Studi Banding Pesantren, Perspektif Feminisme dan Keadilan Gender

WhatsApp Image 2019-04-04 at 23.01.22

Gambar : Abah Imam Taufiq (Kanan) memberikan cindramta kepada pondok Jambu Al Islamy, (3/4) di Masjid Pesantren Kebon Jambu

Besongo News – Cirebon (3/4). Studi Banding di pesantren Kebon Jambu, Babakan, Cirebon oleh ratusan santriwan santriwati Darul Falah Besongo Semarang berlangsung di Masjid pesantren. Selama dua jam, KH. Marzuki Wahid, MA,. sebagai pemateri mengupas secara rinci topik yang dewasa ini ramai diperbincangkan, yakni kesetaraan dan keadilan gender.

Pemateri menegaskan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tetapi perbedaan tersebut menjadi kolaborasi yang melahirkan relasi.

“Laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda, tetapi bukan untuk dibeda-bedakan.

Justru dari perbedaan itu saling melengkapi sebagai kesempurnaan,” jelas Bapak Marzuki mengawali sambutannya.

Dalam Islam, fenimisme sudah lama digerakkan bahkan sebelum tradisi tersebut muncul di ranah Barat.

“Feminisme itu suatu gerakan, pandangan, pemikiran yang memperjuangkan hak-hak atau martabat seorang perempuan agar memperoleh keadilannya dan sejajar dengan laki-laki. Ini umerupakan ciri Islam yang sudah lama dikembangkan,” ujar Bapak Marzuki menambahkan.

Gerakan Feminisme digalakkan sebagai upaya penghilangan kemuliaan yang mengunggulkan laki-laki sehingga tidak ada lagi perbedaan yang mengatasnamakan jenis kelamin. Karena pada dasarnya, hanya taqwa yang menunjukkan sisi kemuliaan manusia dihadapan Tuhan.

Islam tidak membenarkan adanya dehumanisasi terhadap perempuan. Ketika membicarakan masalah kemaslahatan manusia, di dalamnya dispesifikkan tentang kemaslahatan perempuan juga.

“Banyak orang yang tidak faham bahwa kemaslahatan manusia juga didalamnya termasuk spesifik kemaslahatan perempuan. Sehingga, urusan perempuan adalah urusan kemanusiaan. Karena banyak yang tidak tahu, maka harus dibongkar rasa kesetaraan dari diri sendiri, bukan malah mengambil budaya barat,” ujar dosen Ma’had ‘Aly Kebon Jambu mengakhiri materi. (Ziya – red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: