Isra’ Mi’raj untuk Meningkatkan Sholat dan Ketakwaan kepada Allah

IMG_20190415_225254

Gambar : Ustadz Yusuf Al Faruq saat menyampaikan mauidhoh hasanah peringatan isra’ mi’raj Nabi. (11/04) di Musholla Raudlotul Jannah

Besongo News – Ngaliyan (11/04). Perjalanan spiritual Nabi Muhammad yaitu Isra’ Mi’raj dari Masjidil Haram sampai Sidratul Muntaha yang di tempuh hanya satu hari satu malam. Kejadian yang dilakuakn oleh Nabi itu sangat sulit dipahami  karena dalam setiap peristiwanya tidak masuk akal.

Berikut yang disampaikan oleh salah satu ustadz Ponpes Darul Falah Besongo Semarang,M. Yusuf Al Faruq, S. Pd.I.  dalam Mauidhoh Hasanah dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Bertempat di Musholla Raudlotul Jannah, Kamis (12/04).

“ Isra atau perjalanan spiritual tidak diukur dari kekuatan Nabi. Nabi itu ashro yaitu diperjalankan, dan yang memperjalankan Nabi yaitu Allah. Tidak mungkin Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil haram menuju Masjidil Aqsa hanya dalam satu malam. “ Tegasnya

Proses perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi yang tidak dapat dinalar itu diumpamakan seperti perjalanan semut, yang dapat pergi ke Jakarta melalui perantara orang itu menghabiskan waktu satu hari. Bagaimana dengan Nabi yang hanya dalam waktu semalam bisa melakukan perjalanan sejauh itu.

“Perumpamaan semut jika jalan menuju Jakarta itu akan sulit, tapi jika semut itu di beri Fadhilah oleh Allah nemplok di peci pak Haris (salah satu ustadz ponpes Dafa), kemudian pak Haris pergi ke Jakarta menggunakan mobil, satu jam bisa langsung sampai. Jika kita nalar mosok Nabi dalam satu malam bisa melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, padahal jaraknya sangat jauh yaitu sekitar 1.250 km. Sedangkan, pada zaman dulu belum ada kendaraan seperti motor atau mobil.” Jelas Alumni Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo

Baca juga :  TOS, Langkah Awal mencetak Santri Handal

Dalam peringatan Isra’ Mi’raj juga diharapkan dapat dijadikan sebagai menambah ketakwaan kepada Allah. Selain itu, juga meningkatkan ibadah sholat. Karena sholat  merupakan lambang ibadah.

“ Kewajiban bagi santri untuk meningkatkan kualitas sholatnya. Isra’ Mi’raj dijadikan bahan untuk intropeksi diri, mengoreksi, dan menilai sejauh mana sholat kita, kualitas ibadah kita kepada Allah. Orang yang dikatakan ahli ibadah yaitu dilihat dari sholatnya, karena sholat merupakan lambang ibadah. “ Pesannya

Salah satu santri putri Darul Falah Besngo, Dina Arvi Arina Zulfa mengatakan hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj itu sangat besar. Ia juga beranggapan bahwa perjuangan Nabi dalam negosiasi perihal sholat itu sangat luar biasa. Ia juga berpesan kepada santri Besongo bahwa peristiwa tersebut menjadi tamparan keras bagi para santri untuk melaksanakan sholat tepat waktu.

“ Perjuangan Nabi sangat luar biasa. Beruntung sekali kita menjadi umat beliau. Perihal ibadah sholat Nabi melakukan negosiasi langsung dengan Allah, yang mana dulunya lima puluh waktu menjadi lima waktu saja. Hal ini juga menjadi tamparan keras bagi santri khususnya saya sendiri agar melaksanakan sholat tepat waktu terlebih berjamaah.” Ujar Santri putri asrama B 9. (Qayun/Rz – red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: