Santri; sebagai Tombak Aliansi Umat dan Masyarakat

IMG-20171120-WA0003

Gambar : Aktifitas santri putri besongo ketika weekend

Oleh : Hana Mamnukha (Asrama B9)*

“Awak dinggo berjuang rusak, ora dinggo berjuang yo rusak. Awak dinggo ngibadah rusak, ora dinggo ngibadah yo rusak. Luwih becik awak rusak dinggo berjuang lan ngibadah,” (KH Muntaha, 1912-2004)

Dalam kutipan tersebut, dapat dipetik bahwa kaum muda, khususnya para santri merupakan representasi bangsa pribumi yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui resolusi jihad. Resolusi jihad dianggap sebagai seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa. Inti dari resolusi jihad ini adalah bahwa membela Tanah Air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.

Dilansir dari Wikipedia, KH Muntaha adalah putra KH Asy’ari bin KH Abdurrahim bin K. Muntaha bin K. Nida Muhammad. Ibunya bernama Hj. Safinah. Beliau lahir pada 9 Juli 1912 di Kelurahan Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan wafat pada hari Rabu, 29 Desember 2004 dalam usia 92 tahun.

Sebagai seorang ulama Indonesia yang memiliki julukan Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat, Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mendalami dan menyebarkan ajaran Al-Qur’an. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo telah menorehkan gagasan paling monumental yaitu mushaf al-Quran akbar setinggi dua meter dengan lebar tiga meter dan berat lebih dari satu kuintal. Yang kemudian Al-Qur’an tersebut diusulkan untuk masuk Guinnes Book of Record.

Terlahir dari keluarga pesantren, Kiai Muntaha memperoleh pendidikan membaca Al-Qur’an  dan ilmu-ilmu keislama langsung dari kedua orang tuanya. Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan untuk mencari ilmu  dari pesantren satu ke pesantren lain. Dalam perjalanannya menuju  ke pesantren  selanjutnya, selalu ia menghabiskan waktu untuk menghatamkan atau menyelesaikan bacaan Al-Qur’an. Setelah beberapa tahun melakukan perjalanan dari berbagai pesantren, pada tahun 1950 Kiai Muntaha pulang ke tempat asalnya guna melanjutkan kepemimpinan ayahnya (K.H. Asy’ari) untuk mengembangkan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah di desa Kalibeber.

Dikutip dari Ansor Jabar Online (10/22/2017), Kompetensi santri tidak terlepas dari Pondok Pesantren tempat mereka menempa ilmu. Tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama bahwa jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di sesluruh Indonesi, menapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren(Kemenag data 2011)

Baca juga :  Coaching Motivation, Ikhtiar Gapai Sukses

Jumlah tersebut terus bertambah setiap tahunnya. Jumlah santri ini merupakan potensi yang luar biasa dan dapat menghasilkan dampak besar bagi pembangunan bangsa jika program dan kegiatan para santri dikelola dengan sistem yang baik.

Maka, selain menerapkan idenya dalam mengembangkan Yayaysan Al-asy’ariyyah dari luar atau pembangunan, beliau juga menekankan perlunya penguasaan bahasa untuk bisa menjelaskan isi dan kandungan al-Qur’an kepada masyarakat luas atau internasional. Para santri di Yayasan Al-asy’ariyyah  telah mempraktikan pengembangan bahasa yang di terapkan. Contohnya, bahasa arab, inggris, jawa kromo, indonesia, dan lain-lain. Beliau juga mendirikan Korps Dakwah Santri (KORDASA) ynag bertujuan untuk meningkatkan kualitas santri dalam bidang dakwah atau menyiarkan agama islam. KODASA juga mengabdikan diri kepada masyarakat dalam rangka peduli terhadap kondisi sebenarnya yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di bidang sosial keagamaan. Dia antara aktivitas KODASA meliputi: bacaan shalawat, Qiraatul Qur’an, khitobah dengan empat bahasa: bahasa arab, inggris, indonesia, dan bahasa jawa. Serta qosidah dan rebana yang merupakan kesenian islam. Dengan adanya kegiatan itu, akan mendidik para santri untuk bisa berpartisipasi ketika nanti terjun ke dalam masyarakat. Kiai muntaha juga merintis berdirinya Pusat Pengembangan Masyarakat(PPM) bersama dengan K.H. MA Sahal Mahfudz dan Adi Sasono.

Para santri perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), agar dapat menjawab  berbagai masalah yang terjadi di masyarakat seperti  pemberdayaan masyarakat , pengentasan kemiskinan, pembangunan karakter yang jujur, berakhlak mulia, motivasi tinggi, tahan malang serta cerdas dan kreatif. Untuk itu, dalam kerangka mengimplementasikan Resolusi Jihad dalam pembangunan bangsa, maka pesantren perlu memperkuat tiga hal penting, yaitu pengembangan kelembagaan pesantren, sumberdaya, dan jaringan pesantren. Santri setulus hati membangun negeri.

*Tulisan juara 1 menulis artikel putri dalam perlombaan Akhirussanah 2019 Ponpes Darul Falah Besongo

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: