Memasak, Bekal Santri Terjun ke Masyarakat

1d5adedd-1467-464c-a622-7dab0d36d3f0

Gambar : Santri putri besongo sedang mempresentasikan hasil masakannya. (13/4) di Asrama B 5

Besongo News – Ngaliyan Sabtu (13/04). Hari pertama dalam serangkaian kegiatan akhirussanah telah dimulai. Diawali dengan 3 perlombaan ketrampilan hidup santri, salah satunya adalah memasak. Lomba memasak ini dibagi per kelas 1, 2, dan 3 sesuai dengan tema sesuai yang telah diajarkan ketika kelas memasak pada hari sabtu. Kelas 1 dengan tema masakan sayur harian, kue tradisional untuk tema kelas 2, dan untuk kelas 3 bertema masakan modern. Waktu perlombaan kelas 1 dan kelas 2 berbeda, mengingat tema keduanya juga berbeda, kelas 2 dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 12.30 WIB. Sedangkan untuk kelas 1 mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 15.30 WIB.

Sistem perlombaan memasak tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana santri memasak langsung di TKP dan langsung dipresentasikan hasilnya saat itu juga. Juri pada lomba ini yaitu pengajar kelas memasak 2 dan 3, Dewi Umniyah – biasa dipanggil Budhe – dan Eyang Rosmaren. Penilaian juri berdasarkan rasa, kreativitas, kerapian masakan. Kedua juri sering kali berkeliling ruangan untuk melihat masakan masing-masing kelompok, ada 5 kelompok sesuai asrama yang terdapat di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo – asrama B5 dan C9 yang digabung karena penduduknya sedikit –  yang masing-masing beranggotakan 5 orang dan boleh bergantian.

Mengapa yang diperbolehkan masuk hanya 5 orang? Karena untuk menjaga suasana ketika memasak, agar tidak terjadi keributan dan gerakan yang kurang leluasa akibat banyaknya orang yang masuk ruangan. Salah satu kelompok sempat terjadi kebingungan karena ternyata tidak semua anggota kelompok paham cara memasaknya, namun hal itu dapat diatasi, sehingga memasak kembali berjalan normal. Dari 5 kelompok memasak, ada 3 kelompok yang membuat kue tradisional nagasari dengan kreasi yang berbeda. 2 kelompok lainnya yakni membuat donat dengan 2 rasa – gurih dan manis – dan sandwich mini, serta kue bugis dengan banyak varians warna yang berasal dari bahan alami, warna ungu berasal dari ubi ungu.

Baca juga :  Lomba Flanel dan Kaligrafi, Menjadi Lomba Pertama Akhirussanah 2019

Semua kelompok selesai memasak pukul 11.30 dilanjutkan dengan mengumpulkan hasil masakan ke meja saji yang terletak di depan asrama untuk dipresentasikan oleh salah satu anggota kelompok yang mengerti betul alur pembuatan makanan. Tak lupa ketika presentasi disampaikan juga budget dari total masakan yang dihasilkan. Setelah perwakilan presentasi, kedua juri memberikan komentar dan saran yang membangun untuk masakan-masakan selanjutnya agar hasilnya lebih baik dan lebih maksimal lagi, serta lebih enak. (Arini – red)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: