educate the santrinya in order to be ready to meet the future through the writing program.

Keyword : Islamic Boarding Schools, Writing Culture, and Practical Journalism

Abstrak

Arus globalisasi kini sedang melanda seluruh penjuru dunia terutama di Indonesia, telah memberikan banyak perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Globalisasi dapat diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak, elektroknik dan media sosial. Baik media cetak, elektronik dan media sosial yang biasa kita baca dan saksikan setiap hari, semuanya menyajikan bacaan dan tontonan yang tak jarang kurang memperhatikan kualitas berita, moralitas, sopan santun, dan etika. Banyak konten-konten yang mengandung unsur hoax dan pornografi. Sehingga, Pesantren di era globalisasi kini sudah seharusnya mampu bersaing dengan kalangan luar dan datang membawa pencerahan. Santri harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman guna menjawab tantangan globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan. Seperti halnya di pondok pesantren Darul-Falah Be-Songo yang terkenal dengan Pondok Pesantren Life Skill, Pondok Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo Semarang tampil sebagai pesantren yang telah melakukan improvisasi kurikulum dan metodologi pendidikan. Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo telah mencoba melakukan langkah improvisasi metodologi, yaitu memperluas penyebaran wacana dan keilmuan melalui tulisan, lewat program Jurnalistik Praktis. Adapun progam tersebut, bertujuan untuk membimbing dan mencerdaskan santrinya agar siap menyongsong masa depan melalui program kepenulisan.

Kata kunci : Pesantren, Budaya Menulis, dan Jurnalistik Praktis

  1. A.    Pendahuluan

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Namun demikian, sesungguhnya pesantren turut memainkan peranan yang cukup signifikan dalam membina dan mengembangkan Sumber Daya Manusia untuk menggapai keunggulan (excellence). Sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren sepanjang sejarahnya telah berperan besar dalam upaya-upaya meningkatkan kecerdasan dan martabat manusia.

Fungsi pesantren tersebut hingga kini tetap harus terjaga dengan baik, bahkan sebagian telah mengembangkan fungsi dan perannya sebagai pusat pengembangan di berbagai masyarakat.[1] Pesantren pun dituntut untuk menciptakan generasi muslim yang independen dan memiliki life skill yang dapat diandalkan. Hal inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi. Sebab, persaingan di era globalisasi hanya dimenangkan oleh manusia yang berkualitas.[2]

Pada konteks ini peran pesantren tentu harus ditingkatkan, sebab tuntutan globalisasi mustahil dihindari. Falakh menegaskan bahwa keunggulan Sumber daya manusia  yang ingin dicapai pondok pesantren adalah terwujudnya generasi muda yang berkualitas tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik.[3]

Berkaitan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa (santri) harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman guna menjawab tantangan  globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.[4]

Namun demikian, mereposisi peranan pesantren tersebut tidaklah gampang. Permasalahan seputar pengembangan model pendidikan  pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (human resources) merupakan isu aktual dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer. Maraknya perbincangan mengenai isu tersebut tidak bisa dilepaskan dari realitas empirik keberadaan pesantren dewasa ini kurang mampu mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya.

Setidaknya terdapat dua potensi besar yang dimiliki pesantren yaitu potensi pendidikan dan pengembangan masyarakat. Khusus dalam bidang pendidikan, misalnya, pesantren dapat dikatakan kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan output (santri) yang memiliki kompetensi dalam  penguasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal terjun kedalam kehidupan sosial yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecangihan sains dan teknologi.

Kegagalan pendidikan pesantren dalam melahirkan sumberdaya santri yang memiliki kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu keislaman dan penguasaan lifeskill secara sinergis berimplikasi terhadap kemacetan potensi pesantren kapasitasnya sebagai salah satu agen perubahan sosial (agents of social change) dalam berpartisipasi mendukung proses transformasi sosial bangsa.[5]

Di kalangan pesantren sendiri, setidaknya sejak dasawarsa terakhir telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna meningkatkan kualitas SDM yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial (pembangunan). Dari sinilah timbul berbagai model pengembangan SDM, baik dalam  bentuk perubahan kurikulum  pesantren yang lebih berorientasi kepada kekinian, dalam  bentuk kelembagaan baru, atau sekolah-sekolah umum  di lingkungan pesantren.[6]

Bahkan di beberapa pesantren telah melakukan reorientasi pendidikan yang lebih menekankan life skill dengan memperkenalkan pelatihan-pelatihan keterampilan (vocational) dalam sistem pendidikannya. Seperti halnya di pondok pesantren Darul-Falah Be-Songo yang terkenal dengan Pondok Pesantren Life Skill, para santri dibekali berbagai ilmu ketrampilan mulai dari memasak, menjahit, menyablon, menulis, dan lain-lain.

Kendati demikian, sejauh ini jarang sekali pesantren yang benar-benar memperhatikan secara serius improvisasi kurikulum mengenai langkah pengenalan keluar secara lebih luas terhadap keilmuan yang diajarkan. Padahal menurut Zuhri, segala potensi yang ada, khususnya di bidang transmisi keilmuan klasik, jika tidak dikembangkan dan didukung dengan improvisasi metodologi hanya akan menghadirkan pemupukan keilmuan.[7]

Berdasarkan fenomena tersebut, Pondok Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo Semarang tampil sebagai pesantren yang telah melakukan improvisasi kurikulum dan metodologi pendidikan. Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo telah mencoba melakukan langkah improvisasi metodologi, yaitu memperluas penyebaran wacana dan keilmuan melalui tulisan, lewat program Jurnalistik Praktis.

Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo memiliki visi-misi membimbing dan mencerdaskan santrinya agar siap menyongsong masa depan melalui program kepenulisan. Kegiatan itu merupakan gabungan antara unsur vocational dan pengembangan keilmuan. Para santri di pesantren tersebut dibimbing untuk menjadi penulis yang siap menghadapi masa depan, berdarma dan berjuang melalui ilmu yang dimilikinya. Para santri dibebaskan menempuh jalan yang berbeda-beda sesuai kompetensi dan kemampuan masing-masing dalam kerangka kepenulisan dengan idealisasi masuk ke media massa dan dunia perbukuan. Mereka bisa memilih cerpen, opini, puisi, artikel, atau yang lainnya.

Pengarahan visi-misi melalui program semacam Jurnalistik Praktis paling tidak bisa mengandung tiga kelebihan. Pertama, improvisasi metodologi bagi keilmuan santri; kedua, aktualisasi keterampilan menulis (vocational); dan ketiga, penanaman prinsip belajar untuk menjadi (learning to know) atau belajar untuk memperoleh pengetahuan guna melakukan pembelajaran selanjutnya dan (learning to do). Dengan kata lain, belajar untuk memiliki kompetensi dasar dalam hubungan dengan tim kerja yang berbeda-beda.

Baca juga :  Khidmah Berbuah Berkah: Belajar Hidup Seperti Asu dan Celeng

Program Jurnalistik itu sendiri merupakan kegiatan yang secara khusus membimbing santri menuju profesionalisme kepenulisan. Artinya, program ini hendak mengembangkan potensi kepenulisan para santrinya dalam bidang kepenulisan yang menitikberatkan pada aspek praktik daripada teori. Karena itu, perlu dilihat, pertama, bagaimana pelaksanaan program Jurnalistik di Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo; dan, kedua, apa hasil dan manfaat usaha pengembangan potensi kepenulisan santri melalui program Jurnalistik Praktis tersebut.

  1. B.     Pembiasaan Budaya Menulis

Pesantren Mahasiswa Darul-Falah Be-Songo Semarang dirintis oleh Prof.K.H. Imam Taufiq M,Ag pada tahun 2008. Untuk membiasakan budaya kepenulisan diagendakan Program Jurnalistik Praktis. Jurnalistik Praktis adalah suatu kegiatan yang masuk dalam kurikulum semi otonom  pesantren Darul-Falah Be-Songo yang secara khusus berusaha mengarahkan para santri dalam  bidang kepenulisan. Kurikulum  semi otonom pesantren adalah kurikulum pesantren yang di dalam pelaksanaannya mengambil waktu dan jam tersendiri, lepas dari jadwal pelajaran yang telah ditentukan.[8]

Istilah ini digunakan sebagai langkah pembedaan dengan kegiatan ekstra yang pada umumnya tidak bersifat dominan di dalam  suatu lembaga. Kurikulum  ini pada dasarnya hampir sama dengan “ kegiatan ekstra”, tetapi kurikulum ini lebih dominan dari kegiatan lain karena menjadi kegiatan inti pesantren, terbukti dengan adanya kegiatatan-kegiatan lain yang sebagian besar mengarah/mendukung pada kompetensi menulis. Padahal yang menjadi wadah mengembangkan potensi menulis adalah “Jurnalistik Praktis”.

Jurnalistik Praktis oleh pihak pesantren diartikan sebagai latihan kepenulisan yang dilaksanakan untuk mengikuti isu-isu aktual di media massa berupa berita/reportase dalam  bentuk opini, resensi buku, puisi, essai sastra, cerpen, novel yang menitikberatkan pada aspek praktik dalam pelaksanaannya. Jurnalistik Praktis dari pihak pesantren juga mempunyai tujuan tertentu.

 Secara garis besar tujuan tersebut dibagi kedalam tiga bagian; Pertama, dengan diadakannya pelatihan Jurnalistik Praktis diharapkan para santri bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan keilmuan melalui media massa dengan menggunakan cara atau jalan yang berbeda-beda. Kemampuan, bakat dan minat para santri diharapkan bisa diarahkan menuju pengapresiasian pendapat dan keinginan terhadap sasaran yang lebih luas, yaitu khalayak.

Para santri bisa menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran (dalam syariat Islam) melalui berbagai media, bisa lewat artikel, cerpen, puisi, buku, novel dan sebagainya. Para santri mempunyai latar belakang dan pendidikan yang berbeda-beda, diharapkan bisa melahirkan kontribusi yang bermanfaat melalui tulisan, sesuai dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Santri mahasiswa yang di Fakultas Tarbiyah dapat menyampaikan kontribusinya tentang pendidikan, Fakultas Syariah tentang hukum, Fakultas ilmu sosial dan politik menyampaikan gagasanya seputar dunia kepolitikan, Fakultas Ushuluddin tentang dasar-dasar agama, Fakultas Dakwah tentang alternatif pengembangan Islam melalui media massa.

Kedua, dengan Jurnalistik Praktis para santri bisa menjalani proses menuju hidup mandiri, karena pengasuh menyarankan agar semaksimal mungkin tidak menggantungkan orang tua, meskipun harus bersusah-susah dan kerja keras. Dengan termuatnya tulisan di media-media massa akan mendatangkan konsekuensi finansial, yaitu berupa honor. Dengan adanya konsekuensi tersebut, jika para santri telah mapan dalam dunia kepenulisan, bisa memprediksi kemampuannya dan peka terhadap momentum, maka untuk biaya hidup dan perkuliahan menjadi tidak masalah, artinya kemandirian telah tercapai dengan bekal keilmuan.

Ketiga, dengan Jurnalistik Praktis diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan para santri di dalam kebiasaan membaca. Hal ini sangat prinsip di dalam dunia kepenulisan, karena dalam menulis yang parameternya adalah selera khalayak melalui tim redaktur masing-masing media massa diperlukan kepekaan dan wawasan yang luas. Hal ini bisa dicapai jika santri benar-benar rajin membaca dan belajar, baik itu dari literatur-literatur yang berwujud wacana ataupun realitas yang ada. Dengan demikian, membaca dan belajar kepada realitas menjadi sebuah kebutuhan, dan kebutuhan itu akan dicari oleh pihak yang membutuhkan selama dia hidup.

Berdasarkan prinsip inilah, kemudian prinsip learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan dan melaksanakan pembelajaran selanjutnya) dan learning to do (belajar untuk memiliki kompetensi dasar dalam  hubungannya dengan tim kerja yang berbeda) menjadi sebuah prinsip. Bila orang telah mempunyai prinsip yang jelas, maka kecenderungan untuk bertindak positif lebih besar. Jadi dari sisi lain kebiasaan menulis dapat membimbing menuju pendewasaan mental.

  1. C.    Penutup

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pihak pesantren tersebut adalah salah satu alternatif yang bisa dikatakan unik untuk dunia pesantren. Pesantren tersebut telah berusaha mengintegrasikan antara vocational dengan pengembangan keilmuan. Menulis dalam hal ini dapat di masukkan ke dalam vocational dan pengembangan keilmuan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut dapat dicapai dalam dunia kepenulisan.

Menulis sebagai sebuah ketrampilan, jika dilakukan dengan maksimal dan telah mencapai kemapanan (dalam arti cukup bisa membaca selera redaktur dan masyarakat umum) akan mendapatkan konsekwensi finansial, yaitu berupa honor. Untuk penulis buku bisa melalui royalti (pembayaran tidak langsung) ataupun langsung. Untuk honor yang didapat, khususnya media-media massa yang jangkauannya luas atau nasional, juga relatif besar dibanding yang lokal. Misalnya harian Kompas, satu tema opini yang termuat bisa mendapatkan honor sekitar empat ratus sampai delapan ratus ribu rupiah, Jawa Pos sekitar dua ratus ribu rupiah, Kedaulatan Rakyat sekitar seratus ribu rupiah.

 Yang paling penting di sini adalah nilai positif yang dapat dipetik, khususnya kebiasaan membaca yang akan terpupuk jika seseorang gemar menulis. Bagi orang-orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan dan memerlukan banyak wacana tentunya akan lebih peka dalam  memahami maksud yang terkandung di dalam berbagai literatur sebagai efek dari sebuah kebiasaan membaca.

 

DAFTAR PUSTAKA

Falakh, M.Fajrul.1999. Pesantren Masa Depan:Wacana Pemberdayaan dan    Transformasi Pesantren. Bandung: Pustaka Hidayah.

Siraj, Said Agil et.al. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah.

Zulkifli. 2002. Sufi Pesantren. Yogyakarta: LKIS.

Brunessen, Martin Van. 1999. Kitab  Kuning  Pesantren dan Tarikat: Tradisi-Tradisi Islam  di Indonesia. Bandung: Mizan.

Mas’ud, Abdurrahman. 2000. “ Pesantren dan Walisongo: Sebuah Interaksi dalam Dunia Pendidikan” dalam M.Darori Amin (ed.), Islam dan Kebudayaan Jawa.Yogyakarta: Gama Media.

Madjid, Nurcholis. 1999. Bilik -bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. (Jakarta: Paramadina.

Wahyoetomo, Ar. 1990. Perguruan Tinggi Pesantren Alternatif Masa Depan. Jakarta: Gema Indonesia Press.

Wawancara dengan Irsyad Nur Abdullah (santri Darul Falah), 7 Desember 2018.

 


[1] Said Agil Siraj, et.al, Pesantren Masa Depan, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), hal. 140.

[2] Zulkifli, Sufi Pesantren, (Yogyakarta: LKIS, 2002), hal. 160.

[3] M.Fajrul Falakh, Pesantren Masa Depan.., hal. 48.

[4] Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarikat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1999), hal. 67.

[5] Abdurrahman Mas’ud, “Pesantren dan Walisongo: Sebuah Interaksi dalam Dunia Pendidikan” dalam M.Darori Amin (ed.), Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hal. 224.

[6] Nurcholis Madjid, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 199), hal.17.

[7] Ar. Wahyoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren Alternatif Masa Depan, (Jakarta: Gema Indonesia Press, 1990), hal. 201.

[8] Wawancara dengan Irsyad Nur Abdullah (santri Darul Falah), 7 Desember 2018.

 

*Penulis KTI Terbaik ngaji kepenulisan kelas 3 Pesantren Besongo (Karya Tulis Ilmiah ini dibuat saat Imtihan ngaji kepenulisan kelas 3 Pesantren Besongo)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: