Pendidikan Pesantren sebagai Rujukan Karakter Bangsa

IMG_20190706_225647

Sumber : Humas dan Informasi Besongo 2018

Oleh: M. Aulia Rizal F*

 ( Santri Besongo Asrama B 6 dan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris 2017 UIN Walisongo Semarang )

“ Intelektualitas yang tinggi namun tidak diimbangi dengan moralitas akan menyebabkan berbagai kekacauan dan pelanggaran “ Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag.

Demikianlah, salah satu penggalan kalimat yang saya cuplik dari halaman tengah buletin Al Qalam edisi 7 Pondok Pesantren Darul Falah Besongo. Tentu, kalimat tersebut mengemban suatu makna yang tinggi dan mempunyai daya tarik tersendiri, untuk menafsirkan apa yang hendak dimaksudkan oleh Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

Salah satu background Kiai satu ini telah melampirkan sebuah situasi yang telah terjadi di negeri ini. Tidak jauh dari itu, dalam lingkup yang cukup sempit, contoh dalam lingkuan sekitar kita. Masih kerap kita temui banyak orang yang pintar dan cerdas, akan tetapi disisi lain moral atau akhlaqlah yang ia tidak memiliki. Imbasnya dari permasalah itu, menjadikan ia merasa paling unggul diantara orang – orang di sekitarnya. Pengen menang sendiri dan paling tragisnya tak mempunyai sifat sopan santun.

Semestinya hal semacam diatas tersebut jika diteruskan akan merusak moral penerus bangsa. Mereka akan mencontoh pendahulu – pendahulunya dalam masalah sikap, karena disitulah sisi yang paling menonjol dalam diri seorang. Disinlah perlunya pendidikan karakter dan kesopanan untuk membentuk dan mengimbangi atas kerusakan yang telah terjadi. Agar tidak terus menggerogoti barisan penerus bangsa. Tentunya harapan tersebut tidak serta merta begitu saja, perlu adanya pengimbangan dan pelajaran dari orang yang lebih tua agar tidak memberi contoh perilaku buruk kepada yang lebih muda.

Dalam kondisi semacam itu, Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag. selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, telah mengonsep sedemikian rupa sistem pesantren yang tetap mempertahankan nilai – nilai karakter dan kesopanan melalui aktivitas sehari – hari para santrinya. Mulai dari lingkup pesantren, adanya rasa ta’dhim yang diwujudkan antara santri dengan kiai. Hingga terlihat dari santri yang junior menghormati yang senior, begitupula sebaliknya yang senior menyanyangi dan memeberi contoh yang baik kepada santri yang junior.

Situasi yang tergambar dalam kehidupan pesantren itulah yang perlu diterapkan pada semua orang. Tidak hanya mementingkan diri demi kepintaran atau intelektualitas semata, namun juga perlu bekal akhlaq agar tidak salah tempat dalam memosisikan dirinya. Lantas, bagaiama pesantren mampu membantuk akhlak (Karakter) dan moral para santrinya ?

Pendidikan Pesantren

Sebenarnya, pendidikan ala pesantren menawarkan satu konsep yang jelas dalam penanaman akhlak di setiap santrinya. Menurut penelitian Arifin (2014) tradisi pesantren telah mampu memadukan moralitas ke dalam sistem pendidikan dalam skala yang luar biasa kuatnya. Di dunia pesantren pendidikan karakter bukanlah suatu hal yang baru, sebab sejak dini karakter santri telah dibentuk melalui penguatan pendidikan akhlak. Di lingkup pesantren persoalan akhlak menjadi suatu persoalan yang sangat urgen, sebenarnya pesantren telah lama mendidik santrinya agar memiliki karakter yang dapat diandalkan, seperti karakter bidang keilmuan, karakter bidang akhlak dan karakter bidang sosial.

Sehingga dalam permasalahan di atas, sejarah telah mencatat, kedaulatan Indonesia tak lepas dari peran serta para ulama, kiai, santri dan alumni pondok pesantren. Para pahlawan yang memperjuangkan perlawanan atas penjajahan di mulai dari peluit pesantren. Dikala masyarakat dilanda ketimpangan perbudakan, dikala rakyat berhamburan akibat penjajahan, maka instruksi dari kiai selalu jadi pemersatu untuk mencapai kemerdekaan dan semua itu juga bermula dari petunjuk Sang Kiai.

Perlu diketahui, pendidikan pondok pesantren sebagai pendidikan non-formal juga tidak kalah dengan pendidikan formal pada umumnya, baik dari segi keilmuan pengetahuan umum, agama maupun keteramilan (life skill). Dalam pesantren, santri di ajarkan berbagai macam hal, anatara lain belajar untuk disiplin dan mematuhi peratutan, dengan cara menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab. Dalam ranah disipilin ilmu, santri juga dibekali cara membaca Al – Qur’an dan hadis serta pemahamannya, cara membaca kitab kuning yang merupakan karangan ulama terdahulu, cara berdialog dengan menggunakan bahasa Arab maupun Inggris (billingual), dan lain sebagainya.

Baca juga :  Relasi Fungsional Dalam Keluarga

Terkait dengan ketrampilan Soft Skill, para santri dibekali berbagai macam keterampilan guna menjadi bekal ketika berada di lingkungan masyarakat (lulus dari pesantren). Diantara keterampilan yang diberikan pesantren yakni, menjahit, bercocok tanam, berternak, menyablon, mengelola koperasi, memasak, membuat baki lamaran, flanel, jurnalistik, dan kemampuan soft skill lainnya. Meski tidak semua pondok pesantren memberikan bekal soft skill tersebut, tetapi pondok pesantren sekarang banyak yang memberikan keterampilan untuk membekali santri agar menjadi generasi yang kompeten dan berkarakter.

Membentuk Karakter Bangsa

Jika melihat apa yang telah diterapkan oleh pesantren dalam mendidik santrinya, disitu pesantren mengelola kegiatan yang mengandung segala unsur – unsur pendidikan, sebagai contoh dalam kegiatan yang dilakukan di lingkungan pesantren, terdapat pendidikan kesederhanaan, kemandirian, kesetiakawanan, kebersamaan, kecintaan pada lingkungan dan kepemimpinan.

Maka dari itu, perlunya penerapan proses pendidikan dalam pesantren untuk membentuk karakter bangsa. Hanya negara – negara yang memiliki karakter nasional yang kuat yang siap bersaing ditengah globalisasi. Pesantren sebagai salah satu khazanah kekayaan budaya dan pendidikan di Indonesia yang bisa dijadikan model dalam pendidikan karakter bangsa, hal ini bisa kita lihat dari berbagai hal; Pertama, pendidikan karakter pesantren dalam meningkatkan pemahaman anak didik (santri) terhadap proses belajar yang mencakup perkembangan kognitif dan perilaku. Karena adanya proses interaksi selama 24 jam dan terpantau oleh tenaga pendidik (kiai dan para asatidz).

Kedua, penanaman nilai – nilai moral, atau yang sering disebut sebagai pendidikan karakter dilakukan tidak hanya dengan metode lecturing atau perkuliahan saja, namun melibatkan proses dialektis antara kiai dan para asatidz dengan santri melalui pembahasan kitab – kitab klasik (Kuning) dan perkembangan problem masyarakat yang perlu dijwab sesuai tantangan zaman sekarang (Bahtsul Masa’il).

Ketiga, meskipun tidak menjamin bahwa mengetahui (moral knowing) dapat menjamin perilaku baik, namun paling tidak, santri lebih dapat menimbang apa yang baik untuk dirinya. Dalam hal ini, menguntungkan dalam proses pembelajaran pendidikan karakter agar dapat diarahkan untuk menganalisis dan menemukan sendiri (self discovery). Kemudian juga dapat berguna dalam menemukan kembali karakter bangsa yang perlu dipelihara dengan belajar dari kearifan local dan bermasyarakat langsung dengan penduduk sekitar pesantren.

Beberapa hal yang telah ditunjukkan Pesantren dalam proses pendidikan karakter memberikan pembelajaran pada kita, dan perlunya perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat terhadap beberapa hal; Pertama, menyiapkan suatu lembaga pendidikan yang berkualiatas. Maksudnya adalah mewujudkan suatu lembaga pendidiakn yang mempunyai orientasi character building,  mementingkan pendidikan yang integral, mengembangkan dan meningkatkan potensi anak didik dalam segala aspek kemanusiaan. Pendidikan yang berbasis nilai, melakukan trasformasi kepribadian, akhlak, tingkah laku, pola fikir dan sikap. Bukan hanya mentransfer informasi pengetahuan semata (aspek kognitif) dengan melalaikan aspek afektifdan psikomotorik.

Kedua menyiapkan tenaga pendidik terutama kepala – kepala sekolah yang handal untk merealisasikan tujuan yang telah ditargetkan. Disini tenaga pendidik merupakan ujung tombak bagi keberhasilan tujuan pendidikan. Karena tenaga pendidik dan kepala sekolah yang mencintai tugasnya,mempunyai ruh dan semangat idealisme tinggi, berdedikasi dan mempunyai integritas moral tangguh, mempunyai kecakapan manajerial dan mampu menjadi teladan dalam segala hal bagi anak didiknya.

 Penerapan segala aspek tersebut perlu adanya berbagai dukungan ekstra dari segi lingkungan, masyarakat dan pemerintah. Agar pendidikan karakter yang mencerminkan moral dan perilaku yang baik dapat terealisasikan kepada penerus bangsa. Jadi, generasi bangsa bukan hanya generasi yang berintelektualitas saja, namun juga mempunyai moral supaya tidak menyebabkan kekacauan dan timbul berbagai pelanggaran.

*Tulisan Juara 1 Menulis Artikel Putra dalam perlombaan Akhirusannah 2019 Ponpes Darul Falah Besongo

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: