Mentradisikan Shalawat dan Wirid dalam Kehidupan

DSCN0013

Oleh : Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag.*

Pesantren memiliki kontrol yang kuat dalam membangun akhlak dan karakter manusia yang bermartabat. Akhlak adalah sesuatu yang muncul tanpa perlu pemikiran lagi. Akhlak terbentuk karena kebiasaan yang terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, sistem Pesantren yang menerapkan aktivitas-aktivitas baik di pondok merupakan kesempatan emas bagi para santri untuk membiasakan diri berakhlakul mahmudah.

Selain memiliki ciri khas dalam berakhlak, berbagai shalawat dan wirid juga ditanamkan dalam jiwa mereka. Shalawat dan wirid yang diijazahkan oleh Kyai kepada santri hakikatnya memiliki makna dan khasiat yang luar biasa, selama diniatkan hanya mencari ridha Allah. Hanya Allah Tuhan yang menjaga, mengatur dan menjadikan segala yang ada di jagad raya ini baik. Manusia harus menyadari bahwa dirinya makhluk yang lemah dan tidak berdaya, dan hanya atas petrolongan Allah, swmua aktivitas dan yang bersama manusia menjadi bermakna. Karena itu, shalawat dan amalan ibadah hanya untuk Allah Sang Maha Segalanya.

Kalaupun ada atsar atau manfaat akibat riyalat dan bacaan shalawat itu semata-mata karena kemuliaan dan kasih sayang-Nya.  Salah satu manfaat membiasakan membaca shalawat dan wirid akan menjadikan hidup tidak rupek, merasa tenang, dan damai. Ulama-ulama zaman dahulu tidak asal-asalan dalam membuat resep wiridan dan shalawat. Seperti halnya shalawat nariyah yang sering kita baca. Shalawat nariyah adalah shalawat yang memiliki ekstrak lengkap. Banyak orang yang berikhtiar melalui shalawat ini. Misal jika ingin hajatnya terkabul, dapat membaca shalawat nariyah sebanyak 4444 kali.

Shalawat Nariyah adalah shalawat yang penuh keberkahan dan kesempurnaan. Allahuma Shalli Shalatan Kamilah, yang itu ditunjukkan untuk Rasulullah, yang dengan shalawat ini tanhallu bihil ‘uqad, yang artinya bisa melepaskan ikatan apapun beban-beban kita, misal seperti kekakuan lidah kita dapat diatasi dengan mengamalkan banyak membaca shalawat nariyah untuk melancarkan lisan kita terutama saat berbicara di depan khalayak umum.

            Keistimewaan shalawat dan wirid dapat dilihat pada Kisah Nabi Musa. Konon, Fir’aun bermimpi akan ada seseorang dari keturunan Bani Israil yang bisa mengalahkannya. Alhasil, ia membuat peraturan bahwa siapa sajayang melahirkan bayi laki-laki maka wajib dibunuh. Tapi atas kuasa Allah, bayi Musa yang dihanyutkan Ibunya selamat sampai ke pangkuan Asiyah, istri Fir’aun sendiri. Fir’aun sudah curiga dengan beberapa perilaku Nabi Musa yang tak seperti bayi pada umumnya, sampai akhirnya Musa diuji untuk memilih roti atau bara api. Meskipun Nabi Musa sudah pandai, namun saat hendak mengambil roti tangan Nabi Musa dipukul Malaikat sehingga berpaling mengambil bara api dan dimakannya sehingga lidah Nabi Musa menjadi cedal.

Maka saat itu Nabi Musa berdo’a “Rabbisyrahli shadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatam millisani yafqahu qauli”. Wahlul ‘uqdatam disini berarti sama maknanya seperti pada shalawat nariyah tanhallu bihil ‘uqad supaya lisannya dapat terlepas dari belenggu saat berbicara. Do’a Nabi Musa tersebut juga banyak ditiru oleh Kyai-Kyai atau orang-orang yang hendak berpidato dengan tujuan agar dibebaskan kesalahan-kesalahan pada lisannya sehingga dapat berpidato atau ceramah dengan lancar.

Watanfariju bihil kurab, yang artinya memberikan solusi terhadap permasalahan, beban-beban pikiran, ataupun kesedihan. Hal ini dicontohkan dengan kehadiran Rasulullah dari lahir hingga wafatnya beliau selalu memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Misalnya saat beliau disusui oleh Ibu Halimatus Sa’diyah yang memilki banyak hewan ternak, namun saat itu banyak hewan ternaknya kurus kering. Kehadiran Rasulullah disana menjadikan ternak Ibu Halimatus Sa’diyah menjadi gemuk dan sehat. Hal tersebut mengajari kita bahwa dengan bershalawat dan semakin mendekat kepada Rasul dapat menjadi wasilah munculnya solusi terhadap setiap masalah yang kita alami.

Baca juga :  Toleransi; Refleksi Akhlak Nabi Meraih Ridla Ilahi

Wa tuqdha bihil hawaij, yang berati dengan shalawat segala macam hajat dan kebutuhan umat manusia dapat diijabahi dan dikabulkan. Dahulu pada zaman Rasulullah, beliau belum dapat menyebarkan dakwah Islam di daerah Persi. Di dalamnya ada dua suku yang saling bermusuhan. Suatu saat ketika akan berperang, seorang pendetanya bermimpi agar membawa nama Nabi, dan atas wasilah tersebut akhirnya mereka dapat memenangkan peperangan. Wasilah tersebut sudah dapat dibuktikan oleh orang non Islam apalagi pada Muslim tentu dapat menjadi jalan agar segala hajatnya terpenuhi.

Wa tunalu bihirraghaib, yang artinya dengan shalawat berbagai macam keinginan dapat tercapai. Seperti cerita salah seorang sahabat bernama ‘utbah bin Basyar, dia memiliki penyakit kulit yang begitu parah. Kemudian ia sowan kepada Rasulullah tentang penyakitnya tersebut, kemudian Rasulullah meludahi tangannya dan meratakan ke bagian punggung sahabat yang sakit tadi sehingga seketika penyakitnya sembuh. Bahkan tak hanya sembuh, namun badan sahabat ‘Utbah bin Basyar juga menjadi wangi karena air ludah Rasulullah tadi.

Cerita lain saat sahabat Ali diutus Rasulullah ke Yaman untuk menyampaikan pesannya. Pada awalnya sahabat Ali menolak dengan alasan beliau tidak pandai berbicara. Kemudian sahabat Ali membuka bajunya dan Rasulullah memukul-mukul kecil dadanya sembari meyakinkan sahabat Ali untuk tetap pergi. Dengan wasilah tersebut, Sahabat Ali-pun dapat berbicara dengan lancar menyampaikan pesan Rasulullah kepada orang-orang di Yaman. Kisah-kisah tadi mengajarkan kita bahwa dengan bershalawat dapat mempermudah proses sembuh dari sakit dan berbagai keinginan cepat tercapai.

Wa Husnul Khawatim, yang artinya dengan shalawat kepada Rasulullah bisa membuat kita Husnul Khatimah. Husnul Khatimah disini tak hanya diartikan saat meninggal, namun juga menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Misalnya dulu ada panglima perang bernama Suroqoh bin Naufal yang ingin membunuh Rasulullah, namun ketika sudah di hadapan Nabi ia menjadi tidak berdaya, pedangnya jatuh, dan akhirnya masuk Islam. Kisah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa dengan semakin sering kita bershalawat, akan semakin menuntun kita ke jalan yang lebih baik.

Wa yustasqol ghamam bi wajhihil karim wa ‘ala alihi washahbihi fi kulli lamhati wanafasimbi’adadi kulli ma’lumillak, biasanya dibaca oleh orang-orang yang menginginkan akan turunnya hujan. Abu Thalib ketika Mekkah kering dan begitu gersang memohon do’a kepada Allah dengan wasilah Rasulullah agar hujan turun, maka hujan-pun turun. Selain hujan air yang sesungguhnya, hujan disini juga diartikan dengan berbagai hajat dan keberkahan yang dapat kita minta dengan wasilah kepada Rasulullah.

Berkaca pada fenomena di atas, sudah selayaknya seorang santri mentradisikan pembacaan shalawat dan wirid dalam berbagai lini kehidupan. Pasalnya, kedua hal tersebut merupakan wasilah memperoleh ridha Allah yang berakibat terkabulnya hajat, munculnya keberkahan, serta adanya solusi dari setiap permasalahan.

*Pengasuh Ponpes Darul Falah Besongo dan Wakil Sekretaris PW IPHI Jawa Tengah

 #Disarikan oleh Gayuh Rijki Faadhilah dari Mau’idhah Hasanah Abah Imam Taufiq yang disampaikan saat kegiatan Pascaliburan 2019 Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang pada Senin, 25 Februari 2019

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: