Wajah Pesantren di Dunia Digital (Studi Analisis Media Online Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo)

IMG-20190216-WA0014

Gambar Ilustrasi : Sie. Humas dan Informasi PP. Darul Falah Besongo 2019

Oleh: Muhammad Faiq Azmi*

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN walisongo semarang

Email :faiq.azmi_1604026083@student.walisongo.ac.id

Abstrak

Pesantren merupakan lembaga yang sudah terbukti mampu menghadapi tantangan zaman. Pesantren dengan segala keunikannya. Dikenal mampu bertransformasi menyesuaikan zaman. Di zaman yang serba digital  ini, pesantren kembali mendapatkan tantangan untuk beradaptasi. Pesantren dituntut untuk mampu membawa nilai-nilai luhurnya ke dalam dunia digital. Pondok Darul Falah Besongo merupakan salah satu pondok pesantren yang sudah melakukan hal tersebut. Darul Falah Besongo sudah memiliki web resmi dengan alamat www.be-songo.or.id. Selain itu, pondok ini juga memiliki akun resmi di media sosial, baik di Facebook, Instagram, Twitter bahkan Youtube. Semua media online ini dioperasikan oleh pengurus pondok bidang informasi, dibawah bimbingan pengasuh pondok. Akan tetapi, konten yang ada di dalam media tersebut terkesan hanya menyebarkan informasi kegiatan pondok. perlu adanya peningkatan kualitas konten, sehingga media online tersebut benar-benar bisa mewakili wajah pesantren di dunia digital. Sekaligus ,menjadi wadah pengembangan kreatifitas dan keterampilan santri.

Kata kunci: pesantren, dunia digital.

Abstract

Pesantren is an institution that has already proven to be able to face the challenges of the times. Boarding school with all its uniqueness. Known for being able to transform adjust time. At the time of this digital, pesantren get the challenge to adapt. pesantren are expected to able to bring the values into the digital world. Pesantren  darul falah besongo is one of the boarding schools are already doing this. Darul falah besongo already have official web address www.be-songo.or.id. In addition, it also has the official account in social media, whether on facebook, twitter, youtube even instagram. All online media is operated by a field hut information, under the guidance of the caretakers cottage. However, the content that is in the media is impressed only disseminate information hut. need for improved quality of content, so that online media could actually represent the face of the boarding school in the digital world. At the same time, become the container development of creativity and skills of students.

Keywords: pesantren, digital world.

Pendahuluan

Pondok pesantren sudah ada di Indonesia sejak abad 15. Syeikh Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419 M) adalah tokoh yang pertama kali mendirikan pondok pesantren.[1] Rata-rata lahirnya pesantren diawali dari diakuinya kealiman seorang tokoh agama atau yang biasa disebut kiai. Kemudian banyak orang yang mulai datang untuk menimba ilmu. Sehingga ikut tinggal di tempat kiai tersebut.[2] Sejarah mencatat bahwa pesantren  adalah salah satu lembaga pendidikan yang mampu beradaptasi secara baik, mengikuti perkembangan zaman.[3] Pada masa penjajahan, pesantren mampu beradaptasi dan menjelma menjadi benteng pertahanan bangsa. Pada masa pemberontakan, pesantren turut berperan menumpas para pemberontak. Di masa revolusi, para santri jebolan pesantren turut berperan mengawal reformasi. Pasca reformasi, pesantren kembali beradaptasi dan menciptakan sistem yang sesuai dengan tuntutan zaman.[4] Ada pesantren yang berbasis terpadu, bukan hanya mondok namun juga sekolah di madrasah ataupun sekolah resmi. Sehingga, secara kelimuan, para santri tidak kalah dari yang lain. Kemudian muncul pula inovasi berupa pesantren modern. Santri tidak hanya diajari ilmu agama dari kitab-kitab klasik. Santri juga dibekali lifeskill dan kemampuan berbahasa asing.[5]

Zaman sekarang, yang segalanya serba digital, pesantren kembali mendapatkan tantangan. Pesantren dituntut untuk mampu bersaing di dunia digital. Pesantren dirasa perlu untuk mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai luhurnya ke dunia digital.[6] Sehingga konten-konten positif yang ada di pesantren seperti nilai toleransi, keberagaman dan kebersamaan bisa tersebar secara luas.

Pondok Darul Falah Besongo adalah salah satu pondok pesantren yang sudah melakukan hal tersebut. Pengurus Pondok Darul Falah Besongo memiliki beberapa media online yang dikelola oleh pengurus, dibawah bimbingan pengasuh (kiai) secara langsung. Selain itu, santri juga diwajibkan untuk turut menyebarkan konten-konten positif yang sudah di produksi. Sehingga, konten yang ada di media online milik pondok pesantren darul falah besongo bisa tersebar lebih luas.

Pembahasan

A. Profil Pondok Pesantren Darul Falah Besongo

Pondok Pesantren Darul Falah Besongo terletak di perumahan Bank Niaga RT 02 RW 14 kelurahan Tambakaji, Ngaliyan semarang. Pondok yang berdiri sejak tahun 2008 ini berada di tengah perubahan. Berbeda dengan pondok lain yang berada dalam satu komplek. Pondok darul falah besongo tersebar dalam 7 asrama, yakni asrama B9 – merupakan asrama pertama dan merupakan asal usul nama “be-songo” – asrama a7, asrama B5 dan asrama C9. Serta ditambah dua asrama putra, yakni B17 dan B6. Selain itu, B13, yang merupakan kediaman dari Prof. DR. KH. Imam Taufiq, M.Ag yang merupakan pengasuh pondok pesantren darul falah besongo.[7]

Selain mengkaji kitab kuning, santri Besongo juga dibekali hard skill, soft skill dan life skill. Kombinasi antara kajian kitab kuning, serta ilmu-ilmu kekinian seperti kebahasaan,resolusi konflik,desain grafis dan penegetahuan tentang dunia digital ditambah dengan keterampilan memasak, menjahit, sablon dan lain sebagainya diajarkan, dengan harapan kelak santri dapat berkhidmah lebih banyak di masyarakat.[8]

Selain itu, santri juga di dorong untuk menyebarakan nilai – nilai positif yang ada di pesantren ke dunia luar melalui media online. Santri Darul Falah Besongo dibekali pengetahuan tentang dunia digital agar mampu memanfaatkan dunia tersebut, bukan malah terseret arus deras dunia digital. Hal ini terbukti dengan adanya media online resmi milik pondok pesantren yang dikelola oleh pengurus pondok. cukup banyak media online yang dikelola pondok besongo, mulai dari website resmi, sampai media sosial berupa facebook, twitter, intagram bahkan youtube.[9]

     B. Media Online Pondok Pesantren Darul Falah Besongo

Pondok Darul Falah Besongo memiliki media online yang dikelola oleh pengurus pondok Pesantren Darul Falah Besongo. Setiap tahunnya, media ini diwariskan dari pengurus, kepada kepengurusan selanjutnya. Agar estafet perjuangan di dunia digital dapat terus berlanjut.[10] Secara khusus devisi hubungan masyarakat dan informasi yang mengelola seluruh media online tersebut.

  1. Website

Website resmi pondok pesantren darul falah besongo merupakan media online yang pertama kali dibuat. Website yang berlamatkan www.be-songo.or.id inisudah berdiri sejak agustus 2013. Website ini memiliki banyak konten didalamnya. Diantaranya adalah Al-qolam (yang merupakan wada bagi santri untuk menulis, awalnya alqolam adalah nama bagi bulletin cetak resmi milik pondok, yang  kemudian disebarluaskan juga melalui website), Halaqoh (berupa tulisan hasil diskusi rutin yang dilasksanakan santri sebagai media mengasah kemampuan berpikir dan berargumen), Kajian (berisi artikel yang berisi kajian tentang tema-tema tertentu), tokoh ( berisi kajian khusus terkait tokoh tertentu, semisal ulama atau kiai), kolom pengasuh ( kolom khusus yang berisi tulisan-tulisan pengasuh pondok pesantren Darul Falah Besongo). Selain itu, melalui website ini pula pondok besongo menyebarkan informasi tentang penerimaan santri baru serta pendaftaran secara online.

Baca juga :  Jagalah Bumi Kita

          2. Intagram

Pondok darul falah besongo memiliki akun instagram resmi, yaitu @pesantenbesongo. Akun instagram yang  berdiri sejak oktober 2016 ini telah memiliki pengikut sebanyak 1.014. akun intagram ini rutin mengabarkan berbagai kegiatan yang ada di besongo melalui postingannya yang sudah mencapai 266 postingan. Bisa dikatakan, akun intagram merupakan media sosial yang paling aktif jika dibandingkan media online lainnya. Ketika ada kegiatan, selain ditampilkan dalam postingan gambar, kegiatan tersebut juga disebarkan melakui fitur live instagram.

3. Twitter

Akun twitter resmi yang dikelola oleh pengurus pondok pesantren darul besongo adalah @PonpesBesongo. Aku twitter ini dibuat pada oktober 2017. Tak banyak santri yang mengikuti akun twitter ini. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pengikutnya yang masih 65 pengikut. Akun twitter milik pondok besongo ini lebih banyak menyebarkan informasi yang sama dengan yang ada di instagram. Selain itu, akun ini juga me-retweet cuitan dari akun milik abah imam taufiq di @besongos selaku  dan konten-konten positif lainnya.

         4. Facebook

Akun facebook resmi milik pondok pesantren besongo sudah dibuat sejak 16 juni 2012. Dengan format sebagai individu yang dapat menerima permintaan pertemanan. Berbeda dengan akun resmi pondok lainnya yang berupa fanpage. Akun dengan nama Pesantren Be-songo ini memiliki 1.885 pertemanan.

         5. Youtube

Channel youtube resmi milik pondok pesantren darul falah besongo adalah “PP. Dafa Besongo. Channel yang baru memiliki 81 subscriber ini dibuat pada 8  juni 2017. Akun ini sudah memiliki 20 video postingan yang terdiri dari konten “cerah besongo”, dokumentasi kegiatan serta dokumentasi lomba yang pernah diikuti pondok pesanten besongo ini.

     C. Analisis terhadap Media Online Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

Secara umum, pondok Pesantren Darul Falah Besongo memiliki keunggulan dari sisi pemanfaatan dunia digital, jika dibandingkan dengan pondok pesantren lainnya. Belum banyak pondok yang mengelola website dan media sosial secara resmi dan termasuk dalam program kerja pengurus pondok. sebagai contoh, akun instagram AlaSantri, yang sekarang sudah memiliki 459.000 lebih pengikut, digagas oleh seorang santri dari jogja secara individu, bukan berupa akun resmi pondok tertentu.[11]

Namun jika kita teliti lebih jauh lagi, website dan media sosial pondok pesantren darul falah besongo saat ini, lebih banyak menampilkan branding diri. Lebih banyak berisi informasi kegiatan-kegiatan yang ada di pondok pesantren darul falah besongo. Tentu hal ini tidak salah. Namun, setidaknya perlu diperbanyak konten-konten yang menunjang narasi damai dan penyebaran Islam Rohmatan Lil Alamin.

Akan lebih baik jika memproduksi konten sesuai dengan yang disebutkan dalam buku bina damai di  media sosial, yakni, produksi wacana ofensif kontra propaganda,  produksi wacana defensive kontra narasi radikal, produksi narasi damai universal dan produksi wacana pengalihan.[12]

Lebih jauh lagi, media online pesantren harus mampu menjadi wadah pengembangan kreatifitas serta pengembangan keterampilan santri, mulai dari kemampuan menulis, kemampuan desain, kemampuan editing dan kemampuan lainnya yang dapat menunjang kehidupan santri, khususnya dalam menebar nuansa damai di dunia digital.

Kesimpulan

Pondok pesantren Darul Falah Besongo sudah melakukan adaptasi untuk merespon perkembangan dunia digital dengan cara melakukan pengembangan media online, mulai dari facebook, instagram, website, twitter dan youtube. Semua konten ini dioperasikan oleh pengurus dibawah bimbingan Prof. Dr.KH Imam Taufiq, M.Ag selaku pengasuh.

Konten-konten yang dikembangkan di media online milik pesantren Darul Falah Besongo ini masih sebatas menyebarkan informasi tentang kegiatan yang ada di pondok pesantren tersebut. Tidak banyak konten-konten yang bersifat ofensif ataupun defensive terhadap wacana-wacana negative. Konten tentang perdamaian juga masih belum banyak diangkat dalam media-media online pesantren Besongo. Lebih jauh lagi, media online pesantren harusnya bisa menjadi wadah pengembangan keterampilan dan kreatifitas sanrtri untuk menghadapi dunia digital.

Daftra Pustaka

Mundhir dkk, 2015, Bina Damai dalam Media Sosial Berbasis Komunitas Santri Studi Etnografi Digital, Semarang, Walisongo Press

Musthofa, 2015, Kedatangan Islam dan Pertumbuhan Pondok Pesantren di Indonesia Perspektif Filsafat Sejarah,  Jurnal An-Nuha vol 2, No. 1

Shiddiq, Ahmad, 2015, Tradisi Akademik Pesantren, Jurnal Tadris, Vol 10 Nomor 2

Tholib, Abdul, 2015, Pendidikan di Pondok Pesantren Modern , Jurnal Risalah, vol 1 no.  1

Wahid, Abdurrahman, 2010, Menggerakkan tradisi: esai-esai Pesantren, Yogyakarta, LKIs Yogyakarta

Pesantren digital Indonesia, “Saatnya Genggam Dunia”, www.pesantrendigital.org, diakses pada 26 desember 2018.

Swara Rahima, “Nglirik Pendidikan Kesetaraan di Ponpes Darul Fala Besongo Semarang”, www.swararahima.com/04/07/2018/ngirik-pendidikan-kesetaraan-di-ponpes-darul-falah-besongo/ diakses pada 26 desember 2018.

Wawancara dengan Nadia Falahatul, kordinator bidang hubungan masyarakat dan informasi pondok pesantren darul besongo 2018/2019. 25 desember 2018.

Wawancara dengan Aisyatul Maghfiroh. Pengurus bidang komunikasi dan informasi 2014/2015. 27 desember 2018

Informasi dari acara Focus Grup Discussion Bina Damai di Media Sosial, UIN Walisongo pada tanggal 10 Oktober 2018.


[1]Musthofa, “Kedatangan Islam dan Pertumbuhan Pondok Pesantren di Indonesia Perspektif Filsafat Sejarah” (jurnal An-Nuha vol 2, No. 1. 2015)          hlm. 7.

[2] Abdurrahman Wahid, “Menggerakkan tradisi: esai-esai Pesantren,” (LKIs: Yogyakarta, 2010), hlm. 3-4

[3] Ahmad Shiddiq, “Tradisi Akademik Pesantren” (Jurnal Tadris, Vol 10 Nomor 2 2015) hlm. 219.

[4] Abdul Tholib, “Pendidikan di Pondok Pesantren Modern” (jurnal risalah, vol 1 no.  1 2015) hlm 61.

[5] Abdul Tholib, “Pendidikan di Pondok Pesantren ….” hlm. 62

[6] Pesantren digital Indonesia, “Saatnya Genggam Dunia”, www.pesantrendigital.org, diakses pada 26 desember 2018.

[7] Swara Rahima, “Nglirik Pendidikan Kesetaraan di Ponpes Darul Fala Besongo Semarang”, www.swararahima.com/04/07/2018/ngirik-pendidikan-kesetaraan-di-ponpes-darul-falah-besongo/ diakses pada 26 desember 2018.

[8] ibid

[9] Hasil wawancara dengan Nadia Falahatul, kordinator bidang hubungan masyarakat dan informasi pondok pesantren darul besongo 2018/2019. 25 desember 2018.

[10] Devisi informasi baru dibentuk pada tahun 2014, pada ahun sebelumnya, media online pondok dikelola oleh bidang pendidikan. Hasil wawancara dengan Aisyatul Maghfiroh. Pengurus bidang komunikasi dan informasi 2014/2015. 27 desember 2018

[11] Disampaikan oleh admin AIS Jateng dalam Focus Grup Discussion Bina Damai di Media Sosial, UIN Walisongo pada tanggal 10 Oktober 2018.

[12] Mundhir dkk, “Bina Damai dalam Media Sosial Berbasis Komunitas Santri Studi Etnografi Digital”, (Walisongo Press: Semarang 2015) hlm. 171-172

*Penulis KTI Terbaik ngaji kepenulisan kelas 3 Pesantren Besongo (Karya Tulis Ilmiah ini dibuat saat Imtihan ngaji kepenulisan kelas 3 Pesantren Besongo)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Wajah Pesantren di Dunia Digital (Studi Analisis Media Online Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo)”

%d blogger menyukai ini: